Opini

Enam Keuntungan Mobil Murah

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost green car LCGC pada Juli 2013 Tujuannya untuk memacu kemajuan industry otomotif serta meningkatkan daya

Redaksi

KATADATA – Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) pada Juli 2013. Tujuannya, untuk memacu kemajuan industry otomotif, serta meningkatkan daya saing. Apalagi, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN pada 2015.  

Merespons kebijakan tersebut, produsen otomotif pun berbondong-bondong mengembangkan mobil ramah lingkungan. Bahkan, beberapa principals (pabrikan) otomotif menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan jenis tertentu untuk memasok kebutuhan domestic dan pasar ekspor. Lantas, bagaimana kesiapan dan daya saing produk otomotif Indonesia menghadapi pasar bebas ASEAN, berikut ini petikan wawancara Katadata dengan Prijono Sugiarto, Chief Executive Officer PT Astra International Tbk, produsen otomotif terbesar di Indonesia. Artikel ini juga dimuat di buku Made in Indonesia yang diterbitkan pada akhir September 2013 ini.  

Apa dampak kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan yang diterapkan pemerintah baru-baru ini?  

Ini akan memberikan banyak dampak positif, seperti; Pertama, akan menciptakan permintaan baru serta mendorong pertumbuhan pasar otomotif domestik karena akan semakin banyak orang memiliki kemampuan untuk membeli mobil. Kedua, ini akan mendorong pabrikan mobil untuk lebih agresif berinvestasi di Indonesia guna membangun pabrik-pabrik baru untuk memproduksi mobil murah dan ramah lingkungan. Ini juga akan dilakukan oleh Nissan, Suzuki dan Honda. Ketiga, penanaman modal asing yang baru akan menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Bahkan, ini akan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Keempat, ini akan memacu pabrikan mobil untuk membawa teknologi baru, serta membangun fasilitas riset dan pengembangan di Indonesia. Ini juga akan meningkatkan kualitas tenaga kerja di industri otomotif. Kelima, kebijakan ini akan mendorong lokalisasi komponen, yang pada akhirnya akan memperkuat dan mendorong pertumbuhan industri komponen otomotif. Keenam, ini akan meningkatkan citra positif industri otomotif Indonesia karena mobil ramah lingkungan cenderung menghasilkan emisi korban rendah sehingga mendukung pemeliharaan lingkungan secara berkelanjutan.   

Kebijakan mobil murah kerap dikaitkan dengan rencana Indonesia menghadapi pasar bebas di kawasan Asia Tenggara. Bagaimana sebenarnya kesiapan sektor otomotif Indonesia?  

Industri otomotif di Indonesia sebenarnya telah diregulasi sejak tahun 1999 dengan  diberlakukannya kebijakan otomotif oleh pemerintah yang secara substansial mengurangi bea masuk kendaraan dan suku cadang kendaraan. Industri ini selanjutnya juga diliberalisasi dengan dimasukannya industri otomotif di daftar Common Effective Preferential Tariff (CEPT) pada 2002 yang ditandatangani oleh enam negara, yakni oleh Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Isi kesepakatan itu pada dasarnya mengurangi tarif intra-regional sebesar 0-5 persen.  

Hingga saat ini, pemain otomotif yang ada telah memperoleh manfaat skala ekonomi dari  pasar domestik yang besar dan berkembang. Karena itu, beberapa pabrikan otomotif memilih beberapa perusahaan mobil Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar ekspor. Misalnya, Astra International dipilih oleh pabrikan mobil Toyota, Daihatsu dan Isuzu untuk menjadi basis produksi kendaraan.  

Di sisi lain, industri otomotif Indonesia  telah memiliki formasi tenaga kerja terampil akibat alih teknologi dari produsen, serta akumulasi pengalaman produksi untuk jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, industri otomotif ditunjang oleh industri komponen yang juga didukung oleh keahlian, teknologi dan modal dari pabrikan otomotif.  

Apa saja keunggulan produk otomotif Indonesia bila dibandingkan dengan Thailand yang juga menjadi basis produksi otomotif kawasan?

Pasar otomotif Indonesia sejauh ini masih memiliki tingkat penetrasi mobil yang rendah, yakni 40 unit per 1000 penduduk dibandingkan dengan Thailand yang mencapai 140 unit per 1000 penduduk. Ini berarti ruang untuk pertumbuhan masih besar, apalagi didukung oleh populasi yang besar dan terus berkembang, yakni mencapai 250 juta jiwa, serta meningkatnya jumlah kelas menengah.  

Keunggulan lainnya, Indonesia memiliki ketersediaan tenaga kerja murah dan  terampil, serta didukung oleh kuatnya pendukung industri komponen yang mengamankan ketersediaan komponen murah dan berkualitas. Sumber daya alam melimpah juga akan mengamankan pasokan bahan baku untuk industri komponen. Demikian halnya dengan ketersediaan pembiayaan murah dari bank dan perusahaan pembiayaan.  

Apa kendala yang mengancam industri otomotif Indonesia dan perlu segera dibenahi untuk menghadapi persaingan bebas di ASEAN?  

Pertama, Research & Development (R&D) di industri otomotif Indonesia masih relatif muda dan lemah. Tenaga kerja, sistem dan sarana untuk fasilitas R&D sebagian besar dilakukan oleh pabrikan otomotif, sedangkan keterlibatan insinyur lokal masih terbatas. Kedua, infrastruktur yang baik masih kurang, seperti listrik, komunikasi dan jalan tol untuk memastikan konektivitas antar negara dengan biaya logistik yang kompetitif. Ketiga, tumpang tindih peraturan pemerintah dan kebijakannya yang dapat menghalangi investasi asing untuk datang. Keempat, sistem hukum yang lemah dan penegakan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler