Opini

Kiat Mengejar Pendapatan per Kapita US$18 Ribu (2)

Komite Ekonomi Nasional KEN pernah memprediksikan bahwa pendapatan per kapita Indonesia dapat mencapai US 18000 pada 2030 Dengan asumsi kurs Rp 9500 per dolar AS angka itu setara dengan Rp 171 juta per tahun atau Rp 142 juta per bulan

KATADATA ? Komite Ekonomi Nasional (KEN) pernah memprediksikan bahwa pendapatan per kapita Indonesia dapat mencapai US$ 18.000 pada 2030. Dengan asumsi kurs Rp 9.500 per dolar AS, angka itu setara dengan Rp 171 juta per tahun atau Rp 14,2 juta per bulan.

Proyeksi ini tidaklah berlebihan bagi negara Indonesia yang sedang dan terus membangun. Apalagi, melihat tren pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia sejak 2000 hingga 2012, rata-rata tumbuh 29,2 persen per tahun. Bahkan, pada 2012, PDB per kapita Indonesia sudah mencapai US$ 3.557 atau setara dengan Rp 33,8 juta.

Namun, untuk menggapai impian pada 2030 tersebut, tentunya ada tahapan yang akan dilalui. Pada umumnya, pergeseran sebuah negara dari berpendapatan rendah ke negara berpendapatan tinggi akan disertai dengan proses transformasi struktur ekonomi. Transformasi ini mencakup empat proses, yakni proses akumulasi, alokasi, demografi dan distribusi.

Pada artikel pertama, telah dibahas secara khusus mengenai proses akumulasi yang terjadi seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita di Indonesia. Sedangkan, artikel kedua ini akan mengulas lebih mendalam mengenai proses alokasi menyangkut sumber daya antar sektor perekonomian. Proses demografi dan distribusi akan dibahas secara bertahap pada artikel berikutnya.

Proses Alokasi

Proses alokasi ini terlihat dari perubahan struktur menyangkut: (1) permintaan; (2) produksi; serta (3) barang dan jasa yang diperdagangkan antar negara (ekspor-impor). Esensi dari proses alokasi adalah keterkaitan antara perubahan keunggulan komparatif dengan perubahan permintaan suatu negara. Interaksi kedua faktor inilah yang menentukan alokasi sumber daya pada suatu negara.

1. Perubahan struktur permintaan domestik 

Permintaan domestik terdiri dari konsumsi rumah tangga (Cp), konsumsi pemerintah (Cg), investasi swasta (Ip) dan investasi pemerintah (Ig). Karena masalah investasi sudah dibahas dalam proses akumulasi pada bagian 1 sebelumnya, maka topik bahasan ini lebih difokuskan pada konsumsi. Untuk Indonesia, analisis mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga paling tidak biasanya meliputi: (1) perkembangan rasio pengeluaran konsumsi terhadap PDB dan (2) pengeluaran konsumsi untuk makanan dan bukan makanan.

Pada poin (1) dapat disimpulkan bahwa seiring kenaikan pendapatan per kapita, maka rasio pengeluaran konsumsi rumah tangga terhadap PDB akan menurun. Kondisi ini secara implisit menunjukkan adanya peningkatan tabungan masyarakat karena disposable income yang tidak dikonsumsi akan ditabung.

Data Bank Dunia menunjukkan proporsi pengeluaran rumah tangga terhadap PDB menunjukkan kecenderungan menurun dari 61 persen pada 2000 menjadi 59 persen pada 2012. Sebaliknya, rasio tabungan nasional naik dari 25 persen terhadap PDB pada 2000 menjadi 35 persen pada 2012.

Pada poin (2) mengenai pengeluaran konsumsi makanan dan bukan makanan, hal ini tidak dapat dilepaskan dari hasil penelitian empiris Engel pada 1857 yang dikenal sebagai Engel?s Law. Esensi dari Engel?s Law menyebutkan bahwa peningkatan pendapatan per kapita biasanya disertai dengan perubahan pola konsumsi rumah tangga, baik makanan maupun bukan makanan. Proporsi pendapatan rumah tangga yang dikeluarkan untuk makanan menurun sementara bukan makanan meningkat. Bahkan, pengeluaran untuk bukan makanan akan tetap meningkat, meskipun pengeluaran rumah tangga untuk makanan meningkat.

Mengacu pada Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan di Indonesia  mengalami penurunan dari 62,9 persen pada 1999 menjadi 47,7 persen pada 2012. Sebaliknya proporsi pengeluaran untuk bukan makanan meningkat dari 37,1 persen menjadi 52,3 persen pada periode waktu yang sama.

Jika proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan dan bukan makanan dirinci lebih jauh, terlihat penurunan drastis pada kelompok makanan terjadi pada padi-padian/beras dari 16,8 persen pada 1999 menjadi 7,9 persen pada 2012.  Sebaliknya, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan jadi cenderung meningkat dari 9,5 persen pada 1999 menjadi 11,7 persen pada 2012.

Sementara itu proporsi pengeluaran rumah tangga untuk semua kelompok barang bukan makanan cenderung meningkat. Lonjakan terbesar terjadi pada kelompok barang-barang tahan lama seperti mobil dan peralatan elektronik.

Perubahan inilah yang harus menjadi perhatian wirausaha untuk menentukan bidang usaha disamping sumber daya yang dimilikinya. Perubahan ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan investasi yang dilakukan. Inilah yang mencerminkan proses alokasi sumber daya suatu negara dengan mempertimbangkan faktor permintaan domestik.

2. Perubahan struktur produksi

Peningkatan pendapatan per kapita akan mendorong perubahan permintaan barang dan jasa di masyarakat dan pada akhirnya mengubah alokasi sumber daya ke berbagai kegiatan ekonomi. Ini akan mendorong pertumbuhan produksi sehingga berdampak pada perubahan struktur produksi dan ekspor-impor barang dan jasa.

Untuk perubahan struktur produksi, peningkatan pendapatan per kapita biasanya diiringi dengan penurunan kontribusi nilai tambah bruto (NTB) sektor pertanian dan meningkatnya kontribusi NTB bukan pertanian, seperti industri pengolahan terhadap PDB. Penurunan kontribusi pertanian bukan berarti sektor ini tidak berkembang tetapi karena laju pertumbuhannya relatif melambat. Namun, ini juga harus dilihat lebih lanjut apakah penurunan ini terkait dengan kenaikan atau penurunan impor produk pertanian.

Pada dasarnya perubahan kontribusi NTB antar sektor dalam PDB dapat dijelaskan oleh 3 faktor utama : (1) permintaan, (2) perubahan keunggulan komparatif dan (3) pergeseran kegiatan ekonomi.

Perubahan faktor permintaan dapat dihubungan dengan Engel?s Law dan perkembangan teknologi. Hubungan perubahan permintaan dan Engel?s Law sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Sementara itu perkembangan teknologi berdampak negatif terhadap produksi pertanian yang mengandalkan alam terutama terkait efisiensi pemanfaatan hasil alam dan penciptaan barang buatan pengganti hasil alam.

Perubahan keunggulan komparatif adalah akibat proses akumulasi. Physical dan human investment mengakibatkan keunggulan komparatif suatu negara bergeser dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier, yakni dari pertanian dan pertambangan ke industri pengolahan dan jasa.

Faktor ketiga menunjukkan adanya pergeseran kegiatan ekonomi dari yang semula masuk domain pertanian pindah ke bukan pertanian misalkan industri makanan olahan. Selain itu ada kegiatan ekonomi yang semula tidak dihitung dalam PDB menjadi dihitung dan masuk ke bukan pertanian terutama jasa seperti rumah makan.

Data BPS menunjukkan selama periode 2000-2012 kontribusi sektor pertanian terhadap PDB tidak terlalu banyak berubah. Sebaliknya kontribusi industri pengolahan terhadap PDB bukannya mengalami kenaikan tetapi malah turun dari 27,8 persen menjadi 23,9 persen. Bahkan, ada kecenderungan penurunan kontribusi industri pengolahan terjadi baik di industri minyak dan gas maupun bukan migas. Untuk industri bukan migas, hanya subsektor alat angkutan, mesin dan peralatan yang menunjukkan trend kenaikan dari 4,9 persen pada 2000 menjadi 5,7 persen pada 2012.

Selain terjadi penurunan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB, pertumbuhan sektor ini juga lebih lambat dibandingkan pertumbuhan PDB. Dari periode 2000-2012, PDB tumbuh rata-rata 7,4 persen per tahun, sedangkan industri pengolahan hanya tumbuh sebesar 6,1 persen. Dengan kata lain growth elasticity industri pengolahan bersifat tidak elastis karena kenaikan PDB sebesar 1 persen hanya mengakibatkan kenaikan industry pengolahan sebesar 0.8 persen. Padahal di masa lalu, growth elasticity industri pengolahan di Indonesia mampu mencapai sekitar 1,36 persen.

Indikator ini menunjukkan hingga saat ini gejala deindustrialisasi masih berlangsung di Indonesia. Ini harus diwaspadai dan sangat dibutuhkan tindakan koreksi dari pemerintah. Kebijakan pemerintah harus dikembalikan pada perubahan keunggulan komparatif seiring proses akumulasi yang menyertai kenaikan pendapatan per kapita dan tidak semata-mata picking the winner. Tugas pemerintah dan kita bersama tak hanya meningkatkan kembali peranan industri pengolahan terhadap PDB, tetapi juga tercapainya struktur industri yang semakin baik.

3. Perubahan barang dan jasa yang diperdagangkan antar negara

Kenaikan pendapatan per kapita meningkat, biasanya juga disertai dengan kenaikan rasio ekspor hasil industri pengolahan terhadap total ekspor meliputi SITC (Standard International of Trade Classification) 4 ? 8. Selain itu komposisi ekspor hasil industri pengolahan juga berubah sesuai dengan perubahan struktur produksi industri pengolahan. Lall (2001) membagi hasil industri pengolahan menjadi 5 kelompok: (1) resource-intensive, (2) labor-intensive, (3) scale-intensive, (4) differentiated dan (5) science-based.

Dengan demikian seiring kenaikan pendapatan per kapita, komposisi ekspor hasil industri pengolahan bergeser dari resource-intensive dan labor-intensive, yang biasanya menjadi keunggulan komparatif negara sedang berkembang seperti Indonesia, ke scale-intensive, differentiated dan akhirnya ke science-based yang menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi terdepan.

Berdasarkan data UN Comptrade, rasio ekspor hasil industri pengolahan Indonesia cenderung mengalami penurunan dari 61,2 persen terhadap total ekspor pada 2000 menjadi 49.8 persen pada 2012. Selain itu Indonesia masih tetap menggantungkan ekspor manufakturnya pada produk padat sumber daya alam seperti minyak sawit dan padat tenaga kerja tidak terampil seperti garmen yang masing-masing memberikan kontribusi ekspor sebesar 31,6 persen dan 11,6 persen pada 2012.

Ekspor Hasil Industri Pengolahan (Persen Total Ekspor)

Selama periode tersebut, kenaikan rasio ekspor hasil industri pengolahan hanya terjadi pada kelompok produk berbasis sumber daya alam dan skala ekonomi seperti mobil. Peranan produk berbasis sumber daya alam pada 2000 sebesar 27,4 persen naik menjadi 31,6 persen pada 2012. Sementara itu kontribusi produk berbasis skala ekonomi naik dari 7,3 persen menjadi 8,3 persen pada periode yang sama. Sebaliknya ekspor produk berbasis diferensiasi permintaan dan teknologi semakin lama semakin menurun. Ini menunjukkan kenaikan pendapatan per kapita di Indonesia tidak diikuti oleh proses pergeseran barang dan jasa yang diperdagangkan antar negara.

Kenaikan pada ekspor produk berbasis skala ekonomi tidak secara otomatis mencerminkan adanya proses pergeseran karena dewasa ini diskusi mengenai perdagangan internasional tidak lagi menekankan pada nilai produk akhir (gross trade flows) tetapi nilai tambah perdagangan (value added in trade).

Studi kasus yang terkenal adalah Ipad buatan Apple Inc. (Dedrick et. al, 2010) yang menunjukkan distribusi nilai tambah di antara perusahaan dan negara yang terlibat dalam proses produksi Ipad. Dari harga ritel Ipad; 25 persen dari harga tersebut dinikmati oleh Apple Inc (USA) sebagai bentuk reward untuk desain, perangkat lunak, kekayaan intelektual, riset pasar dan nilai merek. Sementara itu 25 persen lagi dinikmati oleh perusahaan distribusi dan ritel yang menjual Ipad. Sedangkan, dan 50 persen sisanya melekat pada produk tersebut yang meliputi komponen elektronik seperti hard disc dari Toshiba (Japan) dan memory dari Samsung (Korea) serta tenaga perakit. Kompensasi yang diterima oleh tenaga kerja yang merakit Ipad tidak lebih dari 2 persen dari harga ritelnya.

Kondisi industri pengolahan inilah yang menjadi tantangan bagi pembangunan di Indonesia. Sebab, di sini tidak hanya dibutuhkan program revitalisasi secepatnya baik dari sisi produksi maupun perdagangan, tetapi juga tetapi juga bagaimana memfokuskan pada strategi untuk mengambil nilai tambah yang sebesar-besarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler