ANALISIS DATA

Catatan Terpanjang Kecelakaan Penerbangan di Indonesia


Dimas Jarot Bayu

12 Januari 2021, 13.52

Foto: 123RF

Aviation Safety Network mencatat ada 104 kecelakaan pesawat di Indonesia sejak tahun 1945. Jumlah tersebut merupakan kecelakaan penerbangan terbanyak di Asia.


Pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak mengalami kecelakaan pada Sabtu (9/1). Pesawat dengan nomor registrasi PK-CLC tersebut dinyatakan hilang kontak pada pukul 14.40 WIB, sekitar empat menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Insiden pesawat Sriwijaya SJ-182 menambah catatan kasus kecelakaan transportasi udara di Indonesia. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menginvestigasi 334 kecelakaan penerbangan dalam satu dekade terakhir. Jumlah korban meninggal dunia dari seluruh kejadian tersebut mencapai 582 orang. Sedangkan, korban luka mencapai 91 orang.

Berdasarkan jenisnya, KNKT mencatat kasus kecelakaan (accident) berjumlah 126 kasus sepanjang 2011-2020. Lalu, jumlah insiden serius (serious incident) pesawat pada periode yang sama mencapai 222 kasus.

 

Sementara Aviation Safety Network (ASN) mencatat setidaknya ada 104 kecelakaan pesawat di Indonesia sejak 1945. Menempatkan Indonesia di peringkat kedelapan dunia dan peringkat pertama Asia sebagai negara dengan jumlah kecelakaan pesawat terbanyak. Dari seluruh kejadian tersebut, 2.301 orang meninggal dunia. Lalu, 52 orang meninggal dunia di darat akibat kecelakaan pesawat.   

 

 

ASN mengklasifikasikan 21 jenis kecelakaan pesawat di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Keluar dari landasan pacu (runway excursion) menjadi kecelakaan pesawat yang paling banyak terjadi, yakni 16 kasus.

Terbanyak kedua adalah kecelakaan akibat masalah di landasan pacu (runway mishap) dengan 12 kasus. Kemudian, enam kasus kecelakaan akibat menabrak permukaan ketinggian (controlled flight into terrain/CFIT).

Selanjutnya, lima kasus kecelakaan akibat kehilangan kendali (loss of control). Disusul  kecelakaan akibat kerusakan ketika pesawat berada di daratan (damaged on the ground) dan akibat kesalahan di dalam area landasan pacu (runway incursion) yang masing-masing empat kasus.  

Lalu, kecelakaan pesawat akibat pendaratan terpental (bounced landing), pendaratan yang sulit (hard landing), dan pendaratan dengan pendekatan yang tidak stabil (landing after unstabilized approach) yang masing-masing dua kasus.

 

 

Mengapa kecelakaan pesawat di Indonesia kerap terjadi? Bila mengacu laporan KNKT per Juni 2020, penyebab mayoritas kecelakaan pesawat di Indonesia adalah faktor manusia. Persentasenya mencapai 51,38% dari seluruh kecelakaan penerbangan sejak 2016.

Faktor teknis berkontribusi sebesar 14,08% terhadap kecelakaan pesawat di Tanah Air. Lalu, faktor lingkungan menyumbang 7,28%. Sedangkan, 2,28% kecelakaan pesawat disebabkan oleh faktor fasilitas.

Penyebab utama kecelakaan pesawat di Indonesia tak jauh berbeda dengan yang ada di dunia. Mengutip dari flightdeckfriend.com, 55% kecelakaan pesawat di dunia terjadi akibat kesalahan pilot.

Sebaliknya, faktor gangguan mekanis hanya 17% dan cuaca 13% dari total kecelakaan pesawat di dunia. Persentase yang lebih sedikit juga tercatat pada faktor sabotase (8%) dan kesalahan pemandu lalu lintas udara (ATC) atau masalah penanganan darat (7%).  

