Opini

Potensi Indonesia di Tengah Ancaman Krisis

Negaranegara emerging market mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir Namun belakangan ini pertumbuhan ekonomi di negara emerging market mulai melambat di tengah proses pemulihan negara majuLedakan

KATADATA ? Negara-negara emerging market mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, belakangan ini, pertumbuhan ekonomi di negara emerging market mulai melambat di tengah proses pemulihan negara maju.

Ledakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara-negara berkembang sebelumnya disebabkan oleh sejumlah alasan. Pertama, banyak negara emerging market melakukan reformasi di pasar keuangan sejak tahun 1990-an. Kedua, mereka melakukan pembenahan di sektor perdagangan dan investasi sehingga lebih terbuka. Ketiga, ekonomi China mengalami pertumbuhan double digit di kisaran 10-11 persen. Keempat, terjadi lonjakan harga komoditas. Kelima, negara maju melakukan pemangkasan suku bunga.

Namun pertumbuhan negara-negara emerging market saat ini mulai melambat. China misalnya, tidak akan lagi tumbuh hingga 10 persen, namun hanya berpotensi tumbuh 7 persen. China tidak akan terus tumbuh akibat terlalu banyak investasi dan menabung. Hal ini juga berpotensi menjadi problem struktural jika tak segera diperbaiki. Secara keseluruhan, negara-negara emerging market harus menghadapi sejumlah tantangan seperti berakhirnya lonjakan harga komoditas dan berhentinya stimulus Amerika (quantitative easing).

Sebaliknya, pemulihan di negara-negara maju justru terus berlangsung. Ekonomi Amerika Serikat misalnya, diperkirakan akan mengalami pertumbuhan 2,5 persen pada tahun depan, kendati akan menghadapi dua risiko. Pertama, risiko fiskal akibat beban utang yang melampaui plafon dan terkait faktor politik. Kedua, isu penghentian pengucuran stimulus moneter atau quantitative easing.

Apalagi, ada kemungkinan The Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, akan melakukan penghentian stimulus moneter pada Desember atau Januari nanti. Jika itu dilakukan, imbal hasil obligasi Amerika bisa meningkat hingga 3 persen. Ini akan mendorong dana keluar dari negara-negara emerging market. Sedangkan untuk pemulihan

zona euro masih berjalan lambat, yang diperkirakan tumbuh 1 persen.Akibat melambatnya pertumbuhan di negara emerging market, serta kebijakan di Amerika Serikat, potensi krisis bagi negara berkembang tentu ada. Namun, potensi itu tak akan muncul sebesar sebelumnya karena sudah memiliki landasan yang baik. Pertama, negara emerging market memiliki rezim mata uang fleksibel, berbeda dibanding tahun 1990-an. Kedua, sebagian besar negara emerging market mempunyai cadangan devisa dalam jumlah besar. Ketiga, memiliki utang valas yang berkurang. Keempat, rasio utang publik dan swasta tidak besar. Kelima, penerapan regulasi yang prudent terutama sistem keuangan.

Demikian halnya dengan Indonesia. Ekonomi negara ini dipandang lebih baik jika dibandingkan negara-negara lain yang dikenal dengan istilah Fragile Five, yakni lima negara dengan nilai tukar paling rawan terkena guncangan akibat pelarian modal. Kelima negara itu yaitu Brazil, India, Turki, Afrika Selatan dan Indonesia.

Ada beberapa alasan kuat mengapa Indonesia tampak tak separah negara lainnya. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai enam persen dalam beberapa tahun terakhir. Kedua, Indonesia memilik karakter ekonomi yang spesifik. Ketiga, Indonesia memiliki populasi yang besar. Keempat, kebijakan regulator saat ini berorientasi pada pasar dan tergolong prudent. Kelima, rasio utang publik juga rendah (30 persen dari PDB) dan utang swasta yang rendah (25 persen dari PDB). Keenam, permintaan domestik yang kuat.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah dan bank sentral di Indonesia selama ini berada di jalur yang benar. Kebijakan pengetatan moneter dengan cara menaikkan suku bunga dan memperlambat pertumbuhan kredit guna mengontrol inflasi dan mengatasi masalah transaksi berjalan. Sedangkan, kebijakan pengetatan fiskal dilakukan dengan cara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) serta mengelola defisit transaksi berjalan dan defisit APBN. Akibat kebijakan-kebijakan tersebut, ekonomi akan melambat, namun diperkirakan masih bisa mencapai 5,5-5,8 persen. Dan, itu masih lebih baik.

Bahkan, ke depan, Indonesia memiliki potensi meraih pertumbuhan enam persen atau lebih tinggi. Untuk mencapai itu, Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan. Pertama, percepatan pembangunan infrastruktur seperti sektor telekomunikasi dan energi listrik. Kedua, mendorong investasi swasta untuk mencapai pertumbuhan tujuh persen. Ketiga, mengatasi permasalahan buruh yang berkembang. Keempat, membuka perdagangan lebih terbuka dan menciptakan iklim investasi yang baik.

Kelima, pemberantasan korupsi. Keenam, meningkatkan kemudahan bisnis dan mengurangi birokrasi pemerintah. Ketujuh, penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Kedelapan, meningkatkan belanja sosial seperti pendidikan, infrastruktur publik sehingga subsidi energi bisa dikurangi. Kesembilan, meningkatkan kedalaman pasar. Sepuluh, melakukan investasi di bidang sumber daya manusia secara jangka panjang. Pasalnya SDM merupakan modal utama untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi.

Jika langkah perbaikan itu dilakukan, pertumbuhan Indonesia bahkan berpotensi lebih tinggi dari China. Jika dibanding India dan China, Indonesia lebih baik karena memiliki pertumbuhan yang seimbang dan kurang bergantung pada ekspor. Indonesia juga memiliki sistem politik yang lebih stabil dan struktur demografi yang lebih baik karena memiliki tenaga kerja muda yang besar.

 

*) Artikel ini disarikan dari paparan Nouril Roubini, Profesor ekonomi dari New York University dalam Mandiri Investment Forum, di Jakarta, Senin 11 November 2013

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler