Wawancara

Rekaman Itu Hendak Mendiskreditkan Saya dan Rini

Ari Soemarno menjawab berbagai tudingan mulai dari permafiaan keluarganya di industri migas hingga berbagi fee dalam proyek terminal regasifikasi LNG.

Muchamad Nafi

Ari Soemarno
Ilustrator: Betaria Sarulina

Bukan hanya Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir yang “tersengat” bocornya rekaman pembicaraan keduanya. Nama lain yang terseret yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Direktur Utama PT Pertamina Ari Soemarno, kaka Rini.

Awalnya, dua pekan lalu, dunia maya dihebohkan tersebarnya rekaman telepon Rini dan Sofyan di jejaring media sosial Instagram dan Twitter. Dalam rekaman yang terpotong-potong -setidaknya ada tiga bagian- tersebut, keduanya membahas proyek terminal regasifikasi liquefied natural gas (LNG), termasuk bagian saham PLN dan Pertamina. (Baca: Dirut PLN Buka-bukaan Isi Percakapan dengan Menteri Rini).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Pada salah satu bagian percakapan terdengar suara Sofyan:

“Jadi, minggu ini atau minggu depan saya akan ketemu Pak Ari lagi. Saya akan terang-terangan, Pak Ari, turunlah. Malu saya kalau (PLN) cuma 7,5 persen.”

Di seberang, Rini membalas:

“Menurut saya, PLN dan Pertamina kan off take, tidak mungkin dong kalau kecil. Besok saya ngomong ke kaka saya.”

Atas pembicaraan tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR, Inas Nasrullah Zubir, menyatakan Rini melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Politisi Partai Hanura ini pun berencana memanggil kedua pejabat tersebut untuk meminta klarifikasi atas proyek yang akan dibangung oleh PT Bumi Sarana Migas (BSM), anak perusahaan Kalla Group. (Baca: Kasus Rekaman Rini-Dirut PLN, BUMN Siapkan Bukti untuk Lapor ke Polisi).

Rencana tersebut disambut oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Dia menuding Rini tidak menaati perintah Presiden Joko Widodo. Alasannya, Presiden sudah mengimbau agar BUMN betul-betul menjadi alat negara dalam menjalankan politik ekonomi negara, bukan ekonomi keluarga.

Daryatmo Mardiyanto, sekondan Hasto di PDI P meminta Jokowi mengevaluasi posisi Rini. Kecerobohan Rini dituding bisa memperburuk citra pemerintah, termasuk Jokowi. (Baca: Heboh Rekaman Rini-Sofyan, Solihin Kalla Ungkap Peran Ari Soemarno).

Mendengar berbagai tudingan ini, Ari Soemarno menyatakan rekaman tersebut telah direkayasa sedemikian rupa. Tujuannya untuk menjatuhkan dirinya dan adiknya, Rini Soemarno. “Semua orang juga tahu dari hari pertama Rini diangkat menjadi menteri tiga tahun lalu sudah dikritik,” kata Ari kepada Amal Ihsan Hadian, Anggita Rezki Amelia, dan Muchamad Nafi dari Katadata.co.id, Senin lalu. “Mau diskreditkan saya, adik saya.”

Salah satu yang ramai dari isi rekaman pembicaraan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan Menteri BUMN Rini Soemarno yaitu Sofyan mengatakan akan menemui Anda. Bagaimana ini?

Saya tidak pernah bertemu Pak Sofyan sendiri, selalu dengan tim. Paling tidak, selalu bersama Pak Solihin Kalla (CEO Kalla Group, anak Jusuf Kalla). Pak Sofyan tidak pernah menghubungi saya secara pribadi. Saya tidak mengerti kenapa dia bilang begitu. Saya juga tidak punya nomor telepon dia.

Tapi dia tahu nomor telepon Anda?

Mungkin saja. Saya kenal Pak Sofyan lama. Dia jadi Dirut BRI, saya Dirut Pertamina. Tapi dalam hal ini, saya tidak ada proyek apapun terkait PLN. Saya beretemu di proyek Bojonegara selalu dengan tim. Saya juga bilang ke adik saya (Menteri Rini), tidak pernah bertemu pribadi, bicara per telepon saja tidak pernah.

Dan di rekaman, setelah itu, Menteri Rini bilang akan menghubungi Anda. Terlaksana?

Tidak ada. Saya tidak mau dia tahu urusan saya. Saya selalu berbicara ke Pertamina, PLN, dengan tim. Dengan Pertamina, saya pernah menghubungi sendiri Bu Yenni (Yenni Andayani, Direktur Gas Pertamina ketika itu), bekas anak buah saya. “Yen, aku heran kenapa Pertamina masuk power, terus PLN supply gas, kan terbalik. Harusnya Pertamina fokus di supply gas, PLN di listriknya. Sekarang,  Pertamina masuk PLTU Jawa 1, bikin pembangkit dan gasnya dari PLN.” Saya kabari juga Menteri BUMN, tapi tidak dijawab rasional. Kalau mau optimalisasi sumber daya, ya masing-masing di keahlian bidangnya.

Contoh di Jepang. Tokyo Gas dan Tokyo Electric bisa menjadi satu, punya terminal bersama meskipun terminal mereka masing-masing ada 2 -3 yang dioperasikan sendiri. Osaka dan Kansai Electric juga begitu. Saya lihat negara lain. Karena saya ada pengalaman menangani ini, kebetulan network saya luas di Tokyo Gas, saya kenal Tokyo Electric. Mereka kliennya LNG Indonesia. Saya kenal semua perusahaan gas Jepang, termasuk pimpinannya.

Saya bisa survive di situ karena menjadi konsultan. Kalau tidak begitu, saya tidak laku. Dengan Korea juga begitu, Kogas. Atau Thai Power, China National Petroleum Corporation (CPC) sama saja. Saya tetap jaga itu karena sadar yang saya bisa jual apa yang ada di otak.

Jadi, (soal rekaman) ini yang saya tidak tahu dipelintir. Apa maksudnya? Mau diskreditkan saya, adik saya, atau keluarga. Sasarannya adik saya.

Atau juga mengarah ke Wakil Presiden Jusuf Kalla?

Mungkin. Pak JK sudah kasih penjelasan begitu gamblang, masih saja orang ngomong. Kalau Pak JK saja tidak dipercaya, mau bilang apa? Pak JK menelpon saya pribadi. “Pak Ari, saya tidak terima ini. Pak Ari bantu kami kok, bantu saya.” Malam dia menelpon saya, besoknya Pak JK langsung bikin keterangan pers . Beliau klarifikasi.

Bagaimana denga tudingan dari anggota DPR, salah satunya Wakil Ketua Komisi VI DPR, Inas Nasrullah Zubir?

Saya juga bingung. Tuh orang tidak pernah ketemu, bicara satu kata pun tidak, kok sampai begitu. Apa nih di belakangnya.

Setelah itu juga ada komentar dari Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bahwa ini ada konflik kepentingan, membawa urusan keluarga ke proyek negara?

PDIP dengan adik saya kan urusn lama. He he …, aku tidak tahulah, aku tidak tahu politik. Jadi, tujuannya (penyebaran rekaman) itu, menduga ada conflict of interest. Rini kolusi keluarga, cari keuntungan. Bottom line-nya itu. Persepsi negatif ditonjolkan, bukan cari klarifikasi dahulu.

Semua orang juga sudah tahu dari hari pertama Rini diangkat menjadi menteri tiga tahun lalu sudah dikritik, permafiaan Ari Soemarno, macam-macam. Ini kelanjutan dari 2014-2015.

Tapi, adik saya mau diberhentikan (dari menteri), bagi saya tidak ada urusan. Bahwa dia adik saya, saya harus membelanya sebagai keluarga, iya. Tapi  secara profesional, saya saja berbeda pendapat terus dengan dia.

Misalnya, dia mengubah nomenklatur (struktur direksi Pertamina), saya bilang ngawur. Dia tidak mengerti bisnis proses distribusi hilir BBM seperti apa. Apa bisa jalan? Saya tidak yakin sama sekali. Saya bekas direktur di situ. Makanya saya bingung, kok tahu-tahu direktur (Elia Massa Manik) diganti. Saya kritik serius, tidak main-main.

Menurut Anda, apa Elia Masaa Manik sudah bisa menangani masalah di Pertamina?

Elia Massa Manik sudah mulai profesional. Dia salah satu direktur yang mengerti migas karena pernah menangani Elnusa. Saya kenal dia lama, orangnya keras, pemikiran manajamennya bagus.

Tapi beredar kabar juga Anda malah di belakang pemberhentian Elia?

Iya, padahal saya belain Masa Manik. Saya bilang, dia menjalani tugasnya bagus, kok baru setahun diberhentikan. Dia mulai bagus acceptability dari teman-teman di dalam Pertamina. Serikat Pekerja Pertamina kadang-kadang masih tanya saya, konsultasi. Saya luruskan, lihat dahulu, kasih kesempatan, jangan langsung (dicopot) nanti gampang dipolitisasi.

Jadi Anda jarang bertemu Rini. Hanya ketika Lebaran saja?

Saya sudah dua bulan tidak bertemu pribadi. Komunikasi WhatssApp pernah. Saya menghindari, saya bilang sama dia, “Rin, gue takut.”

Rini Soemarno
Rini Soemarno (Arief Kamaludin|Katadata)

 Sebetulnya, bagaimana awal mula rencana terminal regasifikasi LNG PT Bumi Sarana Migas di Banten?

Saya orang gas, sudah lama lihat dan baca data bahwa suplai gas di Jawa Barat akan defisit besar. Pada 2012-2013, suplai dari Sumatera masih 1,2 miliar standar kaki kubik (BCF), tapi potensi permintaan bisa di atas 4 BCF. Itu hitungan Dirjen Migas. Tapi dalam perkiraannya, sampai 2020 tinggal 400 juta standar kaki kubik (MMCF) dari Sumatera, lapangan Jabung Gresik.

Itu sudah menghitung pasokan dari sejumlah terminal gas terapung (FSRU), seperti yang di Lampung milik Perusahaan Gas Negara dan Teluk Jakarta milik Nusantara Regas?

Sudah terhitung. Saya bilang FSRU itu mahal, dan itu terbukti. Nusantara Regas, biayanya US$ 2,40 per MMbtu, terus yang di Lampung US$ 3,5 per MMbtu resminya. Masalah lain FSRU, membangunnya cepat tapi untuk memperbesarnya tidak bisa. Untuk memperbesar sama saja beli baru.

Seperti untuk memperbesar kapasitas?

Bikin satu lagi baru. Dan, masa life time lebih pendek karena kapal ada umurnya. Kalau begitu, harus punya yang di darat karena kapasitas bisa di-expand. Kalau diperbesar fasilitasnya, biaya di darat lebih kecil. Itu terbukti di mana-mana: Jepang, Korea, Cina, atau Eropa.

Lalu pada 2013, Krakatau Steel punya pemikiran mau membikin FSRU sendiri. Saya dengar. Jawa Barat tidak perlu FSRU lagi. Kenapa tidak bangun di darat? Permintaan Jawa Barat bisa  diperkirakan lebih 4,5 miliar standar kaki kubik (BCF). Karena ada pengalaman di LNG, saya lalu lihat-lihat tanah di sekitar Banten.

Opini dan Wawancara Terpopuler