Opini

Jerat Subsidi di Negeri Petrodolar

Pemerintah pekan lalu akhirnya mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi Keputusan ini benar meski tak populer di mata rakyat Ini dikarenakan selama berpuluh tahun rakyat di negeri ini dimanjakan oleh subsidi minyak Tak ada jalan lain demi menyelama

Pemerintah pekan lalu akhirnya mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Keputusan ini benar, meski tak populer di mata rakyat. Ini dikarenakan, selama berpuluh tahun rakyat di negeri ini dimanjakan oleh subsidi minyak. Tak ada jalan lain, demi menyelamatkan anggaran negara, ?pil pahit? itu harus ditelan.

Ada sejumlah alasan yang mendasarinya. Salah satunya, kondisi perekonomian domestik dan global, khususnya di sektor migas, sudah jauh berbeda. Sebuah kenyataan yang tak bisa ditampik bahwa Indonesia kini bukan lagi negeri dengan cadangan minyak berlimpah.

Cadangan terbukti saat ini tinggal 3,6 miliar barel. Jumlah ini bahkan kalah dibanding Malaysia yaitu 5,9 miliar barel, atau Vietnam  4,4 miliar barel. Padahal, jumlah penduduk negeri jiran di perbatasan Kalimantan itu hanya seperdelapan penduduk Indonesia.

Celakanya, di saat cadangan dan produksi minyak menurun, konsumsi BBM justru meningkat. Dari hanya 400 ribu barel per hari pada 1980-an, kini mencapai 1,4 juta barel. Sementara, produksi domestik hanya di kisaran 800 ribu barel per hari. Tak mengherankan, sudah sejak 2005 negeri ini menyandang status pengimpor minyak neto. Dengan kata lain, impor sudah lebih besar dibanding ekspor.

Himpitan itu terasa kian menindih ketika harga minyak dunia terus meroket, yang dalam beberapa tahun terakhir di kisaran US$ 100 per barel. Akibatnya, beban subsidi BBM yang harus ditanggung pemerintah demi mempertahankan kebijakan bensin dan solar ?murah? menjadi kian berat.

Jika harga jual tak segera dinaikkan, subsidi tahun ini ditaksir bakal membengkak menjadi hampir Rp 300 triliun?padahal tujuh tahun lalu hanya sekitar seperlimanya. Di tengah situasi ini, kita pun perlu menelaah ulang kebijakan subsidi BBM, yang oleh sebagian kalangan masih ingin terus dilanggengkan.

Untuk itu, mari berkaca pada dua negara kaya minyak: Venezuela dan Arab Saudi. Keduanya termasuk dalam jajaran negeri paling kaya minyak di muka bumi. Cadangan ?emas hitam? mereka lebih dari 250 miliar barel atau 60 kali lipat Indonesia. Toh, kebijakan subsidi BBM kini juga mulai dipersoalkan di sana, karena dianggap merongrong perekonomian mereka.

Venezuela selama ini menjual BBM dengan harga termurah di dunia. Bensin hanya dibanderol 2 sen dolar AS atau setara Rp 200 per liter. Kebijakan ini ternyata berdampak serius, karena meski memiliki cadangan hampir 300 miliar barel, produksi minyaknya terbilang kecil: hanya 2,4 juta barel per hari.

Rendahnya tingkat produksi itu merupakan buah dari kebijakan Presiden Hugo Chavez yang menasionalisasi perusahaan migas asing, sehingga tidak ada investasi baru untuk melakukan eksplorasi dan ekploitasi.  Sementara itu, konsumsi BBM meningkat lebih dari 40 persen dalam kurun 1999-2012.

Badan Energi Internasional (IEA) menghitung, subsidi yang harus ditanggung pemerintah Venezuela pada 2011 karena tidak menjual BBM sesuai harga pasar, yaitu sebesar US$ 27 miliar (Rp 267 triliun). Persoalannya, seperti dilansir harian the Wall Street Journal, megasubsidi itu menggembungkan utang Venezuela hingga US$ 167 miliar.

Padahal, ketika Chavez mulai berkuasa pada 1999 jumlah utang negeri di Amerika Latin itu hanya seperenamnya. Harga murah juga membuat Venezuela dipusingkan dengan penyelundupan BBM, yang setiap hari disusupkan ke negeri tetangganya, Kolumbia.

Pemerintah Venezuela sebenarnya sudah mulai menyuarakan perlunya pengurangan subsidi BBM. Tahun lalu, Menteri Keuangan Jorge Giordani menyatakan di televisi, penerapan harga murah BBM harus dihentikan. Presiden Chavez pun pada 2009 pernah melontarkan, suatu saat pemerintah harus mengubah kebijakan harga BBM. Namun, hingga ia meninggal, perubahan kebijakan itu tidak terwujud.  

Arab Saudi punya masalah serupa. Pemilik cadangan minyak terbesar kedua di dunia ini (265 miliar barel) menjual bensin dengan harga 12 sen dolar atau sekitar Rp 1.200 per liter. Dengan harga semurah itu, total subsidi yang harus ditanggung negeri petrodolar itu mencapai US$ 61 miliar per tahun atau sepersepuluh dari  PDB Arab Saudi.

Dalam sebuah  konferensi ekonomi di Riyadh, Mei lalu, Menteri Ekonomi dan Perencanaan Arab Saudi Mohammed al Jasser menegaskan, negaranya harus mengurangi subsidi energi yang membebani keuangan negara. Alasannya?sama dengan di Indonesia?subsidi energi sebagian besar dinikmati oleh kalangan kaya. Subsidi pun membuat tingkat produktivitas nasional menjadi rendah.

Imbas buruk lain dari kebijakan subsidi itu?lagi-lagi sama dengan kondisi di Indonesia?transportasi publik tak berkembang baik di sana. Murahnya harga bensin membuat warga Arab Saudi lebih memilih kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi.

Konsumsi minyak pun amat boros. Menurut kalkulasi IEA, konsumsi minyak per kapita Arab Saudi mencapai 35 barel setahun. Padahal, Amerika Serikat cuma 9 barel dan Jepang 5 barel. Arab Saudi juga menduduki peringkat keenam negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia. Padahal, jumlah penduduknya tidak sampai 30 juta.

Badan Atom dan Energi Terbarukan King Abdullah memperingatkan, jika pola konsumsi Arab Saudi tidak berubah, maka pada 2028 tingkat konsumsinya bakal meningkat hampir tiga kali lipat. Melihat tren itu, laporan yang dilansir Citigroup, Inc. tahun lalu bahkan menyebutkan, Arab Saudi pada 2030 sudah akan menjadi net oil importer.

Pengalaman kedua negeri petrodolar itu semestinya bisa menjadi cermin bagi Indonesia untuk segera mawas diri. Apalagi, Indonesia yang kini masih tercatat sebagai penjual bensin termurah ke-14 di dunia, sudah pasti bukan lagi negara kaya minyak. Kita tak bisa terus terlelap dalam tidur panjang, seraya bermimpi tentang era kejayaan bonanza minyak tiga-empat dekade silam.

* * * 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler