Wawancara

Industri Tekstil Terhambat Diplomasi Perdagangan Bebas

Pan Brothers mampu bersaing dari segi kualitas dan kecepatan produk dengan negara eksportir lainnya.

Dimas Jarot Bayu

Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto
Ilustrator Betaria Sarulina
Wakil Presiden Direktur PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto.

Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mulai menggeliat pada akhir tahun lalu, setelah selama lima tahun terakhir mengalami stagnasi. Ekspor pada 2017 tumbuh 5% dengan nilai US$ 12,4 miliar.

Jumlah itu melampaui target Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) sebesar US$ 11,87 miliar dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) US$ 12,09 miliar.

Pencapaian 2017 ini membuat pemerintah lebih berani pasang target ekspor TPT. Tahun ini, ekspor TPT ditargetkan naik 9% menjadi US$ 13,5 miliar, lalu pada 2019 menjadi US$ 15 miliar.

PT Pan Brothers Tbk merupakan salah satu perusahaan tekstil yang berorientasi ekspor. Sekitar 93% dari produksi 2017 yang mencapai 90 juta helai, dikirim ke luar negeri. Tujuan ekspor mayoritas Asia (56%), selanjutnya Amerika Serikat (2o%), dan sisanya Kanada, Eropa, Australia dan New Zeland.

Pan Brothers menerima pesanan garmen dari berbagai merek terkenal dunia seperti Uniqlo, Adidas, North Face, Salomon, H&M, CK Jeans, Spider, LL Bean, Kathmandu, La Cost, dan Express. Terakhir mereka menerima order dari merek pakaian outdoor Columbia.

“Kami memproduksi untuk 40 merek yang sebagian dari perusahaan yang sama,” kata Vice President Director Pan Brothers, Anne Patricia Sutanto, 45.

Anne merupakan salah satu petinggi perusahaan yang bertumbuh bersama Pan Brothers sejak 1997, saat perusahaan hampir bangkrut dan terjadi perubahan kepemilikan. Peranan penting Anne dalam mengembangkan Pan Brothers membuatnya mendapat anugerah The Most Powerful Women in Asia 2015 versi majalah Forbes.

Dalam wawancara khusus dengan Dimas Jarot dan Yuliawati dari Katadata.co.id pada pertengahan April lalu, Anne mengungkapkan pasar garmen dunia 2018 sangat kompetitif, terutama dalam menghadapi beberapa negara yang telah memiliki perjanjian bilateral dengan negara tujuan ekspor.

Meski tantangan berat, emiten berkode saham PBRX menargetkan kenaikan pendapatan sekitar 15% dibanding 2017 yang mencapai US$ 549,35 juta atau sekitar Rp 7,6 triliun (kurs saat ini).

Apa konsep dan strategi yang diterapkan oleh Pan Brother sehingga mayoritas produk yang dihasilkan berskala internasional?

Pan Brothers berdiri sejak 1980 dengan memulai pabrik dari Tangerang, Banten, berkembang dengan memasok ke international brand. Fokus Pan Brothers itu dulu adalah OEM (Original Equipment Manufacturer, yakni perusahaan memproduksi produk kemudian dibeli oleh perusahaan lain dengan memakai merek dagang dari perusahaan pembeli).

Tapi enam tahun terakhir kami menyediakan desain, ke arah ODM (Original design manufacturer, yakni perusahaan merancang dan memproduksi produk yang kemudian diberi oleh perusahaan lain).

Semua pabrik-pabrik kami telah memenuhi standar internasional mulai dari segi sosial, kesehatan dan teknis. 

Walaupun merek itu asalnya dari Jepang, Eropa, Amerika, tapi standarnya mereka kan standar internasional, mereka minta kami direct shipment ke dunia. Ada yang harus langsung dikirim ke Asia walau merek asal Eropa atau Amerika. Ada juga yang merek Asia harus langsung kirim Eropa, Amerika, atau Australia.

Kami sudah menerapkan standar internasional, itu yang menyebabkan kinerja Pan Brothers terus naik baik dari segi pendapatan mau pun jumlah pembeli.

Apa yang membedakan standar lokal dan internasional?

Sebenarnya tergantung merek karena tiap brand ada spesifikasi DNA-nya. Ada merek lokal yang cukup tinggi standarnya, ada juga yang rendah.

Sebenarnya juga sama dengan brand internasional di luar ada yang standarnya tinggi, ada juga yang standarnya rendah tergantung dari brand DNA-nya sendiri.

Tapi yang jelas international brand yang sudah besar, tersorot secara langsung oleh lembaga lain dalam social, health dan technical compliances. Kami memenuhi standar itu semua. Sementara brand lokal, kesadaran terhadap social, health, dan safety tidak seperti global brand.

Pabrik Konveksi Pan Brothers
Pabrik Konveksi Pan Brothers (Katadata)

 

Gambaran persaingan antar perusahaan tekstil dan garmen yang berorientasi ekspor di Indonesia seperti apa?

Indonesia saat ini hanya memiliki market share dunia 1,7%-1,8%, jauh di bawah Vietnam dan Bangladesh yang masing-masing market share dunia lebih dari 6%. Tiongkok mencapai lebih dari 30%. Sehingga kalau kami melihat kompetisi antara sesama perusahaan tekstil orientasi ekspor di Indonesia itu tidak besar, kami rata-rata dapat melengkapi satu sama lain. Malah menurut saya, kurang banyak pemain di tekstil dan sektor garmen.

Kompetitor ekspor tekstil Indonesia yakni Vietnam dan Bangladesh, apa kelebihan mereka? 

Vietnam sudah menandatangani Free Trade Agreement dengan Eropa, walau belum diimplementasikan karena belum efektif. Bangladesh sudah dapat GSP (Generalised System of Preferences atau penurunan tarif yang dialokasikan kepada negara berkembang) sehingga bila mereka mengekspor ke Eropa tak perlu ada bea impor. Vietnam juga sudah menjadi anggota TPP (Trans-Pacific Partnership), sedangkan Indonesia belum.

Jadi persaingan bukan dari sisi kualitas produk atau kemampuan pelaku bisnisnya, tapi strategi pasar yang terkait dengan perjanjian perdagangan bilateral maupun multilateral. Ini peran pemerintah. Kami ikut mendorong pemerintah untuk konsisten dalam hal Free Trade Agreement ini melalui asosiasi.

(FTA dengan Uni Eropa membuat bea masuk ekspor industri TPT ke Eropa dapat menjadi 0%. Sementara itu tanpa FTA, dikenakan bea masuk ekspor industri TPT sebesar 12%.)

(Baca juga : Perjanjian Dagang Uni Eropa Bakal Naikkan Ekpor Tekstil 3 Kali Lipat)

Apabila pemerintah masih lambat saja membuat perjanjian dagang, dampaknya seperti apa?

Dampaknya negara lain akan mendapat keuntungan lebih besar dibandingkan kita. Saat ini kan sedang terjadi mutasi besar-besaran di industri dari Tiongkok ke negara lain.

Dari dulu kami mengharapkan dampak tumpahannya bukan hanya ke Vietnam atau Bangladesh, tapi juga bisa ke Indonesia. Tapi Indonesia tak merasakan dampak tumpahannya, karena Vietnam sangat agresif mengambil order dengan dasar Free Trade Agreement.

Apakah dampak mutasi tekstil Tiongkok akan tetap berlanjut?

Kita tahu kan pendapatan per kapita Tiongkok makin lama makin tinggi, sekarang sekitar US$ 8.000 per orang. Otomatis pasokan tenaga kerja ke industri ini di Tiongkok makin lama makin berkurang, atau bila pun ada dengan harga buruh yang tinggi. Pilihannya produsen Tiongkok melakukan super-otomisasi, tapi di industri garmen ini tak segampang itu. Super-otomatisasi itu artinya 100% dengan menggunakan operasional mesin,  artinya semua pakaian yang diproduksi sama. Itu tak mungkin.  

Setelah mutasi Tiongkok ini pun market share tekstil dan garmen Indonesia masih di bawah 2%?

Kita dari dulu sampai sekarang ini antara 1,7-1,8%, artinya tak ada penambahan berarti.

Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendorong market share dunia lebih besar?

Apabila mau meningkatkan market share menjadi 6% bukan sesuatu yang mustahil. Tapi banyak hal yang perlu dilakukan, salah satunya adalah konsiten mengenai Free Trade Agreement  baik dengan Eropa, Asia Pasifik, atau preventive treatment agreement dengan negara-negara maju yang lain, yang memerlukan hubungan G to G (antar pemerintah), karena ini kan merupakan misi dagang.

Kedua adalah bagaimana pemerintah mendukung secara konsisten dari sisi aturan sebagai industri padat karya dan mendukung pemenuhan tenaga kerja. Saat ini tenaga kerja tidak tepat sasaran dengan industri. Apabila semua bisa dijembatani dengan baik dan konsisten dijalankan, siapa pun yang memerintah Indonesia ini, pengangguran bisa dihindari.

Pengangguran terjadi karena terjadi kesenjangan antara permintaan dan penawaran. Jadi bukan karena tidak ada demand, tapi ada gap yang tidak sesuai. Industri suffer karena kami tak mendapatkan pekerjaan yang tepat, bergitu juga pekerjanya menderita, karena yang mereka pelajari tidak bisa dituangkan di pekerjaannya langsung, mereka harus belajar lagi dari awal. Jadi makna pelatihan selama ini tidak tepat sasaran. Sekolah vokasional itu kurikulumnya harus disesuaikan dengan standar industri tertentu.

Pan Brothers sendiri mengadakan vokasi?

Kami banyak kerja sama dan kolaborasi, memberikan masukan kurikulum kepada Badan Latihan Kerja. Kami juga memberikan pelatihan kepada para trainer sehingga dapat adaptasi terhadap kebutuhan industri.

(Baca juga: Kekurangan SDM, Perusahaan Pan Brothers Bakal Rekrut 10 Ribu Orang)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler