Wawancara

Sistem Pembayaran Digital dan Fintech Berpotensi Tumbuh Pesat

Sistem pembayaran digital dan fintech berpotensi mempercepat dan memperkuat adopsi ekonomi internet di Indonesia.

Tim Redaksi

Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia
KATADATA/JOSHUA SIRINGO RINGO
Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia

Google, Temasek, dan Bain Co belum lama ini merilis laporan bertajuk e-Conomy SEA 2019. Laporan tersebut menunjukkan ekonomi digital di Asia Tenggara mencapai US$ 100 miliar pada 2019 dan diprediksi akan mencapai US$ 300 miliar pada 2025.

Indonesia memiliki potensi ekonomi digital terbesar, yang diproyeksikan mencapai US$ 133 miliar pada 2025. Sektor ekonomi digital mana saja yang akan berkembang pesat? Berikut rangkuman hasil wawancara tim redaksi Katadata dengan Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf.

Dalam laporan e-Conomy SEA 2019, Google menyebut Indonesia sebagai salah satu negara Asia Tenggara yang memiliki pertumbuhan tercepat di dalam ekonomi internet atau ekonomi digital ini. Bisa dijelaskan sedikit seperti apa sih pertumbuhan ekonomi internet di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara?

Dalam laporan ini kita membahas dari sisi ekonomi internet di Asia Tenggara yang mencapai US$ 100 miliar pada 2019. Kami juga menaikkan lagi prediksi kami pada 2025, akan naik dari US$ 100 miliar ke US$ 300 miliar. Dari sisi ekonomi internet seluruh Asia Tenggara itu, Indonesia adalah yang terbesar. Tahun ini kami prediksikan ekonomi internet di Indonesia US$ 40 miliar dan akan mencapai lebih dari US$ 130 miliar pada 2025.

Komponen pendukungnya adalah Indonesia sebagai negara yang besar di Asia Tenggara dengan pengguna internet yang cukup besar. Selain itu, kami juga melihat banyak pendanaan dan investasi masuk yang terus membina komponen-komponen dari internet ekonomi. Apakah itu e-commerce, transportasi online (ride-hailing) termasuk pengantaran makanan (food delivery), media online (gaming), dan travel online. Ini semua yang membantu Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini sehingga secara rata-rata pertumbuhan ekonomi internetnya sekitar 49%.

Dari riset Google tersebut, seperti apa dampak dari startup ataupun unicorn yang sekarang ada di Indonesia, seperti kita ketahui Indonesia memiliki beberapa unicorn seperti Tokopedia, Gojek, Bukalapak, dan lainnya?

Penting sekali. Kalau berbicara perekonomian digital di Indonesia, pasti harus mencakup startup. Sekarang unicorn dan startup ini, contohnya dari sisi e-commerce tentu saja Tokopedia, Bukalapak, ada juga pemain lainnya seperti Lazada dan Shopee. Kalau dari sisi ride hailing dan food delivery, ada Gojek dan Grab. Kalau dari sisi travel, ada Traveloka dan Tiket.com. Itu semua bagian dari ekonomi internet, unicorns ini penting sekali. Selain itu, kami melihat cukup banyak startup yang bermunculan.

Jadi bukan hanya unicorn tetapi juga aspiring unicorns, yang akan menjadi unicorns di masa depan. Kontribusi mereka terhadap seluruh Produk Domestik Bruto (PDB) terus meningkat dan berdampak positif di seluruh negara Asia Tenggara.

Jika dilihat dari berbagai sektor ekonomi digital, seperti e-commerce, fintech, atau transportasi online, kira-kira tahun depan sektor mana yang akan tumbuh paling cepat?

Di laporan ini ini kami melihat lebih jangka panjang ya, empat-lima tahun mendatang. Kalau melihat trennya, empat sektor itu semuanya tumbuh dobel digit. Tapi kami lihat yang cukup tinggi adalah e-commerce, kemudian ride hailing dan food delivery juga potensial. Selain itu, yang paling penting adalah perusahaan yang memungkinkan adopsi ekonomi internet secara lebih cepat dan kuat adalah sistem pembayaran (payment) dan layanan jasa keuangan digital (digital financial services).



Tadi Bapak menyebutkan banyak pendanaan yang masuk ke perusahaan-perusahaan unicorn maupun startup ini. Sampai 2025, sektor mana yang aliran pendanaannya paling besar?

Ya, kalau kita lihat, mungkin kita lihat dari apa yang sudah terjadi ya. Di seluruh Asia Tenggara, dalam empat tahun ini akumulasi pendanaan sekitar US$ 37 miliar. Dua pertiga dari pendanaan itu masuk ke sektor e-commerce dan ride hailing. Selanjutnya, sektor yang lain seperti gaming sebagai bagian dari online media dan online travel.

Selanjutnya adalah fintech lalu educational tech, healthcare tech, dan B2B tech. Ini ada kesempatan untuk menjadi potensial ke depan. Jadi dari sisi pendanaan, kami lihat komposisinya tidak akan 100 persen sama seperti yang sudah terjadi tetapi komponen-komponen yang penting pasti e-commerce, ride-hailing, food delivery, dan yang terkait sistem pembayaran akan menjadi bagian penting dari ekosistem internet ekonomi ke depan. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler