Wawancara

Pebisnis Indonesia Melihat Masih Ada Peluang di Tengah Proteksionisme

Ekspansi intra-Asia menjadi perhatian utama perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menciptakan momentum yang baik bagi lingkungan bisnis di Indonesia.

Tim Redaksi

Dandy Pandi HSBC
KATADATA/JOSHUA SIRINGO RINGO

Sejumlah lembaga internasional merevisi prospek pertumbuhan ekonomi 2020 akibat penurunan perdagangan global dan tensi geopolitik yang meningkat. Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, pada Oktober lalu merevisi target pertumbuhan ekonomi global tahun depan menjadi 3,4%. Angka tersebut lebih rendah 0,2% dibandingkan proyeksi April 2019 sebesar 3,6%.

Di tengah muramnya prospek ekonomi dunia, masih ada peluang yang bisa diraih para pebisnis Indonesia. Bank HSBC baru-baru ini melaksanakan survei HSBC Navigator 2019: Now, next, and how di 35 negara, dengan sampel sebanyak 9.100 perusahaan. Di Indonesia, ada 150 perusahaan yang disurvei. Hasil survei menunjukkan para pelaku bisnis di Indonesia justru paling optimistis terhadap prospek bisnis 2020 maupun dalam lima tahun mendatang.

Katadata mendapatkan wawancara eksklusif dengan Dandy Pandi, Head of Global Trade and Receivable Finances PT Bank HSBC Indonesia untuk mengupas lebih dalam mengenai hasil survei tersebut. Berikut petikan wawancaranya.

Bank HSBC Indonesia baru saja meluncurkan HSBC Navigator: Now, next and how. Bisakah Bapak jelaskan sedikit mengenai survei global tersebut?

HSBC Navigator ini adalah survei global yang diadakan untuk menilai sentimen dan ekspektasi dari dunia bisnis pada jangka waktu dekat dan menengah yang meliputi topik antara lain prospek pengembangan bisnis (business outlook), perdagangan internasional, geopolitik, keberlanjutan (sustainability), dan teknologi.

Responden meliputi lebih dari 9.100 perusahaan skala kecil, menengah, hingga korporasi besar dari beragam industri di 35 negara. Untuk Indonesia, ada 150 perusahaan yang menjadi responden untuk survei ini. Riset ini dilakukan oleh Kantar untuk HSBC pada periode Agustus dan September 2019.

Kami berharap, HSBC Navigator ini dapat menjadi pemandu bagi perusahaan-perusahaan dalam memanfaatkan peluang baru dan membuat keputusan, dengan memahami prospek perdagangan internasional.

Menarik sekali bahwa berdasarkan HSBC Navigator, ternyata perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih optimistis dibandingkan perusahaan global atau perusahaan Asia lainnya. Apa yang melatarbelakangi optimisme tersebut?

Pertama dapat kami sampaikan, bisnis di Indonesia termasuk yang paling optimis di dunia. Sementara Asia sudah terkenal dengan lansekap ekonominya yang beragam, kami mulai melihat perubahan dalam kebijakan perdagangan global yang mengedepankan praktik bisnis lokal. Ekspansi intra-Asia menjadi perhatian utama perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menciptakan momentum yang baik bagi lingkungan bisnis di Indonesia.

Ada beberapa faktor yang melandasi optimisme ini, di antaranya adalah keberlanjutan (sustainability), kualitas dari para pemasok (supplier) dan bahan baku, serta keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Hal lain yang mendasari optimisme pelaku usaha adalah ekspansi dengan adanya peluang di pasar yang baru. Sekitar 30% dari perusahaan yang disurvei mengatakan hal ini. Selain itu, peluncuran produk dan layanan yang lebih baik. Optimisme ini juga didukung oleh sejumlah kebijakan ekonomi makro, penguatan konsumsi domestik, dan meningkatnya arus investasi.

Untuk peluang ekspansi bisnis, negara atau wilayah mana saja yang menjadi target dari para pebisnis Indonesia?

Dari segi pasar, perusahaan di Indonesia mulai mempertimbangkan peningkatan perdagangan dengan Eropa dan Amerika Serikat (AS). Namun, Asia Pasifik masih merupakan pasar yang terbesar, yakni dipilih 80% responden. Di Asia, Tiongkok dan Singapura masih yang paling utama (dipilih 27% responden), diikuti Jepang dan Malaysia.

Berdasarkan survei, sektor usaha Indonesia percaya bahwa selama lima tahun ke depan, perdagangan internasional akan memberikan peluang bisnis baru, mendorong inovasi, meningkatkan pendapatan, meningkatkan efisiensi, dan menunjang penciptaan lapangan kerja.

Terkait dengan proteksionisme, sebanyak 37% perusahaan Indonesia memandang bahwa proteksionisme memberikan dampak yang positif bagi peningkatan daya saing sektor usaha Indonesia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 30%. Dengan hal-hal tersebut, lebih dari setengah (54%) dari perusahaan Indonesia yang disurvei mengatakan bahwa penjualan mereka akan tumbuh 15% atau lebih di tahun depan.

Survei HSBC Navigator juga mengungkap adanya peningkatan proteksionisme di seluruh dunia, seperti yang ditunjukkan AS dan Tiongkok dengan perang dagang. Namun, di sisi lain para pelaku usaha melihat ada prospek perdagangan yang bisa ditingkatkan di Asia Pasifik. Seperti apa gambarannya ke depan?

Satu fakta baru yang menarik dari survei ini, yaitu dunia bisnis di Indonesia merasa bahwa proteksionisme semakin marak di negara tempat mereka melakukan aktivitas bisnis. Namun, pebisnis di Indonesia memandang proteksionisme sebagai sesuatu yang positif, di mana sekitar 68% responden memperoleh keuntungan dibandingkan kerugian. Sebanyak 37% perusahaan di Indonesia (dibandingkan dengan 30% rata-rata global) memandang bahwa proteksionisme memberikan dampak yang positif bagi peningkatan daya saing sektor usaha Indonesia.

Dari sisi negatif, lebih dari sepertiga perusahaan menganggap pengenaan tarif akan menambah biaya usaha dan sekitar 32% mengatakan bahwa mereka harus berjuang untuk menghadapi standar regulasi. Sekitar 69% perusahaan juga merasakan dampak geopolitik.

Apa yang dilakukan dunia usaha untuk menghadapi peningkatan proteksionisme global ini?

Untuk mengatasi tantangan di atas, sekitar 40% perusahaan yang disurvei akan fokus pada penjualan online. Hal lain yang akan dilakukan adalah mengkaji kekuatan dari rantai pasokan (supply chain) di mana kuncinya adalah pada pemanfaatan sumber daya lokal serta memastikan tersedianya bahan baku dan energi. Kemudian, sekitar 32% perusahaan Indonesia yang disurvei akan menggunakan pertumbuhan yang kuat untuk meningkatkan cadangan modal. Hal ini dipandang sebagai salah strategi pertahanan (defence strategy) untuk menghadapi berbagai tantangan.

Tadi disebutkan tentang peningkatan penjualan online. Seberapa penting peran teknologi dalam sektor bisnis di Indonesia? Lalu, tren teknologi apa yang akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan?

Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang disurvei memandang teknologi sebagai hal yang penting. Beberapa hal seperti teknologi keamanan data (data security), kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan Internet of Things (IoT) dianggap memiliki dampak signifikan terhadap bisnis masa mendatang bagi perusahaan di Indonesia. Teknologi ini dipandang sebagai hal yang dapat membantu dalam berbagai hal (multiple enablers) bagi upaya pengembangan bisnis, meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas produk atau layanan dan meningkatkan keberlanjutan.

Sektor bisnis di Indonesia melihat Asia Pasifik sebagai penghubung (hub) utama bagi teknologi pada umumnya, meskipun AS dianggap sebagai hub terdepan di semua sektor teknologi. Sementara itu, Jepang juga berada pada peringkat yang cukup tinggi untuk keamanan data dan AI.

Perusahaan yang bergerak di bidang jasa perlu mempertimbangkan manfaat dari teknologi 5G untuk memperkuat bisnis mereka. Sementara, perusahaan non-jasa perlu melakukan kajian atas teknologi robotik yang merupakan teknologi yang memiliki peringkat paling tinggi untuk sektor ini. Perusahaan yang mengedepankan keberlanjutan juga perlu mempertimbangkan pemanfaatan teknologi masa depan yang dapat membantu meningkatkan produksi dan memonitor sistem rantai pasokan secara lebih baik.

Secara umum, dari hasil survei ini apa yang dianggap menjadi tantangan ekonomi terbesar bagi para pengusaha di Indonesia ke depan?

Survei HSBC Navigator memang tidak menyebutkan secara spesifik apa yang menjadi tantangan ekonomi terbesar. Namun, terlihat bahwa faktor ekonomi global, proteksionisme dan geopolitik, serta kemampuan perusahaan untuk memastikan kekuatan dari rantai pasokan, energi, dan penggunaan teknologi digital menjadi hal yang disorot oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia yang disurvei.

Kami menilai, dengan pergeseran yang terjadi di tingkat regional dan domestik, semakin banyak perusahaan bergerak menuju era teknologi digital dan menciptakan ekosistem untuk mendukung perubahan itu. Untuk dunia bisnis di Indonesia, sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan penjualan, dan membiarkan pengusaha mengidentifikasi mitra strategisnya. Kami berkeyakinan, di mana ada pertumbuhan yang cepat, akan ada kompetisi yang ketat.

Tidak ada wilayah yang lebih jelas prospek bisnisnya daripada Asia. Perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih suka bertindak (take action) daripada hanya menunggu perubahan situasi dunia. Masa depan sektor bisnis Indonesia cerah apabila mereka bisa tetap positif dan proaktif, meningkatkan kemampuan agar sesuai dengan potensi mereka.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler