BI: Kebutuhan Tinggi, Harga Properti Residensial Naik

Kenaikan harga rumah itu disebabkan kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja
Nur Farida Ahniar
13 Agustus 2014, 19:47
Pameran Properti
Agung Samosir|KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ?  Meski mengalami perlambatan, namun harga properti residensial tetap mengalami kenaikan. Menurut hasil survey Bank Indonesia, indeks harga properti residensial triwulan II/2014 naik 1,69 persen dibanding kuartal I lalu (qtq) sebesar 1,45 persen. Secara tahunan tumbuh 7,4 persen (YoY) atau melambat tipis dibanding tahun lalu yang tumbuh 7,92 persen.

"Tekanan kenaikan harga diperkirakan masih terus berlanjut pada triwulan III/2014," ujar Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistyowati Gedung BI, Jakarta Rabu 13 Agustus 2014.

Kenaikan harga rumah itu disebabkan kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja. Kenaikan harga rumah paling tinggi terjadi pada rumah kecil sebesar 2,09 persen. Sedangkan berdasarkan wilayah, Provinsi Manado tercatat kenaikan tertinggi sebesar 9,54 persen (qtq) terutama untuk rumah tipe besar yang naik 11,13 persen.

Dari sisi penjualan properti residensial, naik 36,65 persen pada triwulan II, dari 15,33 persen (qtq), terutama untuk rumah tipe menengah sejalan masih tingginya kebutuhan terhadap hunian. Peningkatan penjualan ini tercermin naiknya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) pada sebesar 5,93 persen. Pengggunaan KPR masih menjadi sumber pembiayaan dominan bagi konsumen untuk membeli properti residensial, dengan suku bunga rata-rata antara 9-12 persen.

Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan melambatnya pertumbuhan properti komersial disebabkan tingginya harga. 
"Yang kami pantau memang ada perlambatan, karena harga ini sudah mencapai top-nya," ujarnya di tempat yang sama. 

Hal ini juga yang memicu melambatnya industri properti di Jakarta, sehingga investor mulai melirik daerah lain yang potensial dengan biaya yang lebih murah. Terutama untuk daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan pusat wisata sebagai penggerak ekonomi. Jika demikian maka kebutuhan hunian rumah baru maupun perhotelan juga meningkat. Hal itulah yang memicu meningkatnya bisnis properti di luar Jawa, seperti Manado, Makassar, Riau, Balikpapan dan Pontianak.

Reporter: Rikawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait