Wawancara

Film Indonesia Terus Tumbuh, Tak Ada Disrupsi untuk Bioskop

Investasi di film itu sebenarnya bukan mencari untung, tapi bagaimana tidak rugi.

Yuliawati

Managing Partner Ideosource Venture Capital Andi S. Boediman
Ilustrator Katadata/Betaria Sarulina
Managing Partner Ideosource Venture Capital Andi Boediman.

Sejak berdiri pada September 2017, Ideosource Film Fund telah mendanai enam film Indonesia. Film kelima dan keenamnya berjudul "Keluarga Cemara" dan "Lagi-lagi Ateng" tayang di bioskop masing-masing mulai 3 dan 10 Januari 2019.

Ideosource Film Fund merupakan anak usaha dari Ideosource Venture Capital, perusahaan modal ventura yang didirikan oleh Andi Boediman dan Edward Ismawan Chamdani pada 2011. Ideosource Venture Capital telah mengucurkan pendanaan US$ 15 juta untuk 27 startup di berbagai bidang mulai dari e-commerce, media digital, games,  dan IoT (internet of things).

Andi merupakan sosok di balik keputusan Ideosurce mendanai film. Ketertarikannya bermula setelah menyaksikan beberapa film Indonesia ditayangkan Hooq, seperti Cek Toko Sebelah dan yang disutradarai Ernest Prakasa, dan Kartini hasil besutan Hanung Brahmantyo.

“Saya merasa kualitasnya sudah sesuai dengan yang saya harapkan, mampu menggabungkan suatu yang sifatnya komersial dan kualitasnya bagus. Saya pun tertarik,” kata Andi dalam wawancara khusus dengan Yuliawati, Desi Dwi Djayanti dan Hindra Kusuma dari Katadata.co.id, pertengahan Desember lalu.

(Baca juga: Akses Modal Terbuka, Film Berkembang Pesat dalam 5 Tahun)

Ideosource telah membiayai beberapa film di antaranya Ayat-ayat Cinta 2, Kulari Ke Pantai dan Aruna & Lidahnya. Berikut petikan wawancara lengkap dengan Andi.

Bagaimana perhitungan investasi film Indonesia?

Perhitungannya seperti ini. Selama 2017, nilai pasar berbagai film yang beredar di Indonesia sebesar Rp 4,5 triliun. Khusus untuk film Indonesia, pasarnya sebesar 35% atau senilai Rp 1,5 triliun dengan jumlah 120 film. Dari angka ini, perkiraan rata-rata satu film perolehannya sekitar Rp 12,5 miliar.

Dari 120 film itu, ternyata jackpot atau sukses dengan satu juta penonton itu hanya 11 film, artinya satu banding sebelas.

Itu jadi dasar menghitung keuntungan untuk investasi?

Jadi setidaknya saya harus berinvestasi kira-kira 10 film. Bila hanya investasi satu film, risiko gagalnya besar. Tapi, bila investasi 10 film, sudah pasti ada satu yang jackpot yang bisa menutupi kerugian ini.  Modelnya adalah melakukan manajemen risiko. Banyak yang berinvestasi di industri film yang tanpa pernah melakukan perhitungan yang matang.

Dari pendapatan Rp 12,5 miliar, berapa biaya produksi untuk satu film?

Pendapatannya kami bagi antara distribusi dan produksi. Distribusi itu dalam arti bioskop, ada 21 Cineplex, CGV, dan Cinemaxx. Sehingga dengan satu film memperoleh Rp 12,5 miliar, pendapatan kami sekitar Rp 6,25 miliar. Apabila mau untung, berarti biaya produksi tak boleh lebih dari Rp 5 miliar. Itu pun sudah termasuk untuk marketing dan produksi.

Dari kacamata biaya, dana Rp 5 miliar itu hanya cukup untuk syuting film horror dan komedi. Sulit untuk membiayai film drama karena sangat berpengaruh dengan durasi syuting. Selain itu aktor, aktris, kru, mulai dari produser, sutradara, semua berdampak langsung terhadap biaya. Film juga harus mempertimbangkan marketing.

Bagaimana proses mendanai film Keluarga Cemara?

Tahun lalu Bekraf mengadakan Akatara, program untuk menjodohkan para film maker dengan investor. Saya merupakan salah satu investor pertama di sana. Bekraf mengumpulkan banyak tim produksi, ada dua proyek film yang membuat saya tertarik.

Yang paling kuat adalah Keluarga Cemara, secara Intellectual Property (IP) itu menarik, lalu saya bertemu dengan produsernya. Saya baca skenarionya, the best script yang pernah saya baca. Idenya strong banget. 

Bagaimana dengan proses pendanaan film Ateng?

Ateng ini adalah salah satu karakter yang sudah cukup legendaris, kebetulan zaman saya kecil nonton filmnya Ateng Iskak. Mungkin orang sudah lupa, tapi setidaknya orang tahu.

Ketika saya baca script yang dibuat oleh Monty Tiwa, ceritanya tentang anak kembar yang terpisah yang satu dibesarkan bapaknya, yang lainnya oleh ibunya. Mereka punya dua karakter yang sangat berbeda. Akhirnya mereka ketemu, dan kemudian ingin mempersatukan orang tuanya kembali. Nah di situ saya lihat, ceritanya sangat bagus. Akhirnya saya memutuskan untuk berinvestasi.

Sebenarnya hal apa saja yang menentukan dalam berinvestasi film?

Ada dua faktor, pertama yang sangat penting berkolaborasi dengan produser dan sutradara yang sudah punya track record. Artinya bukan pertama kali membuat film, karena orang yang pertama kali masih belum tahu secara teknis maupun belum pernah punya pengalaman membuat dan mengkomersialkan film.

Kedua, kami melihat paketnya. Saya melihat dari kacamata penonton, mengapa mau nonton film itu. Jadi IP itu utama banget bagi saya. Selain itu, tergantung aktor, cerita, produser, sutradara dan segala macam.

Bagaimana proses Ideosource mengambil keputusan dalam mendanai film?

Kami punya tim investasi. Kami menghitung risiko dalam berinvestasi. Investasi di film itu sebenarnya bukan mencari untung, tapi bagaimana tidak rugi.

Bila risikonya aman, pasti untung. Makanya bila Anda berinvestasi kepada orang yang tidak fokus dalam mengurus bisnisnya, saat rugi lalu berhenti, ya kamu akan tetap rugi.

Tapi bila kemudian terus keep doing it dengan konsisten kemungkinan untungnya jauh lebih besar daripada kita berinvestasi satu bisnis dan rugi, terus kita berhenti.

Bagaimana tantangan meyakinkan investor untuk berinvestasi di film?

Tidak sulit. Karena film itu sexy, tapi saya mengingatkan: kalau kamu investasi satu film saja pasti rugi. Jadi sebaiknya berinvestasi dalam bentuk portofolio investasi.

Harus ada risk management. Manajemen risiko ini beberapa macam, salah satunya soal investasi minimal 10 film. Kami juga membantu pemasaran,  sponsorship, kemudian distribusi. Jadi, peran kami sebenarnya more than investor. Makanya saya membuat Ideosource Entertainment. 

Seberapa penting pemasaran dalam investasi film?

Menurut saya ini poin yang terlalu banyak diabaikan. Pelaku industri ada dua latar belakangnya yakni marketing dan produksi. Yang berlatar belakang produksi, kurang peduli dengan marketing, dan sebaliknya. 

Nah belajar dari film Hollywood dan Korea, saya menggabungkan antara marketing dan produk. Harus seimbang, itu menjadi salah satu referensi kami. 

Dari film yang sudah didanai, gambaran siklus bisnisnya seperti apa?

Siklus sejak masuk investasi hingga keluar itu 12-18 bulan. Kami kan baru memulai, jadi sebenarnya siklusnya belum penuh. Selain itu ada juga revenue yang di depan. Hingga saat ini siklus bisnis kami belum komplet, belum selesai semuanya.

Bagaimana dengan perkembangan pendanaan startup?

Kami mendanai 27 startup dengan nilai US$ 15 juta. Di antara itu sudah ada yang mati, ada juga yang enggak kemana-mana. Ada juga yang nilainya naik 1,5 kali hingga 17-20 kali lipat.

Ideosource berpengalaman membawa M-Cash sampai berhasil IPO di tahun 2017. Tantangan membawa startup hingga IPO apa saja ya?

Tantangan (perusahaan go public) adalah bagaimana menciptakan persepsi yang positif di publik, kemudian konsistensi atas janjinya. Nah itu susah banget. Saat berjanji dengan satu-dua investor kan berbicaranya kepada satu-dua orang. Tapi begitu kepada publik, yang satu senang, lainnya tidak. Nah itu berat sekali untuk memenuhi janji seperti itu. Janji bisa berupa pendapatan, pertumbuhan dan profit.

Perkiraannya berapa dana investasi untuk film ke depannya?

Target dana (untuk membiayai film) dua tahun untuk 2019-2020 sekitar US$ 13-15 juta. Kami akan berinvestasi di film sampai ke ekosistem, ke IP dan beberapa hal lain.

 

Prediksi bisnis 2019 yang terkait dengan investasi Ideosource?

Dari sisi film luar biasa, pasar film Indonesia tahun 2017 yang mencapai Rp 4,5 Triliun itu sama dengan Tiongkok pada 13 tahun lalu. Ukuran industrinya tak berbeda jauh. Pada saat ini, Tiongkok sudah tumbuh 30 kali lipat bahkan lebih besar dari Amerika. Jumlah bioskop di Tiongkok sebanyak 60 ribu, di Indonesia masih sekitar 1500.

Prediksi saya, pertumbuhan industri film di Indonesia naik sekitar 20% per tahun, jadi industri film layar lebar akan tumbuh dua kali lipat dari sekarang untuk lima tahun ke depan.

Itu belum menghitung media on demand yang ditonton melalui gadget android seperti Netflix, Hooq, dan Iflix. Tahun depan Go-Jek akan ditambah Go-Play.

Bagaimana gambaran permintaan konten film di media on demand?

Industri ini tumbuhnya bahkan lebih besar daripada film (layar lebar). Jadi, setidaknya dari dua pasar ini, ukuran industrinya tahun lalu kira-kira US$ 500 juta dan akan menjadi US$ 1 miliar dalam lima tahun, dan bertambah lagi 10 tahun ke depan. Jadi, sesuatu yang sifatnya makanan, gaya hidup, perjalanan, bakal naik. Bagi kami yang investasinya khusus di film, menjadi sangat happy. 

Ideosource mencurahkan investasi pada film layar lebar. Apakah tak khawatir bioskop akan mengalami disrupsi?

Tidak. Seperti adanya compact disct, orang tetap nonton konser musik. Itu menjadi event marketing, seperti I need to be there to experience the film. Jadi saat penayangan film, akan ada keinginan to be first to see the film. 

(Baca juga : Bekraf Bidik PDB Ekonomi Kreatif Rp 1.200 Triliun pada 2019

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler