'Flexible Hours' Dorong Partisipasi Perempuan di Dunia Kerja

Keleluasaan jam kerja membuat perempuan tetap bekerja dengan optimal meski harus memikul beban ganda urusan domestik
Image title
Oleh Arie Mega Prastiwi - Tim Publikasi Katadata
8 September 2020, 20:25
'Flexible Hours' Dorong Partisipasi Perempuan di Dunia Kerja
123rf.com

Pandemi Covid-19 yang belum mempelihatkan tanda-tanda akan berakhir, telah membuat segala sisi kehidupan masyarakat dituntut untuk berubah. Penularannya yang cepat dan hingga kini belum ada vaksin atau obat itu, mendorong masyarakat untuk menerapkan social distancing.

Akibatnya, sejumlah pekerjaan dan lini bisnis pun harus menyesuaikan diri. Pekerja yang tadinya menghabiskan waktu bekerja di kantor, harus bekerja dari rumah.  Tak terkecuali pekerja perempuan. 

Dengan bekerja dari rumah, pola kehidupan pun berubah. Selain harus berfokus pada pekerjaan, perempuan dianggap masih memiliki tanggung jawab domestik.  Alhasil, selama pandemi, perempuan memiliki beban ganda, karena harus tetap profesional bekerja, tapi dia dituntut untuk mengurus rumah tangga, termasuk mengurus mendampingi anak yang juga harus belajar dari rumah (BDR).

Consellor Australia Embassy, Todd Dias mengatakan, pandemi Covid telah menghadapkan perusahaan pada persoalan beragam dan kompleks. Banyak perusahaan menghadapi situasi sulit untuk bertahan. Covid-19 telah menempatkan perempuan dalam kondisi yang tak menguntungkan. Kebijakan work from home  (WFH) seakan menambah beban ganda yang dipikul perempuan.

 

"Ditambah dengan adanya pandangan dan norma sosial bahwa perempuan adalah pengasuh utama dalam keluarga, membuat perempuan bekerja harus bekerja lebih giat dalam mengurus pekerjaannya dan keluarga," katanya dalam  webinar SAFE Forum bertajuk Economic Sustainability Pathway: Indonesian Women in the Workforce yang digelar Katadata, Jumat (28/8). 

Maka, pemerintah Australia mendukung segala program untuk mendorong kesetaraan gender  Melalui koalisi bisnis untuk pemberdayaan perempuan dan Investing in Women, Australia mendorong perusahaan Indonesia untuk meningkatkan partisipasi perempuan di sektor formal. Caranya, melalui kebijakan yang ramah perempuan maupun lingkungan kerja yang inklusif.

Executive Director, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Maya Juwita mengatakan, penelitian menunjukkan, resesi dan pandemi Covid-19 telah memperbesar dampak bagi perempuan baik dari sisi keamanan ekonomi, pekerjaan, representasi politik hingga kesehatan. 

Aspek dampak dari pandemi itu memparah pekerja perempuan di female-dominated industry seperti turis, retail dan sales yang terpuruk sehingga perempuan terancam kehilangan pekerjaan dibanding laki-laki.

Menurut penelitian itu, Covid-19 bisa membuat turunnya partisipasi angkatan kerja perempuan. Belum lagi dengan masih adanya persepsi bahwa tanggung jawab domestik masih dianggap milik perempuan. 

“Selama pandemi, beban domestik signifikan ditanggung oleh perempuan,” kata Maya.

Meski demikian, menurut Maya, temuan riset itu cukup menjanjikan untuk mendukung partisipasi perempuan dalam pekerjaan formal. Riset menyebutkan bawah hampir 80 persen karyawan mengaku bahwa selama pandemi mereka bekerja sama produktifnya dengan masa sebelum pandemi.

Jadi, perusahaan perlu mempertimbangkan untuk menerapkan kebijakan kerja fleksibel yang permanen. “Ini bisa menjadi peluang untuk mempertahankan talenta perempuan yang mungkin akan meninggalkan dunia kerja karena tanggung jawab rumah tangga,” kata Maya.  Kebijakan ini juga bisa menarik perempuan yang selama ini menjadi unpaid care work untuk kembali masuk ke dunia kerja.

Riset juga menunjukkan bahwa hampir 50 persen pria melihat bahwa urusan perempuan patut diberikan waktu yang lebih untuk cuti melahirkan, cuti mengurus keluarga dan bekerja dengan waktu fleksible.

Melihat realitas tersebut, Dedie Renaldi Manahera,HR Director, Danone Indonesia, mengungkapkan bahwa Danone telah jauh-jauh hari mendukung pemberdayaan perempuan dengan menerapkan kesetaraan gender di tempat kerja. Danone  menyediakan ekosistem yang suportif bagi pekerja perempuan. Danone telah melakukan banyak langkah konkret, seperti inisiatif cuti melahirkan bagi perempuan 6 bulan dan laki-laki 10 hari untuk mendampingi istri.

"Post-natal program kita lagi genjot di saat sudah melahirkan, wanita mengambil enam bulannya supaya bisa merawat anak. Kita komunikasi ke manajer untuk terus berkomunikasi bahwa pekerjaan harus digaransi," katanya.

Kesetaraan Gender di Perusahaan

Senada dengan riset IBCWE dan ekosistem yang disediakan Danone, Executive Vice President Gajah Tunggal Group Catharina Widjaja  menekankan  perempuan perlu didorong keberlanjutannya bukan hanya dalam konsep keterwakilan tetapi pihak setara untuk berkembang dan disiapkan ekosistem yang memadai.

Meski begitu, Catharina mengaku sulit mengimbangi komposisi karyawan perumpuan di lingkup perusahaan, khususnya di lokasi pabrik.  Saat menerima karyawan bekerja, perusahaan tidak membeda-bedakan. Namun, kebanyakan pelamar justru laki-laki. “Ini memang perusahaan high manufacturing dan perempuan umumnya kurang mendukung bekerja di lokasi ini akibat situasi sosial pabrik," ujar Catharina. 

Maka dari itu, untuk mengimbangi, karyawan perempuan ditempatkan di kantor pusat, manajemen atau retail.

“Pekerja perempuan di perusahaan lebih banyak di posisi management, agar dia bisa meng-encourage dan menjadi carrier ladder bagi perempuan lainnya,” kata Catharina. Dia menekankan, untuk mencapai hal itu, perempuan juga harus didukung lewat pendidikan yang inklusif.

Sementara itu, Dedie juga menambahkan, Danone mendukung kesetaraan gender, dengan didukung adanya pilar keragaman inklusif perusahaan secara global. Targetnya, ada 30 persen perempuan di level eksekutif dan 42 persen level direktur perseroan.

Adapun IBCWE dan Investing in Women terus berupaya mendorong terciptanya kesetaraan gender di lingkungan kerja. Salah satunya adalah dengan menerapkan GEARS (Gender Equality Assesment Results and Strategies) di sejumlah perusahaan di Indonesia mulai tahun ini.

Maya Juwita mengatakan, selain di Indonesia, GEARS juga mulai diimplementasikan di Filipina, Vietnam, dan Myanmar.

"Langkah ini diharapkan akan memberikan gambaran komparatif bagaimana kondisi kesetaraan gender di perusahaan di keempat negara," kata Maya seperti dikutip Antara 8 September 2020.

Hasil asesmen ini, lanjutnya, akan menjadi dasar penentuan peta jalan yang mengarahkan perusahaan pada kondisi kerja berbasis kesetaraan gender.

"Hal ini tentunya untuk mempromosikan kesetaraan gender di tempat kerja serta berkomitmen dan berkontribusi kepada pemberdayaan ekonomi perempuan," ucapnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jabatan manajer di perusahaan-perusahaan Indonesia masih didominasi laki-laki. Dalam tiga tahun terakhir, angka tertinggi ada di 2016 sebesar 75,83 persen. Sebaliknya, hanya 24,17 persen jabatan manajer yang diisi oleh perempuan.

Meskipun laki-laki masih mendominasi jabatan manajer, namun jumlahnya mulai berkurang perlahan pada 2017 dan 2018. Masing-masing sebesar 73,37 persen dan 71,03 persen. Kepercayaan terhadap perempuan untuk mengemban tugas sebagai manajer pun bertambah. Pada 2017 sebanyak 26,63 persen perempuan menjabat sebagai manajer. Tahun berikutnya naik menjadi 28,97 persen.

Riset McKinsey 2018 menyebutkan kesetaraan gender mampu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia sebanyak US$135 miliar pada 2025. Kesetaraan gender perlu dukungan dari beragam pihak, baik pemerintah, swasta, dan individu.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait