Jelang Puasa, Inflasi Mei 0,16 Persen

Nur Farida Ahniar
2 Juni 2014, 15:15
inflasi.jpg
KATADATA/ Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2014 sebesar 0,16 persen atau naik dibanding Maret 2014 yang mencatat deflasi 0,02 persen. Naiknya inflasi ini disebabkan kenaikan harga di beberapa kelompok pengeluaran menjelang bulan puasa dan tahun ajaran baru.

"Inflasi Mei 2014 sedikit lebih tinggi. Informasi ini bisa menjadi antisipasi pemerintah menjelang puasa," ujar Kepala BPS Suryamin di Gedung BPS, Jakarta 2 Juni 2014.

Sehingga laju inflasi Januari-Mei 2014 tercatat sebesar 1,56 persen, inflasi tahunan (year on year) mencapai 7,32 persen. Sedangkan untuk laju inflasi inti pada Mei 2014 sebesar 0,23 persen. Sehingga tingkat inflasi komponen inti Januari-Mei sebesar 1,62 persen, dan inflasi inti tahunan sebesar 4,82 persen.

Kenaikan inflasi dikarenakan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks beberapa kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,35 persen. Kelompok perumahan air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,23 persen. Kelompok sandang 0,12 persen. Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,21 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan inflasi yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,15 persen.
"Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, tomat sayur, tarif angkutan udara, bawang merah," ujar Suryamin.

Dari 82 kota, sebanyak 67 kota mengalami inflasi dan 15 kota deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar  yaitu 1,61 persen dan terendah di Tegal dan Kupang sebesar 0,01 persen. Sedangkan kota yang mengalami deflasi tertinggi yaitu Pangkal Pinang sebesar 1,27 persen dan Palembang mengalami deflasi terendah yaitu 0,03 persen.

Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayani, inflasi ini melebihi ekspektasi pasar yaitu 0,11 persen. Namun dinilai wajar mengingat akan memasuki bulan puasa dan lebaran."Ini musiman, dan juga pada April terjadi deflasi karena panen raya," ujarnya kepada Katadata, Senin 2 Juni 2014.

Destry memperkiraan pada Juni-Juli mendatang, akan ada penurunan angka inflasi secara year on year karena pada tahun lalu terdapat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya pada Juli 2014, inflasi diperkirakan kembali ke level yang normal. "Bisa turun menjadi 5-6 persen," tuturnya.

Namun berbeda dengan pendapat ekonom Bank Tabungan Negara Agustinus Prasetyantoko yang memandang pada Juni-Agustus angka inflasi bisa lebih tinggi karena adanya perubahan cuaca. Adanya perubahan itu akan berpengaruh terhadap hasil panen dan selanjutnya berdampak terhadap harga pangan. Pada periode bulan tersebut perlu diwaspadai karena adanya dampak perubahan cuaca. "Itu bisa membuat inflasi lebih tinggi," ujarnya.
 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait