Taiwan Laporkan 14 Infeksi Baru Covid1-9 Pasca 200 Hari Nol Kasus

Dari 14 kasus baru Covid-19 itu, 13 lainnya berasal dari buruh migran perempuan asal Indonesia dan 1 dari Amerika Serikat
Image title
Oleh Arie Mega Prastiwi - Tim Riset dan Publikasi
28 November 2020, 10:09
Ann Wang ARSIP FOTO : Seorang wanita, menggunakan masker pelindung, berjalan melewatai poster lowongan pekerjaan Kementerian Pertahanan Nasional, ditengah mewabahnya virus corona (COVID-19), di Taipei, Taiwan, Senin (20/4/2020).
ANTARA FOTO/REUTERS/Ann Wang/nz/dj

Central Epidemic Command Centre (CECC) atau Pusat Pengendalian Epidemi Taiwan  mengumumkan ada 14 kasus baru Covid-19. Kasus tersebut bukanlah transmisi lokal, melainkan kasus impor. Dari 14 kasus tersebut, 13 dari Indonesia dan satu dari Amerika serikat.

Ke-13 kasus dari Indonesia tersebut semuanya merupakan pekerja migran perempuan, dengan rentang usia antara 20-50 tahun. Di antara 13 pekerja migran, satu (kasus nomor 627) tiba di Taiwan pada 11 November, dan 12 lainnya memasuki Taiwan pada 12 November. Mereka melakukan perjalanan dengan penerbangan yang sama dengan kasus nomor 627.

Mengutip cdc.gov.tw pada Sabtu (28/11), salah satu dari kasus baru itu memberi tahu otoritas kesehatan  pada 19 November, bahwa  tenggorokannya tidak nyaman. “Dia tidak mencari pertolongan medis karena dia pikir hanya mengalami gejala ringan,”tulis laporan CDC.

“Dia juga mengalami pilek dan hidung tersumbat pada 23 November, tetapi dia tidak melaporkan gejalanya.”

Sementara itu, 12 perempuan Indonesia lainnya belum mengalami gejala apapun sejak kedatangannya. Ke-13 pekerja migran Indonesia tersebut dites COVID-19 sebelum menyelesaikan masa karantina, dan infeksi COVID-19 telah dikonfirmasi di laboratorium  pada 27 November.

Padahal pada 30 Oktober, CDC melaporkan Taiwan telah melewati 200 hari kasus Covid-19. Badan kesehatan pemerintah itu terakhir kali melaporkan kasus domestik pada 12 April 2020.

Sementara itu, kasus impor terbaru lainnya adalah seorang pria Taiwan berusia 30-an. Dia bekerja di Amerika Serikat untuk waktu yang lama (keberangkatan terakhirnya dari Taiwan adalah September 2019). Pria itu  kembali ke Taiwan untuk mengunjungi anggota keluarganya pada 20 November dan tanpa gejala pada saat kedatangan.

Setelah kedatangan dari AS, pria itu menjalankan karantina di hotel khusus.  Namun, pada 21 November, pria itu melaporkan dirinya mengalami kelelahan, tenggorokan kering, dan sakit.

Sejak merebaknya virus corona, Taiwan mencatat 639 infeksi Covid-19 dan hanya tujuh kematian. 

Taiwan  —hanya berjarak 161 km dari daratan Tiongkok tempat pertama kali virus corona ditemukan— merupakan salah satu negara yang berhasil mengendalikan wabah itu. Semenjak kasus pertama pada 21 Januari lalu, negara itu segera mengambil langkah cepat, di antaranya melakukan inspeksi orang-orang yang datang dari Tiongkok terutama dari Wuhan.  Pemerintah melakukan karantina, membangun sistem pelacakan, dan meningkatkan produksi alat kesehatan mulai Januari. Langkah cepat pemerintah Taiwan dinilai terkait dengan pengalaman saat wabah SARS pada 2003 yang juga teridentifikasi pertama kali di Tiongkok.

Hingga kini transmisi penularan virus corona di dunia masih terus berlangsung. Segala cara pencegahan dan mitigasi dilakukan. Antara lain dengan menyiapkan vaksin. Meski demikian, vaksin bukanlah satu-satunya cara untuk menekan laju Covid-19.  Para pakar kesehatan sepakat gerakan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) dan 3T (tracing, testing dan treatmen)adalah yang langkah tepat.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait