Chatib: Jika Capres Setuju, Harga BBM Bisa Naik

Chatib Basri mengatakan opsi kenaikan BBM merupakan kebijakan strategis sehingga perlu dibicarakan dengan pemerintah mendatang
Nur Farida Ahniar
3 Juni 2014, 20:44
chatib basri.jpg
KATADATA/
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Pemerintah tidak mengajukan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014. Namun opsi kenaikan BBM itu bisa diambil jika dua calon presiden yang akan bertarung 9 juli mendatang meminta kenaikan harga BBM.

Kenaikan harga BBM itu salah satu bentuk upaya untuk menekan lonjakan konsumsi dan menjaga defisit anggaran tak melebihi 2,5 persen dari APBN. Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan opsi kenaikan BBM merupakan kebijakan strategis sehingga perlu dibicarakan dengan pemerintah mendatang. 

"Kalau dua kandidat presiden setuju meminta kenaikan BBM, maka bisa dibicarakan dengan  presiden dan pemerintah," ujarnya dalam rapat Paripurna DPR, Jakarta, Selasa 3 Juni 2014.

Kebijakan kenaikan BBM, lanjut Chatib merupakan kebijakan strategis sehingga sulit dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah sendiri telah menetapkan tidak boleh mengambil kebijakan strategis menjelang pemilihan presiden karena bisa menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Namun jjika kandidat dua calon presiden menyetujui opsi ini, maka hal itu bisa dibicarakan lebih lanjut. 
"Bila itu dilakukan saat ini, efeknya bukan untuk pemerintahan sekarang. Makanya saya katakan, bila calon presiden berani memasukkan kebijakan ini dalam programnya, maka pemerintah sekarang akan menaikkan harga BBM," ujar Chatib.

Dalam kebijakan BBM ini, pemerintah mengajukan tambahan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 75 triliun dalam APBN 2014. Subsidi yang semula dipatok sebesar Rp 210,7 triliun akan direvisi dalam APBN-P menjadi Rp 285 triliun.  

Penambahan subsidi BBM itu dipicu depresiasi rupiah yang mencapai Rp 12.000 per dolar AS. Sedangkan asumsi rupiah dalam APBN 2014 dipatok Rp 10.500 per dolar AS. Pembengkakan subsidi BBM juga dipicu gagalnya target lifting minyak yang semula ditargetkan mencapai 870 barel per hari. Dalam APBN-P target lifting minyak diturunkan menjadi 818 ribu barel per hari. 

Reporter: Rikawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait