Harga BBM Naik 2015, Defisit APBN Jadi 1,5 Persen

Dalam Rancangan APBN 2015 besaran defisit diproyeksi di kisaran 1725 persen dari PDB
Nur Farida Ahniar
12 Agustus 2014, 17:58
BBM KATADATA | Arief Kamaludin
BBM KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?  Menteri Keuangan Chatib Basri menghitung jika pemerintah mendatang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 2015, maka defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2015 bisa di bawah 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Dalam Rancangan APBN 2015, besaran defisit diproyeksi di kisaran 1,7-2,5 persen dari PDB.

"Jika subsidi BBM diturunkan, misalnya harga BBM dinaikkan, uangnya untuk mengurangi defisit. Namun bisa juga dipakai untuk membangun infrastruktur sehingga defisitnya tetap 1,7 persen dari PDB," ujar Chatib di Jakarta, Selasa 12 Agustus 2014.

Dia menjelaskan, dengan besaran PDB nasional yang saat ini mencapai sekitar Rp 10.000 triliun, pengurangan defisit sebesar 0,1 persen akan menghemat sekitar Rp 10 triliun. Sehingga jika defisit anggaran diturunkan dari 1,7 persen ke 1,3 persen, maka menghemat 0,4 persen defisit atau sama dengan Rp 40 triliun. 

Jika dilihat dari konsumsi BBM bersubsidi, lanjut Chatib, kenaikan harga BBM Rp 1.000 per liter dengan total kuota sekitar 48 juta kiloliter (RAPBN 2015) akan menghemat anggaran Rp 48 triliun. Penghematan yang lebih besar bisa memungkinkan jika kenaikan harga BBM bersubsidi lebih besar sehingga ekspansi belanja pemerintah baru bisa lebih efektif dan tepat sasaran.
"Tergantung pemerintah nanti ingin membuat defisit 1,7 persen dengan subsidi BBM yang berkurang. Jadi ruang fiskal lebih banyak sehingga alokasi untuk infrastruktur dan pertumbuhan bisa didorong," ujar Chatib.

Pengamat ekonomi Aviliani menilai setelah pemerintah baru terpilih merupakan waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM. Alasannya inflasi Januari hingga Juli yang masih tergolong rendah. Sehingga meski inflasi akan naik tinggi karena imbas kenaikan harga BBM, inflasi di tahun berikutnya akan kembali turun.

Menurutnya kenaikan harga BBM yang bertahap justru akan menaikan harga lebih tinggi. Sebab secara psikologis industri akan menaikan harga secara signifikan saat ada kenaikan harga BBM. "Baru ada isu saja kenaikan harga kan sudah tinggi. Kalau bertahap kenaikannya akan lebih tinggi," ujar Aviliani di kantor Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Jakarta, Senin (11/8).

Ia menilai semakin lama pemerintah menaikan harga BBM, defisit transaksi berjalan akan semakin meningkat. Selain itu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga akan semakin melemah. "Jadi masalahnya akan lebih banyak kalau tidak menaikan harga BBM," tuturnya.

Petrus Lelyemin

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait