Misteri di Balik Kematian Dubes Tiongkok Untuk Israel

Image title
18 Mei 2020, 16:56
Kematian dubes Tiongkok untuk Israel dikaitkan dengan kritiknya terhadap Menlu AS Mike Pompeo.
ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque/File Foto
Pemimpin Tiongkok dan AS makan bersama di ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (1/12). Kematian dubes Tiongkok untuk Israel dikaitkan dengan kritiknya terhadap Menlu AS Mike Pompeo.

Duta Besar atau dubes Tiongkok untuk Israel, Du Wei ditemukan tewas di rumah dinasnya di Tel Aviv kemarin (17/5) pagi. Ia meninggal dalam usia 57 tahun. Melansir media Israel Haaretz, ia ditemukan tewas oleh stafnya.

Meskipun begitu, Juru Bicara kepolisian Israel, Micky Rosenfeld menyatakan belum dapat meastikan penyebab kematian Du. Dugaan sementara adalah karena gangguan penyakit kardiovaskular. Sebab tak ada tanda-tanda kekerasan. Du pun ditemukan meninggal saat sedang tidur.

Du adalah dubes baru yang dikirim Tiongkok ke Israel. Ia datang pada Februari dan harus menjalani karantina selama 14 hari sehubungan dengan protokol covid-19. Sebelumnya ia bertugas di Estonia dan sempat menjadi staf di Kedutaan Besar Tiongkok untuk Uni Soviet pada 1990.

Saat pertama kali datang, seperti dilansir Haaretz, Du berharap dapat memperkuat hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Israel yang selama ini memang baik. Ia pun sempat menyinggung penanganan covid-19 di negerinya.

Menurut Du, rezim Beijing telah sangat serius menangani pandemi tersebut dan mengajak Israel untuk tak terlibat mengkambinghitamkan pihak tertentu atas penyebaran covid-19. Karena, covid-19 adalah musuh semua umat manusia dan dunia harus bertarung bersama.

(Baca: Dubes Tiongkok Ditemukan Meninggal di Rumah Dinas, di Tel Aviv, Israel)

Pernyataan Du ini dianggap sebagai sindiran untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terus menyalahkan Tiongkok sebagai biang pandemi corona. Salah satu pernyataan Trump adalah menyebut covid-19 berasal dari sebuah laboratorium virologi di Wuhan, Tiongkok dan mengklaim memiliki bukti kuat atas hal ini.    

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel, Yuval Rotem mengaku telah berbicara dengan Wakil Duta Besar Tiongkok untuk menyampaikan belasungkawa dan berjanji membantu segala keperluan kedubes Tiongkok.

Akibat kematian Du, Kementerian Luar Negeri Israel pun mendapat telepon dari duta besar di seluruh dunia yang memiliki hubungan diplomatik dengan negara ini. Mereka mempertanyakan penyebab kematian Du dan meminta pemerintah Israel segera memastikannya.

(Baca: AS Perpanjang Larangan Penggunaan Produk Huawei Hingga 2021)

Dikaitkan dengan Kritik ke Mike Pompeo

Ketidakjelasan kematian Du telah menyebabkan spekulasi dan konsipirasi. Melansir The Jerusalem Post, salah satu spekulasi yang mencuat adalah karena kritiknya terhadap Menlu AS Mike Pompeo pada Jumat lalu atau dua hari sebelum kematiannya. Pompeo mengunjungi Israel pada Rabu pekan lalu.

Du, seperti dilansir Haaretz, menyayangkan sikap Pompeo dan pemerintah AS yang terus mengkambinghitamkan Tiongkok sebagai penyebar virus corona. Menurutnya, sikap semacam itu sangat tak jelas atau absurd. Ia pun menekankan bahwa sampai saat ini belum ada penelitian yang komprehensif dari para ilmuwan terkait asal usul covid-19.

Advertisement

Sebaliknya, Du menyebut AS saat ini justru menjadi episentrum penyebaran virus corona di dunia. Membuktikan pemerintahan di sana belum berhasil menekan penyebarannya. Tak seperti pemerintah Tiongkok yang berhasil melandaikan pandemi ini dan telah berangsur membuka pembatasan sosial.

Menurut data John Hopkins University and Medicine pada 18 Mei, tercatat 1.486.742 orang terinfeksi virus corona di AS. Angka ini lebih dari 10 kali lipat angka positif di Tiongkok, yakni 84.054 orang. Tingkat kematian akibat corona di AS pun tertinggi di dunia, yakni 89.564 orang.

Selain terkait corona, Du juga merespons pernyataan Pompeo yang meminta pemerintah Israel membatasi investasi Tiongkok karena bisa mengakibatkan gejolak keamanan. Hal ini merujuk proyek investasi yang sedang akan berjalan di Haifa.

(Baca: Hubungan AS dan Tiongkok Memanas, Rupiah Tertekan 0,13%)

Du, seperti dilansir Haaretz, menyatakan Israel tak perlu khawatir Tiongkok akan menguasai investasi dan berakibat pada gejolak keamanan seperti kata Pompeo. Karena, investasi Tiongkok di Israel sangat terbatas.

“Pada akhir 2018, investasi di Israel hanya menyumbang 0,4 persen dari investasi Tiongkok di seluruh dunia. Begitupun hanya 3% dari investasi asing yang masuk ke Israel,” kata Du.

Du menyimpulkan pernyataannya dengan mengatakan, “kami percaya bahwa teman-teman Yahudi tidak hanya mampu mengalahkan virus corona tetapi juga 'virus politik', dan memilih tindakan yang paling sesuai dengan kepentingannya."

Perkara ekonomi memang menjadi sumber ketegangan antara AS dan Tiongkok beberapa waktu ke belakang, selain corona. Tahun lalu perang dagang di antara kedua negara terjadi. Donald Trump pun terus menekan negara-negara aliansinya untuk membatasi investasi Tiongkok.

Oktober tahun lalu, tekanan diberikan AS kepada Israel untuk menggagalkan investasi Tiongkok. Pada akhirnya departemen keamanan Israel memutuskan untuk mengawasi seluruh proyek investasi Tiongkok, menyusul tekanan tersebut.

(Baca: Trump Ancam Tak Bayar Utang ke Tiongkok, Apa Akibatnya?)

Tiongkok Akan Kirim Tim Investigasi

Terkait hal ini, melansir Channel News Asia, Beijing telah menyatakan akan mengirim tim investigasi ke Israel untuk menyelidiki kematian Du. Tim ini direncanakan datang hari ini (18/5). Perwakilan keluarga pun akan turut dalam rombongan ini.

Selama beberapa hari, tim ini akan melakukan penyelidikan internal dan mengurusi penerbangan jenazah Du kembali ke kampung halaman. Tim ini pun tak akan mengikuti protokol karantina saat kedatangannya, lantaran memiliki perintah khusus.

“Du sepertinya meninggal karena perkara kesehatan biasa, tapi kami perlu memastikannya lebih detail,” kata pejabat Tiongkok yang tak mau disebutkan namanya, kemarin (17/5).

 (Baca: Trump Sebut Punya Bukti Corona Berasal dari Laboratorium Tiongkok

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait