Indonesia semakin dekat dengan resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju ekonomi kuartal kedua 2020 terkontraksi 5,32 % secara tahunan atau year on year (yoy). Namun harapan ekonomi membaik di semester kedua masih ada. Beberapa sektor berpotensi menjadi penggerak usaha, terutama industri pengolahan dan pertanian.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyatakan catatan laju ekonomi kuartal kedua merupakan yang terdalam sejak kuartal pertama 1999 atau ketika krisis moneter. Saat itu ekonomi Indonesia minus 6,13 %. Penyebab kontraksi kali ini adalah anjloknya konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan hampir seluruh sektor lapangan usaha.

Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 57,85 % terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan kedua 2020 minus 5,51 % yoy. Dilihat dari komponen pengeluaran, konsumsi restoran dan hotel paling terpukul 16,53 %. Hanya komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga serta kesehatan dan pendidikan yang tumbuh positif meskipun melambat, masing-masing 2,36  dan 2,02 %.

Dari 17 sektor lapangan usaha, sepuluh sektor mengalami kontraksi, enam sektor melambat, dan hanya satu sektor yang meningkat secara tahunan. Sektor transportasi dan pergudangan paling terpuruk dengan minus 30,84 %.

Suhariyanto menyatakan, penyebab anjloknya sektor tersebut adalah imbauan pemerintah untuk bekerja dan sekolah dari rumah. Begitupun akibat larangan mudik Idul Fitri 1441 H dan penurunan aktivitas kargo pada masa pandemi. “Sehingga kontraksi ini terjadi pada semua moda transportasi,” kata Suhariyanto, Rabu (5/8).

Dari subsektornya, angkutan udara yang paling anjlok dengan 80,32 %. Disusul angkutan rel 63,74 %, pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir 38,69 %, angkutan sungai danau dan penyebrangan 26,66 %, angkutan darat 17,65 %, dan angkutan laut 17,48 %.

Kegiatan logistik sebenarnya dilonggarkan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun, anjloknya subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir menunjukkan kebijakan tersebut belum berhasil mempertahankan pertumbuhannya.

Sektor akomodasi dan makanan minuman menjadi yang jeblok setelah transportasi, yakni minus 22,02 %. Secara subsektor, laju penyediaan akomodasi minus 44,23 % dan penyediaan makanan dan minuman minus 16,81 %. Suhariyanto menyebut penyebabnya adalah penurunan jumlah wisatawan, penutupan tempat rekreasi dan hiburan, dan perubahan pola konsumsi masyarakat ke arah memasak di rumah selama pandemi virus corona.

Data BPS yang dirilis Senin (3/8) mencatat kunjungan wisatawan asing pada Juni 2020 hanya 160,28 ribu orang. Angka ini anjlok 88,82 % dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebanyak 1,43 juta orang.

Sektor yang tumbuh melambat adalah pertanian (2,19 %), jasa keuangan (1,03 %), jasa pendidikan (1,21 %), real estat (2,3 %), jasa kesehatan (3,71 %), dan pengadaan air (4,56 %). Sementara sektor informasi dan komunikasi tumbuh lebih baik secara tahunan dari 9,6 menjadi 10,88 %.

Sektor industri pengolahan yang berkontribusi 19,87 % terhadap PDB atau paling besar dari lainnya, tumbuh minus 6,19 %. Namun, beberapa subesktornya melaju positif, yakni: makanan dan minuman 0,22 %; kimia, farmasi, dan obat tradisional 8,65 %; dan logam dasar 2,76%. Sedangkan yang paling terpuruk adalah industri alat angkutan dengan minus 34,29 %.

“Penurunan industri alat angkutan mencerminkan menurunnya konsumsi kelas menengah atas yang terlihat dari penjualan mobil dan sepeda motor,” kata Suhariyanto.

Sektor yang Bisa Diharapkan Pacu Ekonomi

Merujuk data-data tersebut, Suhariyanto menyebut masih ada harapan pertumbuhan ekonomi di semester kedua 2020. Khususnya dari sektor industri pengolahan. Lebih rinci lagi dari subsektor makanan dan minuman serta kimia, farmasi, dan obat tradisional.

Optimisme Suhariyanto kepada industri penglohanan lantaran poin purchasing manager’s index (PMI) Indonesia yang terus meningkat selama tiga bulan ke belakang. Data IHS Markit mencatat PMI Mei 2020 sebesar 28,6, meningkat menjadi 39,1 pada Juni, dan menjadi 46,9 pada Juli. Menunjukkan kegiatan sektor ini terus menggeliat.

Harapan pada industri makanan dan minuman lantaran kontribusinya paling besar terhadap pertumbuhan sektor industri pengolahan. BPS mencatat sumbangannya 6 %. Sementara industri kimia, farmasi, dan obat tradisional diharapkan lantaran pola konsumsi masyarakat selama pandemi virus corona besar, seperti tercermin dalam sruvei BPS di Databoks berikut:

Sebelum survei BPS tersebut keluar, pada April lalu Nielsen telah mencatat 44 % konsumen lebih sering mengonsumsi produk kesehatan. Lalu, 37 % konsumen lebih sering mengasup minuman bervitamin. Perubahan ini tercermin dari belanja iklan vitamin yang meningkat 14 % menjadi lebih dari Rp 90 miliar dan belanja iklan obat batuk meningkat 22 % menjadi Rp 30 miliar.

Ekonom Indef Bhima Yudistira menilai sektor pertanian juga bisa menjadi peluang pemerintah menggerakkan perekonomian meskipun pertumbuhannya di kuartal kedua melambat. Alasannya, selain konsumsi masyarakat masih mengarah ke kebutuhan pokok, serapan tenaga kerjanya juga tinggi. Andil terhadap PDB pun terbesar kedua setelah industri pengolahan dengan 15,46%.

Data BPS mencatat 32 % penduduk atau setara 37,8 juta orang bekerja di sektor ini. Lebih banyak dari perdagangan yang berada di urutan kedua dengan 26,7 juta orang. Selengkapnya dalam Databoks berikut ini:

Serapan tenaga kerja sektor pertanian pun, menurut Bhima, bisa meningkat di masa krisis saat ini ketika korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor formal tinggi. Hal ini karena berkaca pada krisis sebelumnya ketika terjadi PHK di sektor formal, pekerja yang terdampak beralih ke sektor ini. Kemenaterian Tenaga Kerja merangkum karyawan di-PHK dan dirumahkan mencapai 3,05 juta orang dan diproyeksikan 5,23 juta orang. “Ini bisa bisa menjadi buffer terhadap lesunya sektor formal,” kata Bhima kepada Katadata.co.id, Rabu (8/6).

Terlepas dari pendapat Bhima, sektor pertanian pun menunjukkan geliat dari sisi ekspor. Data BPS mencatat nilai ekspornya US$ 0,28 miliar pada Juni atau tumbuh 18,99% pada dibandingkan Mei. Sementara dibandingngkan Juni 2019 tumbuh 34,36%. Sumbangannya terhadap total ekspor sebesasr 2,33%.

Sektor lainnya, kata Bhima, adalah informasi dan komunikasi. Pasalnya, kegiatan bekerja dan sekolah dari rumah masih berlaku sehingga konsumsinya tetap tumbuh. Selain itu, bisa turut menggerakkan ekosistem sektor pengolahan dan perdagangan. Mengingat jual beli barang selama masa pandemi juga lebih banyak terjadi secara digital atau melalui e-commerce.

Pernyataan Bhima selaras dengan data YouGov pada Juni 2020, bahwa 85 % konsumen di Asia Tenggara termasuk Indonesia mulai menggunakan beberapa aplikasi digital dan akan berlanjut memakainya. Media sosial menjadi tempat paling favorit dengan peningkatan penggunaan 36 %, disusul video streaming 32 %, dan e-commerce  28 %.

Selengkapnya bisa disimak dalam Databoks di bawah ini:

Kecenderungan jual beli mengarah ke digital bisa terlihat dari hasil survei SEA Insights pada Juli lalu, bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin meningkat menggunakan media daring. Rincian media daring yang digunakan bisa dilihat dalam Databoks di bawah ini:

 

Lalu, Bank Indonesia per 3 Juli mencatat 3,82 juta UMKM sudah mengadopsi quick response code Indonesia Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran. Detailnya, 2,6 juta usaha mikro, 685,3 ribu usaha kecil, 334 ribu usaha menengah, dan 190,7 ribu usaha besar. Sebanyak 9,3 ribu lembaga donasi sosial pun telah menggunakannya.

Halaman selanjutnya: Permintaan Tetap Jadi Tantangan