Wawancara

Registrasi Prabayar Mengubah Drastis Bisnis Telekomunikasi

“Dulu ada natural barrier yang namanya interkoneksi. Sekarang itu sudah tak relevan karena semua bicara data.”

Muchamad Nafi

Joy Wahyudi
Ilustrator: Betaria Sarulina

Dalam sebulan terakhir, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi makin menyedot perhatian publik. Selain pemblokiran secara bertahap hingga 30 April 2018 sesuai aturan tersebut, kewajiban registrasi juga memicu kontroversi menyangkut perbedaan data antara Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan perusahaan telekomunikasi.

Akhir Maret lalu, Direktorat Dukcapil menyatakan jumlah kartu yang terdaftar 351 juta. Namun data operator mencatat hanya 304 juta kartu. Setelah melakukan validasi antara nomor induk kependudukan (NIK), kartu keluarga, dan nomor prabayar, Dukcapil tetap mencatat ada selisih karena jumlahnya hanya 317 juta. (Baca: Data Registrasi Kartu Prabayar Tak Sinkron, Dukcapil Salahkan Operator).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Rupanya, menurut pemerintah, kisruh ini berhulu pada data ganda di perusahaan telekomunikasi. Di Indosat Ooredoo, misalnya, ada satu NIK untuk mendaftarkan 2,2 juta nomor. Begitu juga di Telkomsel, ada 518.962 nomor dengan satu NIK, lalu XL Axiata dengan 319.251 nomor, Hutchison Tri 83.575 nomor, dan Smartfren 145.868 nomor. “Ternyata untuk stok,” kata President Director & CEO Indosat Ooredoo, Joy Wahjudi.

Bagi mitra operator, menurut Joy, tidak ada yang dilanggar dengan pendaftaran sebanyak itu. Pembatasan satu KTP untuk tiga akun hanya berlaku bagi konsumen yang meregistrasi sendiri. Sehingga, bila hendak menambah kartu keempat harus ke mitra resmi seperti distributor atau outlet. Di luar kontroversi itu, Joy mendukung kebijakan tersebut yang akan mengubah pola bisnis telekomunikasi 20 tahun terakhir yang banyak mengandalkan penjualan kartu perdana.

Dalam wawancara khusus dengan Ameidyo Daud dan Muchamad Nafi dari Katadata pada Selasa pekan lalu, Joy meyakinkan Indosat siap menghadapi perubahan tersebut. Bahkan, regulasi pemerintah ini dianggap sebagai momen tepat dalam transisi besar di industri telekomunikasi dari layanan selular ke data. “Dengan perkembangan saat ini, prospeknya adalah ‘hajar’ luar Jawa.”

Bagaimana perkembangan industri telekomunikasi di 2018?

Dua tahun terakhir, industri ini dalam proses transisi, pindah dari telekomunikasi menjadi lifestyle, dari telepon ke data. Itu dialami seluruh operator, tergantung titik di mana mereka saat transisi. Ada yang mulai lebih awal ada yang belakangan.

Khusus 2018, bertambah lagi situasinya, ada moment of truth-nya yang dimulai sejak regulasi mengenai registrasi kartu prabayar. Mengapa? Kalau registrasi dijalankan dengan benar, harusnya pola industri berubah drastis. Registrasi bukan membatasi tapi membutuhkan kondisi di mana ada ID yang valid.

Apakah registrasi kartu prabayar berdampak terhadap kinerja perusahaan?

Mungkin dalam jangka pendek terlihat buruk tapi long term akan looks good. Biasanya, di industri ini berjualan kartu perdana sebanyak-banyaknya. Ke depan, kalau tidak ada KTP (kartu tanda penduduk), bagaimana jualannya?

Lalu muncul kontroversi satu nomor induk kependudukan (NIK) yang digunakan oleh ribuan bahkan hingga dua juta nomor telepon.

