Opini

Gagasan Besar Anda Bernilai Kecil

Tidak ada kesempurnaan dalam berbisnis. Mulailah, bahkan jika ide Anda belum sepenuhnya terbentuk atau Anda masih memiliki keraguan.

Matthew Buckland

Entrepreneur dan Pendiri Burn Media Group (Ventureburn.com)

Tech in Asia
Arief Kamaludin|KATADATA

Belum memiliki “ide besar yang orisinil” merupakan salah satu alasan terbesar yang orang berikan untuk tidak memulai suatu bisnis.

Ada kuadriliun gagasan startup di luar sana, tetapi hanya segelintir orang yang mewujudkannya menjadi perusahaan karena kita sering kali tertahan dalam fase pembentukan gagasan dan bisnis kita tidak pernah terjadi. Kita hanya menjadi pembicara besar tanpa tindakan. Mengapa? Mungkin karena rasa takut akan hal-hal asing, keinginan untuk mengendalikan hasil akhir, takut gagal ataupun takut untuk lepas dari gaji adiktif kita.

Pemikiran bahwa “gagasan besar” diperlukan merupakan kesalahpahaman terbesar dalam memulai sesuatu bisnis. Pada kenyataannya, gagasan besar tercipta ketika kita mulai berusaha mewujudkannya. Menyingsingkan lengan baju dan mulai mengeksekusi menjadi yang terpenting, bahkan ketika gagasan itu tidak sempurna atau belum sepenuhnya terbentuk karena kita hanya menjadi ahli dalam sesuatu hal dengan bergelut di dalamnya.

Kebanyakan startup bukanlah berasal dari satu gagasan atau momen eureka, tetapi ribuan keputusan dan gagasan mikro yang saling terkait, berevolusi dari waktu ke waktu membentuk bisnis itu.

Tentu saja, seorang pengusaha harus memiliki pemahaman yang luas tentang arah tujuan yang hendak mereka pilih. Namun pada kenyataannya, bisnis mereka benar-benar berevolusi atau bahkan “berputar” dalam proses mewujudkan, bukan dalam proses bermimpi.

Evolusi Bisnis

Jangan telan mentah-mentah perkataan saya ini, sejumlah perusahaan internet terkenal bernilai miliaran dolar saat ini telah berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda dengan tujuan awalnya.

Twitter bermula dari sebuah platform podcast bernama “Odeo” dan kemudian menjelma menjadi layanan micro-blogging Twitter yang kita kenal sekarang. Batasan 140 karakter pada awalnya didasarkan pada anggapan bahwa cuitan itu serupa dengan SMS yang hanya diperbolehan untuk karakter terbatas.

YouTube lahir sebagai situs kencan video dengan slogan “Tune in, Hook up”, tetapi tidak pernah mampu berkembang. Pendiri aplikasi ini segera menyadari bahwa hal yang lebih menarik untuk dikembangkan adalah konten yang dihasilkan para penggunanya dari kehidupan sehari-hari mereka.

Instagram bermula dari aplikasi game check-in hybrid yang membingungkan bernama “Burbn”. Para pendiri aplikasi ini akhirnya memilih fokus pada layanan berbagi foto dan menjelma menjadi Instagram yang sangat sukses dan terkenal sekarang ini.

Shopify awalnya diharapkan menjadi toko online yang menjual papan luncur salju bernama “Snowdevil”. Perangkat lunak e-commerce di balik toko online ini menjadi bisnis utamanya, dan kini menjelma sebagai mesin penggerak untuk setengah juta toko online lainnya.

Groupon bermula dari sebuah situs layanan pendukung gerakan sosial dan amal bernama The Point. Groupon hanyalah sebuah fitur yang terdapat di situs tersebut, yang kemudian menjadi bisnis utamanya, dan mengalami perubahan komersial untuk menjadi salah satu marketplace ecommerce tersukses di dunia.

Fokus utama perusahaan di balik Slack – aplikasi komunikasi dan kolaborasi daring yang terkenal di dunia – adalah game online. Perusahaan akhirnya mengabaikan game untuk lebih fokus kepada bagian bisnis mereka yang kita kenal sekarang sebagai Slack dengan jumlah pengguna aktif harian mencapai 8 juta dan pengguna berbayar 3 juta orang.

Airbnb – pada waktu itu bernama airbedandbreakfast.com – awalnya dianggap sebagai sebuah bisnis yang hanya akan menyewakan airbeds, tetapi kemudian berevolusi menjadi perusahaan penyewaan rumah yang berlokasi di seluruh penjuru dunia senilai $ 38 miliar.

Netflix tidak pernah disangka akan menjadi perusahaan streaming dengan jangkauan layanan seluruh dunia. Model bisnis aslinya berupa penjualan dan penyewaan DVD melalui antaran pos. Paypal awalnya dilihat sebagai layanan yang memungkinkan penggunanya melakukan pembayaran menggunakan PDA dan kemudian bergeser sedikit ke bisnis intinya sekarang yaitu pembayaran online.

Sedangkan Google dan Facebook tidak pernah ditujukan untuk menjadi platform iklan online, tetapi pada akhirnya menjelma menjadi seperti itu seiring dengan pertumbuhan model bisnis mereka.

Pelajaran yang bisa kita petik di sini adalah bahwa tidak ada kesempurnaan dalam berbisnis. Mulailah, bahkan jika ide Anda belum sepenuhnya terbentuk atau Anda masih memiliki keraguan. Ini masalah utama yang terjadi di era internet, di mana teknologi berubah dengan cepat. Jadi, apa yang Anda tunggu?

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha