Perekonomian Indonesia mulai bergeliat usai pelonggaran pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di pelbagai daerah dan memasuki fase kenormalan baru atau new normal pada Juni lalu. Namun pertumbuhannya diproyeksi lambat dan tak bisa kembali seperti sebelum pandemi virus corona, setidaknya sampai tahun depan.

Geliat ekonomi terlihat dari angka-angka makro yang membaik dalam pemaparan APBN KiTa oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 20 Juli lalu. Beberapa di antaranya adalah Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, neraca perdagangan, indeks keyakinan konsumen (IKK), dan konsumsi listrik.

Poin PMI manufaktur Juni sebesar 39,1 atau naik 10 poin dibandingkan Mei yang berada di angka 28,6. Menurut Sri Mulyani, angka ini sejalan dengan peningkatan tren global yang hampir menyentuh poin 50. Bahkan poin PMI manufaktur Tiongkok dan Malaysia sudah lebih dari 50 poin.

Membaiknya sektor manufaktur juga terlihat dari data ekspor industri pengolahan di Badan Pusat Statistik (BPS) ppada Juni yang meningkat 15,96% month to month (m-to-m) dibandingkan Mei. Nilainya pada Mei US$ 8,33 miliar lalu meningkat menjadi US$ 9.660,6 juta pada Juni. Perannya terhadap total ekspor selama semester pertama 2020 pun cukup besar, yakni 79,52%. Meski begitu masih terkontraksi 0,41% dibandingkan semester satu 2019.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Shinta W Kamdani kepada Katadata.co.id pada 23 Juli menyatakan, salah satu sektor yang mulai menggeliat lagi adalah industri makanan dan minuman. Penyebabnya adalah sektor ini boleh beroperasi dengan kapasitas maksimum 50% setelah tak beroperasi sama sekali.

Selain itu, pola konsumsi masyarakat menunjukkan kecenderungan mengarah kepada bahan makanan selain produk kesehatan selama masa pandemi. Hal ini terlihat dari hasil survei BPS yang dipublikasikan pada 27 Juni lalu, bahwa konsumsi bahan makanan naik 65,8%. Untuk produk makanan dan minuman jadi pun meningkat 46,1%.

Selengkapnya mengenai pola konsumsi masyarakat selama pandemi virus corona bisa dilihat dalam Databoks di bawah ini:    

 

Sementara itu, neraca perdagangan Juni mencetak surplus US$ 1,26 miliar dan menopang surplus semester pertama 2020 sebesar US$ 5,58 miliar. Nilai lebih ini dipengaruhi oleh membaiknya kinerja ekspor-impor Indonesia pada bulan lalu. Data yang disampaikan Sri Mulyani menyatakan ekspor meningkat 15,09% dibandingkan Mei. Sementara data BPS mencatat total nilai ekspor bulan itu US$ 12,03 miliar.

Dari angka tersebut, penyumbang terbesarnya adalah ekspor non-migas senilai US$ 11, 45 miliar atau tumbuh 15,73% m-to-m. Ekspor non-migas terbesar semester satu tahun ini adalah ke Tiongkok dengan nilai US$ 12,83 miliar atau setara 17,71% dari totalnya. Disusul ke Amerika Serikat dengan nilai US$ 8,59 miliar atau setara 11,86%.

Adapun akumulasi nilai impor pada Juni sebesar US$ 10,76 miliar atau meningkat 27,56% m-to-m dibandingkan Mei yang sebesar US$ 8,44 miliar. Pertumbuhan impor terbesar adalah non-migas sebesar 29,64% dibandingkan Mei dengan nilai US$ 10,09 miliar. Sementara impor migas hanya tumbuh tipis 2,98% m-to-m dengan nilai US$ 677,1 juta.

“Ini menggambarkan kegiatan ekonomi sudah menggeliat,” kata Sri Mulyani.

Poin IKK Juni 2020 sebesar 83,8 dari 77,8 pada Mei yang menunjukkan masyarakat sudah mulai berani mengonsumsi barang. Sri Mulyani menyatakan, penguatan tersebut dipengaruhi ekspektasi terhadap kondisi ekonomi yang membaik. Selain itu, indeks penjualan riil pada Juni tumbuh menjadi -14,4% year on year (yoy) dari -20,6% yoy pada Mei, khususnya pada penjualan makanan dan minuman.

Data tersebut sejalan dengan pernyataan Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan pada 10 Juli, bahwa transaksi pembelian di mal sudah mendekati 50% sejak mulai beroperasi lagi pada 15 Juni lalu. Sumbangan terbesar adalah dari penjualan makanan dan minuman serta kebutuhan pokok.

Selain itu, naiknya permintaan mobil pada Juni juga mendukung data tersebut. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan bulan itu mencapai 14.078 unit atau naik lebih dari tiga kali lipat dari Mei yang hanya 3.705 unit. Meskipun begitu, penjualan mobil masih mengalami kontraksi sebesar 79,98% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencatat 70.326 unit.

Sri Mulyani juga mengatakan sinyal kuat ekonomi bergeliat terlihat dari peningkatan konsumsi listrik pada Juni 2020. Ia menyatakan total konsumsi listrik pada Juni meningkat 5,4% pada Juni. Berbeda dengan Mei yang turun 10,7%. Rinciannya, konsumsi listrik sektor industri naik sebesar 3,7% dibandingkan bulan sebelumnya yang minus 33,1% yang mencerminkan peningkatan produksi barang dan jasa.

Belum Bisa Kembali ke Masa Normal

Pembalikan ekonomi pada masa new normal juga diamini mantan Menteri Keuangan Chatib Basri di laman Facebook pribadinya pada 21 Juli lalu. Pendapatnya berdasarkan data Google Mobility Report yang menunjukkan pergerakan masyarakat mulai bergeliat pada Juni.

Berdasarkan data sama yang Katadata.co.id akses pada 22 Juli, pergerakan masyarakat memang anjlok pada Mei dan meningkat signifikan pada Juni. Pada 26 Mei, kunjungan masyarakat ke ritel dan rekreasi serta tempat kerja anjlok paling dalam sebesar masing-masing -40 dan -70% dibandingkan sebelum pandemi. Namun, pada 30 Juni masing-masing meningkat 21 dan 46% menjadi -19 dan -24%.

Meskipun demikian, Chatib menilai pemulihan ekonomi akan lambat. Ini tercermin dari data sama yang menunjukkan pergerakan masyarakat mulai melandai memasuki Juli. Per 17 Juli atau termutakhir saat itu, pergerakan masyarakat ke ritel dan rekreasi -17% dan ke tempat kerja -22% dari sebelum pandemi. Ini menunjukkan hanya terjadi peningkatan 2% dibandingkan data 30 Juni.  

Tren Google Mobility Reports selengkapnya bisa dilihat dalam Databoks di bawah ini:

 

Selain itu, menurut Chatib, protokol kesehatan yang tetap harus berjalan selama new normal berimplikasi pada belum bisanya ekonomi kembali secara cepat. Ia memisalkan protokol menjaga jarak yang berimplikasi pada terbatasnya akuisisi konsumen. Akibat protokol ini maskapai penerbangan belum bisa mengangkut penumpang secara penuh.

Kementerian Perhubungan memang menyaratkan penumpang pesawat maksimal 70%. Dalam praktiknya, okupansi pesawat lebih rendah dari itu. Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra pada 8 Juli lalu menyatakan peningkatan okupansi maskapainya baru 16% setelah PSBB transisi. Rute ramai seperti Denpasar pun masih sepi lantaran 60% masyarakat masih belum yakin untuk terbang.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi pada 22 Juli lalu menyatakan rata-rata penerbangan sekitar 35% dan jumlah penumpang baru 17% di masa new normal. Meskipun begitu, kondisi ini lebih baik dari Mei yang anjlok 99% dengan jumlah penumpang hanya 75 ribu.

Sektor lain yang masih mengalami okupansi rendah adalah hotel. Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) per 14 Juli menyatakan tingkat keterisian hotel belum naik signifikan. Misalnya, di Jakarta dan Semarang okupansi hotel masih di kisaran 15%; Surabaya, Yogyakarta, dan Medan baru 10%; Makassar sekitar 6%; Batam sekitar 3%; dan Bali yang menjadi salah satu destinasi wisata utama Indonesia hanya 1%. Secara nasional rata-rata okupansi masih 10-20%.

“Dengan kondisi seperti ini maka pemulihan ekonomi akan terganggu atau relatif lambat. Yang survive adalah yang punya nafas panjang,” tulis Chatib.

Pemulihan Membentuk Kurva Nike Swoosh

Hal senada disampaikan Ekonom Senior CORE Indonesia Piter Abdullah. Menurutnya, pemulihan ekonomi Indonesia akan berangsur dalam waktu lama. Ia memproyeksikan penurunan terdalam terjadi pada kuartal kedua tahun ini dengan kontraksi mencapai 3,5%. Sementara kuartal III dan IV akan tumbuh perlahan meskipun negatif.

“Tahun ini kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi minus 2 sampai minus 3%,” kata Piter kepada Katadata.co.id, Rabu (23/7).

Lambatnya pemulihan ekonomi karena konsumsi masyarakat masih berada di zona negatif sebelum pandemi berlalu. Masyarakat yang saat ini di-PHK belum bisa seluruhnya mendapatkan pekerjaan lagi. Sementara stimulus pemerintah kepada warga terdampak pandemi tak bisa mengembalikan pendapatan mereka seperti semula, hanya menjaga tetap bisa hidup layak.

Pemerintah memberikan bantuan sosial tunai kepada 9 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di luar Jabodetabek dengan anggaran Rp 32,40 triliun. Besaran yang diterima seluruh KPM terbagi dua: April-Juni Rp 600 ribu/bulan dan Juli-Desember Rp 300 ribu/bulan.

“Kita tidak bisa mengharapkan orang yang dulu punya gaji Rp 4 juta diganti Rp 600 ribu. Kalau ingin lebih cepat, BLT harus ditambah nominalnya,” kata Piter.

Pernyataan Piter selaras dengan hasil survei Indikator Politik Indonesia periode 13-16 Juli 2020. Persepsi masyarakat terhadap perekonomian rumah tangga membaik di masa new normal, tapi tidak signifikan dibandingkan masa PSBB. Pada Mei, 18,3% masyarakat menyatakan kondisi ekonomi rumah tangganya jauh lebih buruk dibanding sebelum pandemi. Pada Juli atau setelah relaksasi PSBB, angka itu menurun 5,3% menjadi 13%.

Sementara, masyarakat yang menyatakan kondisi ekonomi rumah tangganya jauh lebih baik dibandingkan sebelum pandemi pada Mei sebesar 1,6%. Angka ini justru turun 0,3% pada Juli menjadi 1,3%. Di samping menunjukkan persepsi tersebut, survei ini juga menyatakan mayoritas responden pada Juli lebih ingin pemerintah memprioritaskan ekonomi ketimbang kesehatan seperti dalam Databoks di bawah ini:

Piter menyatakan, percepatan pertumbuhan ekonomi paling mungkin terjadi pada April-Mei 2021. Catatannya, vaksin sudah bisa diproduksi pada Januari tahun depan seperti pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir pada 21 Juli lalu. Perusahaan yang diproyeksikan memproduksi vaksin pada awal tahun depan adalah Bio Farma dengan kapasitas maksimal 250 juta dosis.

Setelah vaksin mampu diproduksi, kata Piter, seluruh sektor ekonomi akan tumbuh lebih cepat meskipun tidak langsung. Termasuk sektor pariwisata yang menurutnya paling terpukul dan bisa pulih lebih lama. Hal ini karena masyarakat telah kembali kepada kepercayaan diri seperti saat masa normal dan bisnis berjalan seperti semula. Ia pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sampai akhir 2021 sebesar 5%-7%.

“Saya meyakini kurvanya mendakti V, meskipun tidak V tajam. Sekarang seperti lambang Nike Swoosh,” kata Piter.

Terlepas dari produksi vaksin, Piter menilai pertumbuhan ekonomi membentuk kurva logo Nike Swoosh dipengaruhi faktor metode perhitungan statistiknya yang selalu dibandingkan antartahun. Dengan dalamnya kontraksi tahun ini, kenaikan sedikit saja pada 2021 akan membuat persentase pertumbuhannya besar dan membuat kurva meruncing ke atas di akhir periode setelah lama melandai.

Reporter: Agatha Olivia Victoria, Dimas Jarot Bayu