Menurut saya, itu karena kebiasaan lama yang belum berubah. Dalam ekosistem industri ini ada operator, distributor. Saya cek kenapa sampai ada dua juta akun, ternyata buat stok, memakai KTP si A yang kerja di toko. Kata mereka lebih gampang jualannya karena konsumen tidak mau register. Nanti pas orang datang ganti ke ID dia. Ini tingkah pedagang, pola kebiasaan yang belum berubah dengan kondisi 20 tahun sebelumnya. Akhirnya saya blok, tidak masalah.

Dari sisi regulasi tidak menyalahi aturan?

Setahu saya, regulasi Kominfo tidak membatasi. Mereka mitra resmi yang ditunjuk. Mitra resmi itu bisa galery, distributor, bisa juga outlet kecil yang ada ratusan ribu. Mereka punya agreement dengan distributor. Yang dibatasi satu KTP tiga akun itu kalau konsumen melakukan registrasi sendiri. Kalau mau keempat harus ke mitra resmi.

Di wilayah mana saja yang akunnya sampai sampai dua juta?

Kami tidak bisa ngomong saat ini. Cuma, hari ini barang itu sudah tidak ada karena sudah kami blok semua. Karena data-data dari Dukcapil itu data dari Oktober sampai sekarang, yang masuk pasti banyak. Sedangkan yang sudah masuk itu ada yang dijual, tidak diperpanjang, dipakai, atau hilang. (Baca juga: Registrasi Kartu Prabayar Dinilai Tak Berguna).

Tidak ada kekhawatiran data tersebut disalahgunakan?

Penyalahgunaan data bukan dalam ruang lingkup Kominfo. Aturan itu ada pidana sendiri. Kalau data kamu dipakai toko, dia bisa dibilang penyalahgunaan dan pidana. Tapi kalau dia punya outlet lalu dipakai sendiri, bukan penyalahgunaan. Ada risiko bahwa bisa jadi penipuan segala macam, mereka sudah tahu.

RDP Rudiantara Telkom Indosat
RDP dengan Menteri Kominfo Rudiantara, PT Telkom, PT Indosat, dan PT XL Axiata (Antara)

Lalu, di mana posisi Indosat di tengah perubahan tersebut dan kompetisi yang ketat saat ini?

Indosat melihat industri ini akan berubah pada 2018. Pertanyaan besarnya bukan customer-nya mau apa, tapi pola jualannya berubah. Biasanya jualan kartu perdana. Kartu perdana kita setop, sekarang berjualan isi ulang, paket data. Di tahap awal akan ada drop. Tapi itu short term karena akan penyesuaian.

Berapa lama keterkejutan pasar atas perubahan ini?

Sekitar satu semester harusnya sudah rebound. Karena ini registrasi. Belum lagi ada pelanggan yang sampai dipaksa tidak mau registrasi. Semua orang punya lebih dari satu kartu. Saya saja ada tiga. Saat disuruh registrasi, kartu mana yang mau saya daftarkan? Itu juga berdampak dalam terhadap pendapatan operator.

Jadi, apa strategi menghadapi perubahan tersebut?

Kami sudah lakukan sejak awal tahun untuk setop (produksi kartu perdana). Kami sudah ambil keputusan yang jangka pendek negatif. Kalau kami teruskan, tinggal menunggu saja, mau negatifnya sekarang atau Juni-Juli. Kami tahu ini pola pasar. Mereka panik, lalu antisipasinya registrasi semua mulai Oktober 2017.

Setelah pergeseran ini, bagaimana kondisi industri telekomunikasi ke depan?

Akan menyusut sementara. Industri ini 20 - 30 persen ditopang oleh perputaran kartu perdana. Itu hilang dengan berlakunya registrasi. Tapi menurut saya ini seperti lompatan di industri, tergantung teman-teman operator yang lain juga. Kalau Indosat sudah clear akan mengikutiya  sebab baik juga bagi industri. Istilahnya kami fix the problem for future growth yang lebih sehat.

Pada 2018 akan makin berfokus pada pengembangan layanan data?

Hari ini semua jualannya sudah data. Tahun lalu saya bilang, kami sudah mulai alami pressure karena semua pindah ke data. Konsumen tidak telepon lagi, malas karena bisa pakai WA call yang sudah masuk paket data.

Opini dan Wawancara Terpopuler