Wawancara

Kita Ingin Industri Kreatif Seperti Korea, tapi Tidak Top Down

Sebagian besar pelaku ekonomi kreatif masih rumahan, sebanyak 96,61% belum memiliki badan usaha. Artinya, belum bankable.

Tim Redaksi

Triawan Munaf
Ilustrator: Betaria Sarulina

Seiring dengan pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pemerintahan Presiden Joko Widodo ingin memacu pengembangan ekonomi kreatif di dalam negeri. Bermodalkan keragaman budaya, seperti seni, dan kuliner, geliat industri kreatif diharapkan dapat menopang ekonomi nasional di masa depan. 

Bekraf menargetkan industri kreatif menyumbang lebih dari Rp 1.000 triliun bagi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Berbagai rencana dan langkah dilakukan untuk mencapai target optimistis tersebut. “Kalau kita optimistis mendorong, kita juga punya resources yang cukup, anggaran yang cukup untuk mendorong ini,” kata Kepala Bekraf Triawan Munaf dalam wawancara khusus dengan Tim Katadata.co.id di Jakarta, April lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 45 menit di dalam mobil EV Shuttle dari kantornya di kawasan Monas, Jakarta Pusat, menuju lokasi rapatnya di T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Triawan menguraikan berbagai peluang dan masalah pengembangan industri kreatif. Rekaman video lengkap wawancaranya dapat disimak di kanal Multimedia.

Bagaimana perkembangan ekonomi kreatif?

Sebetulnya ekonomi kreatif itu sudah ada dari dulu. Kalau kita bicara kuliner, kuliner adalah pangan. Lalu, kalau kita bicara fashion, yang kita namakan fashion itu sandang. Semuanya sudah ada. Kita juga punya potensi pasar yang besar di Indonesia, cuma belum diakselerasi oleh sebuah lembaga atau institusi yang khusus dibuat untuk itu. Jadi keberadaan Bekraf, selain memberi gairah kepada setiap pelakunya, juga untuk mulai mendata. Data ini penting.

Selain itu mengidentifikasi tantangan-tantangan yang ada. Kalau kita ingin mengakselerasi sesuatu tapi tidak tahu angka awalnya, susah dong ya. Kita juga khusus mendirikan Bekraf ini untuk menciptakan sistem yang dibutuhkan dari setiap subsektor. Karena itulah orang mungkin heran pada waktu kita menciptakan enam kedeputian di Bekraf.

Ada kedeputian khusus untuk riset, pengembangan dan edukasi. Kedeputian khusus akses permodalan, karena kita butuh mengakses permodalan. Kalau menjadi seorang hackers istilahnya, hackers itu orang yang bisa menciptakan apa-apa yang berkreasi. Tapi kalau tidak ada hasilnya, kalau tidak ada yang memasarkannya, tidak ada yang bisa memberikan wawasan bahwa ini memerlukan modal dan lain-lain, maka tidak akan jalan. 

Lalu, bagaimana menata dan mengembangkannya?

Kami ingin semua subsektor yang ada di ekonomi kreatif ini di-scale up semua. Tapi tidak bisa semua tentunya, dimana-mana tidak bisa semua usaha menjadi pemain-pemain utama. Kami sudah lihat, di media juga ada beberapa. Tapi kalau bisa, setidaknya semua mencoba, setidaknya semua menjadi perusahaan-perusahaan yang teratur dan punya potensi untuk scale up. Kalau sudah scale up, multiplayer effect-nya banyak kepada masyarakat, kepada orang sekitarnya, kepada negara, kepada kesejahteraan kita.

Kita memang ingin cita-citanya ekonomi kreatif yang berdasarkan budaya, semua itu berdasarkan budaya tradisi kita. Itu kekuatan kita dan bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional ke depan. Saya pikir bisa karena melihat tren kenaikan yang luar biasa setiap tahunnya.

Nilai ekonomi kreatif tahun ini diprediksi Rp 1.000 triliun. Apakah prediksi itu bisa tercapai?

Saya optimistis bisa lebih dari itu. Bayangkan saja, tahun 2015 ke 2016 ada kenaikan Rp 70 triliun. Lalu 2016 ke tahun lalu, (data) dari BPS (Badan Pusat Statistik) belum masuk, tapi saya yakin sudah tercapai Rp 1.000 triliun. Nah 2018 ini masa naiknya cuma Rp 41 triliun. Okelah kita sedikit konservatif, sebesar itu. Tapi kita memerlukan angka-angka yang optimistis agar usaha-usaha ini, bukan hanya oleh Bekraf tapi seluruh stakeholder dari ekonomi kreatif  termasuk lembaga-lembaga dan kementerian yang lain, bisa lebih optimistis mendorongnya. Nah kalau kita optimistis mendorong, kita juga punya resources yang cukup, anggaran yang cukup untuk mendorong ini.

Apa yang menjadi tantangan pengembangan industri kreatif?

Besarnya Indonesia merupakan tantangan. Bagaimanapun ekonomi kita itu ekonomi kerakyatan. Jadi ekonomi kreatif yang kita inginkan seperti Korea Selatan. Kita hanya memajukan beberapa bidang, ingin go international segera, tapi tidak bisa. Kita tidak bisa seperti Korea yang top down. Sedangkan kita harus bottom up, mencari potensi-potensi dari bawah yang tidak bisa kita tinggalkan. Kalau ingin memajukan, kita harus memajukan semua. Itu tantangannya.

Lembaga ekonomi kreatif belum bisa dan belum mampu hingga kini menyentuh semua 500 kota/kabupaten di Indonesia. Kita ini semuanya bisa dibantu, karena potensi ekonomi Indonesia ada di semua dan beda-beda potensinya. Karakternya berbeda, potensinya berbeda, karakter pimpinan daerahnya pun berbeda. Ada yang passionate, ada yang kurang punya wawasan bahwa ekonomi kreatif itu suatu bidang yang sangat berpotensi. Jadi, tidak semua punya wawasan itu.

Apa strategi Bekraf untuk menjawab tantangan itu?

Kami sudah mulai secara pararel dengan perkembangan struktur dan anggarannya. Kami tidak bisa terlalu ambisius dan berambisi untuk mengatasi seluruh permasalahan yang ada di ratusan kabupaten/kota. Akhirnya kami memilih dengan kurasi, bukan hanya potensi atau talent dari orang-orangnya tapi juga kemauan kepala daerahnya. Passion, vision dari kepala daerahnya. Kalau kepala daerahya visioner dan mengerti bahwa ekonomi kreatif ini berpotensi, maka akan lebih gampang interaksinya.

Ekonomi kreatif tumbuh konsisten, bahkan di atas pertumbuhan dari sektor kelistrikan, pertanian dan migas. Jadi, berapa besar potensi ekonomi kreatif?

Menurut saya ini masih angka yang konservatif, belum diakselerasi. Terlalu besar potensi Indonesia di bidang ekonomi kreatif. Memang ada talent-talent itu, tradisi budaya, warisan budaya. Tinggal bagaimana menstrukturisasinya, mencari kelemahan-kelemahan yang bisa diperkuat, lalu mengkombinasikan effort itu dengan pemerintah dan para pelaku ekonomi kreatif agar akselerasinya lebih cepat lagi. Semuanya ada, tidak usah membutuhkan sumber daya alam, tidak memerlukan modal yang besar awalnya. Memang pada satu titik nanti kita memerlukan pemodal, sebuah venture capital, mesti ada private equity yang harus membesarkan apapun ide yang dilahirkan. Ide-ide yang dilahirkan ini selalu ada tradisi budayanya.

Bagaimana setelah itu?

Bagaimana seseorang bisa melihat tradisi dan warisan budaya ini menjadi sesuatu yang bisa dipasarkan, bisa dibesarkan, bisa di-scale up. Itu membutuhkan modal. Sedangkan akses permodalan di Indonesia masih sulit. Kami ada deputi akses permodalan, untuk mendapatkan sumber-sumber permodalan dari berbagai pihak termasuk pemodal-pemodal atau pemilik-pemilik uang yang ada di dalam negeri. Sebetulnya ada bidang (industri kreatif) yang sangat cerah, sudah kami perkenalkan.

Apa itu?

Film. Karena juga mengurusi start-up, kami kenal beberapa pemodal venture capital, private equity, yang selama ini tidak tahu bahwa film sangat berpotensi. Kami mengadakan satu forum besar yang diberi nama AKATARA. itu forum film financing. Di situ kami jejerkan proyek-proyek film yang masih dari segi pengembangan scenario. Ada yang sudah shooting tapi kurang dananya, ada yang sudah selesai tapi kurang dana untuk post production atau tidak memiliki biaya promosi. Jadi berbagai macam tahapan dari film-film yang mereka presentasikan, kami adakan display-nya dan ketemukan dengan calon pemodal.

Itu setiap tahun?

Rutin. Ini baru pertama kali, tahun ini akan kami adakan juga.

Bagaimana hasilnya tahun lalu?

Sukses. Dari 40 film yang kami presentasikan dan pertemukan dengan mereka, dapat 10 pemodal. Lumayan kan 25%. Efek positif dari proyek AKATARA itu, orang jadi tahu bahwa film ternyata sangat berpotensi. Return-nya lebih tinggi daripada start-up. Kalau start-up katanya, dari start-up-start-up yang dimodali itu, yang bisa besar sekali itu paling 3-4%, apalagi sampai menjadi 1 miliar dolar AS, unicorn. Nah kalau di film, dari data yang ada 13-14% kesuksesannya.

Selain film, apa saja subsektor industri kreatif yang punya potensi?

Ada tiga subsektor yang kami menjadi prioritas karena kami yakin ada dimana-mana namun belum ada pemasukan atau kontribusnya ke PDB. Film, musik, dan apps dan games. Setiap kali kita pakai apps dan games, setiap hari kita mendengarkan musik.

Apakah potensi apps dan games besar dan layak diprioritaskan?

Besar sekali. Kita tidak mau menjadi negara konsumen, kita mau menjadi negara yang menciptakan. Sudah terbukti karya-karya apps dan games Indonesia itu setingkat pemain-pemain dunia. Cuma yang menjadi masalah di musik, games adalah masalah ekosistem. Kita belum punya satu ekosistem musik yang bisa memonetisasi ciptaan. Lagu-lagu kreasi yang bagus-bagus di Indonesia dan sudah diakui, tapi tidak punya sistem untuk memonetisasi sehingga kesejahteraan para penciptanya terbengkalai. Sampai ada database atau big data yang handal, kita akan terus kecewa karena dibajak. Bekraf sedang merintis satu proyek namanya Project Portamento untuk menciptakan ekosistem music big data melalui teknologi.

Apakah sudah bisa diakses?

Belum, programnya sangat rumit. Bukan saja harus dibuat dengan sangat rinci, tapi juga harus mendapat approval dari lembaga-lembaga lain di luar negeri. Karena kita harus resiprokal, musik orang yang diputar di Indonesia kita harus bayar. Musik kita yang ada di luar negeri, apakah itu di Facebook atau di YouTube, harus dimonetisasi oleh kita. Seperti Spotify akan menjadi langganan kita nanti.

Kapan itu bisa berjalan?

Tiga tahun. Dengan itu, seorang pencipta tinggal lihat handphone, “lagu yang saya ciptakan tahun lalu bisa menghasilkan uang berapa, yang harus saya bayarkan berapa?” Pajak yang mesti dibayarkan berapa? Ini bisa dijadikan sumber data untuk perbankan dalam memberikan pinjaman modal usaha.

Bagaimana peluang kita mengadakan konser musik seperti Woodstock Amerika untuk pariwisata di Indonesia?

Memang ini harus dilakukan sejajar dengan pembenahan 10 destinasi wisata. Kalau destinasi wisata itu secara infrastruktur sudah bagus, aksesnya sudah bagus, mudah sekali mengadakan program musik di Indonesia. Bisa diadakan di Toba, bisa di Raja Ampat, banyak sekali...

Kita harus selalu sejalan dengan Kementerian Pariwisata. Karena pariwisata tanpa konten dari kita, its nothing. Apakah orang pariwisata itu hanya melihat pemandangan? Kan mesti ada souvenir, craft, tari-tarian, musik, kuliner. Kita harus kerja sama.

Apa tantangan pengembangan Desain Komunikasi Visual, padahal pertumbuhannya tinggi?

Bekraf sebagai sebuah lembaga yang banyak menangani masalah-masalah estetika, itu cerewet sekali. Kami cerewet sekali kalau font jelek, logo yang aneh, tidak sesuai dengan kelasnya. Misalnya saja Asian Games bulan Agustus ini. Saya gemas sekali pada logo sebelumnya. Saya ingin Asian Games sebagai sebuah event internasional, tapi saat itu sistem identitasnya tidak terlihat dengan sangat baik. Jadi saya minta Kementerian Olahraga, “Pak biarkan kami yang buat (logo) dan kami mengadakan sayembara di antara profesional“.

Bagaimana hasilnya?

Anda lihat maskotnya, standar-standar Asian Games itu sudah internasional. Dengan begitu, banyak orang yang jadi lebih aware, lebih peduli soal visual. Termasuk juga cara berkomunikasi. Brand itu mengatakan kelebihannya apa, karakternya apa, kelasnya apa? Itu sudah semacam komunikasi visual. Itulah yang sekarang semakin marak. Kalau Anda pergi ke daerah, kopi-kopi yang dijual sebagai komoditas, sebagai biji kopi, sekarang mereka sudah didesain. Dikemas dengan baik dengan nama, that’s design komunikasi visual. Jadi hal kecil ini meningkatkan segalanya, economic growth-nya tinggi.

Mengapa kuliner menempati posisi pertama penyumbang PDB industri kreatif?

Kita punya kuliner yang dahsyat, banyak dimana-mana. Kita bicara soto saja, soto itu sudah lebih dari 50 jenis soto dan itu terus berkembang. Kenapa kita mau mengkonsumsi kuliner dari luar? Kuliner kita saja belum habis. Seumur hidup ini berapa jenis soto yang pernah dicoba? Paling 10 (jenis).

Kalau kita mau keluar harus memformulasikannya dengan sangat teratur. Harus punya standar penampilan dari restoran kita di luar (negeri). Standar dari resep-resep, bumbu-bumbu kita. Kalau orang asing, hari ini makan rendang seperti itu maka minggu depan juga harus makan rendang seperti itu.

Apakah Bekraf berperan membantu permodalan pelaku industri kreatif?

Kita sudah merintis ke arah sana, bantuan masih kecil, masih pilot ya. Untuk satu orang itu, antara 175 sampai 200 juta rupiah. Cukup kalau untuk start-up. Tapi itu harus kita kurasi dulu. Idenya apa, terus manajemennya bagaimana, passion mereka. Tujuannya supaya tingkat keberhasilannya lebih tinggi daripada kegagalan.

Pendanaan industri kreatif didominasi oleh modal sendiri, sebesar 92,4%. Bagaimana upaya Bekraf mendorong pendanaan dari luar?

Sebagian besar dari pelaku ekonomi kreatif itu masih rumahan. Di sini ada data bahwa 96,61% dari pelaku ekonomi kreatif belum memiliki badan usaha. Berarti belum bankable, 96,61% itu kan banyak sekali. Inilah yang kita bisa, yang kita bantu untuk mendirikan badan usaha. Kita malah bantu mereka untuk mendirikannya secara gratis. Setelah itu mereka bisa mengakses banyak sumber dana.

Bisa dijelaskan manfaat dari aplikasi Bisma Apps?

Itu sistem informasi, yang merintis untuk keperluan big data.Tapi ingin big data yang betul-betul riil, ada orangnya didasari dari orang yang mengikuti program kita. Sekarang ini sudah terdapat 8 ribu lebih unit usaha.

Pemilik modal bisa melihat-lihat mana yang dapat digandeng. Bahkan mereka bisa kita bantu untuk dijodohkan, ketemu. Sekarang banyak pemilik modal, terutama gara-gara kami  bikin AKATARA itu, banyak yang datang ke saya minta dikenalkan dengan (pelaku industri kreatif) yang berpotensi.

Mengapa banyak start-up yang muncul tapi kemudian tidak bertahan lama?

Akan selalu semakin banyak. Jadi semakin banyak orang yang merintis gagasannya menjadi suatu usaha. Tidak apa-apa, lebih banyak start-up yang timbul, lebih banyak yang akan sukses. Walaupun memerlukan bantuan, mentoring, capacity building supaya leboh sukses. Tapi tidak semua bisa menjadi unicorn. Asal mereka bisa menjadi unit usaha yang profitable, bisa mengembangkan secara bertahap, ya syukur. Tapi kalau bisa jangan stagnan.

Misalnya kedai kopi Tuku yang sudah dipromosikan oleh presiden. Tolong dibesarkan usahanya, cari pemodal supaya bisa seperti pemain-pemain dunia. Karena konsepnya sudah ada, namanya sudah ada, kopi kita punya, potensi kopi dari perkebunan-perkebunan kita yang bermacam-macamitu sudah ada, tinggal melaksanakan. Saya maunya orang-orang seperti Tuku, membesarkan usahanya. Harus berani scale up.

Dengan latar belakang pengusaha, apa tips Anda ke para pelaku industri kreatif untuk sukses?  

Membuka diri lebih luas, berkomunikasi dengan berbagai pihak. Jangan cepat putus asa, lahirkan gagasan-gagasan baru dari yang dilihat dimana-mana. Kombinasikan dengan gagasan-gagasan sendiri. Banyak bermimpi ya, banyak melamun. Jangan takut dan berani untuk gagal karena kegagalan itu justru bisa menjadi pelajaran.

Opini dan Wawancara Terpopuler