 

Pelbagai penyebab kecelakaan pesawat tersebut mesti diperhatikan serius untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang. Terlebih Indonesia merupakan negara kepulauan yang membuat transportasi udara menjadi penting dalam pergerakan manusia dan ekonomi.

Hal itu terbukti dari jumlah penumpang angkutan udara yang lebih banyak daripada angkutan laut. Pada 2019, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang pesawat domestik 76,68 juta orang dan penumpang pesawat internasional 18,9 juta orang. Namun, jumlah penumpang angkutan laut sepanjang tahun yang sama hanya 23,9 juta orang.    

Ketika pandemi corona berlangsung pada 2020, jumlah penumpang pesawat tercatat turun signifikan. Walau demikian, jumlahnya tetap lebih besar ketimbang orang yang menggunakan angkutan laut.

BPS mencatat jumlah penumpang pesawat domestik pada Januari-November 2020 tercatat sebesar 28,7 juta orang. Untuk rute internasional, jumlah penumpang pesawat mencapai sebesar 3,59 juta orang. Sementara, BPS mencatat jumlah penumpang angkutan laut pada Januari-November 2020 hanya mencapai 1,2 juta orang.

Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati mengatakan, salah satu langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk meminimalisasi kecelakaan pesawat adalah melakukan audit pemeliharaan pesawat secara tegas.

Arista juga berharap pemerintah bisa rutin melakukan pemeriksaan terhadap lisensi teknisi pesawat. “Serta melakukan pemeriksaan acak dengan turun ke lapangan,” kata Arista dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/1).

Pada kasus SJ-182, misalnya, pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-524 dengan usia terbang 26 tahun. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Kemenhub) 155/2016, batas usia pesawat penumpang adalah 15 tahun. Namun, belakangan Menhub Budi Karya Sumadi justru menghapus aturan tersebut melalui Permenhub 27/2020.

Penghapusan peraturan tersebut menunjukkan pemerintah memang butuh lebih tegas lagi mengaudit pemeliharaan pesawat, seperti halnya pendapat Arista.

Pengamat penerbangan Alvin Lie punya pendapat berbeda terkait isu keselamatan penerbangan di Indonesia. Menurutnya, regulasi, infrastruktur, sistem pelayanan, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) penerbangan dalam negeri sudah jauh membaik dalam beberapa tahun terakhir.

Berbeda dengan kondisi penerbangan Indonesia yang buruk sebelum tahun 2014 dan mendapat larangan terbang dari Amerika Serikat pada 2007-2016. Uni Eropa juga menerapkan larangan serupa pada 2007-2018.

Alvin berpendapat perbaikan tersebut berdampak kepada menurunnya jumlah kasus kecelakaan pesawat sejak 2018 hingga 2020.

Dari data KNKT, kecelakaan pesawat memang menurun dalam dua tahun terakhir. Pada 2018, jumlah kecelakaan pesawat di Indonesia tercatat sebanyak 44 kasus. Angkanya lalu menurun menjadi 30 kasus pada 2019. Pada tahun lalu, KNKT mencatat jumlah kecelakaan pesawat sebanyak 24 kasus.

“Pada tahun 2018, kecelakaan (besar) hanya Lion Air dan itu pun Boeing-737 MAX 8 yang bukan salahnya Indonesia sama sekali. Itu kan barang cacat sejak produksi oleh Boeing,” kata Alvin saat dihubungi Katadata.co.id.

Selain itu, perbaikan ekosistem penerbangan membuat Indonesia mendapatkan peringkat kategori I dari International Civil Aviation Organization (ICAO). Menurut Alvin, hal tersebut menandakan bahwa penerbangan Indonesia sudah sesuai dengan standar keamanan internasional.

“Kita ini sekarang minimal jelek-jeleknya 10 besar terbaik di dunia dalam hal safety (keselamatan). Kok mau ditarik mundur lagi,” ucapnya.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi