Jurnalisme Data di Media Bisa Tangkal Hoaks saat Pandemi

Global Managing Editor Operations Thomson Reuters, Reg Chua menilai organisasi media massa bisa menjadi sumber informasi terpercaya di tengah maraknya hoaks saat pandemi melalui jurnalisme data.
Cindy Mutia Annur
24 September 2020, 13:24
Global Managing Editor Operations Thomson Reuters, Reg Chua dalam webinar The Power of Data: The Future of Data Journalism yang diselenggarakan Katadata.co.id, Kamis (24/9).
Katadata
Global Managing Editor Operations Thomson Reuters, Reg Chua dalam webinar The Power of Data: The Future of Data Journalism yang diselenggarakan Katadata.co.id, Kamis (24/9).

Global Managing Editor Operations Thomson Reuters, Reg Chua menilai organisasi media massa dan sejenisnya masih dapat menjadi sumber informasi terpercerya di tengah maraknya hoaks serta disinformasi saat pandemi Covid-19. Caranya dengan menerapkan jurnalisme data.  

Praktiknya dengan mengumpulkan sejumlah data terkait satu isu yang bisa membantu jurnalis menyusun informasi secara lebih akurat dan terstruktur. Selain itu, bisa memberikan cara pandang tertentu bagi pembaca.

Chua mencontohkan jurnalisme data membantu sejumlah media menganalisa Covid-19 dari berbagai unsur, seperti jumlah korban terjangkit, meninggal, dan lain sebagainya. Data-data kredibel tersebut membantu masyarakat terhindar dari disinformasi seputar virus Corona. 

Mantan petinggi South China Morning Post ini, pun menilai jurnalisme data berperan penting untuk menghindari bias-bias informasi yang kerap muncul di media sosial seperti Facebook.  

Advertisement

"Jurnalisme data memungkinkan para audiens melakukan cross-check kembali (informasinya). Sehingga semua orang pun berhak untuk menganalisisnya (kebenarannya)," ujar Chua dalam diskusi The Power of Data: The Future of Data Journalism yang diselenggarakan Katadata.co.id,  Kamis (24/9).

Data perkembangan Covid-19 Indonesia bisa disimak dalam Databoks berikut:

Meski demikian, Chua menyatakan media masih mengalami sejumlah tantangan dalam menerapkan jurnalisme data. Salah duanya adalah minimnya data-data mumpuni dan keterbatasan akses memperolehnya. 

Sejumlah media, juga harus berinvestasi untuk menyediakan layanan penyimpanan data dan memperbaiki keterampilan (skill)  para jurnalisnya. "Kurangnya skill juga menjadi tantangan, sebab ini juga merupakan kebutuhan dasar dalam mengadopsi data-data yang akurat," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Chua berbagi tips agar media bisa mengadopsi jurnalisme data. Pertama, mulai mengumpulkan data dari berbagai sumber kredibel yang terbuka aksesnya. Kedua, media dapat mengikuti sejumlah pelatihan dasar data training dari berbagai organisasi, misalnya Investigative Reporters and Editors (IRE) di Amerika Serikat.  

Lalu, Chua merekomendasikan para jurnalis berlatih membuat jurnalisme data dengan cara-cara menarik. Mulai dari membuat narasi serta desain informasi yang memikat, hingga melampirkan data-data yang diperlukan untuk menunjang analisis.

"Selain itu, dengan visualisasi data lainnya pun bisa membuat story telling atau narasi menjadi lebih menarik," ujarnya.

Isolasi terpusat
Isolasi terpusat (Katadata)

 

Reporter: Cindy Mutia Annur
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait