Strategi Pertamina Penuhi Energi untuk Gerakkan Perekonomian

Grand strategy energi nasional dikembangkan dari rencana pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi nasional
Padjar Iswara
Oleh Padjar Iswara - Tim Publikasi Katadata
23 Desember 2020, 17:40
Pertamina
Katadata

Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus meningkatkan perannya dalam menggerakkan perekonomian nasional dengan mengembangkan strategi untuk memenuhi energi nasional secara berkelanjutan dalam rangka mengurangi impor minyak dan gas.

Strategi tersebut diungkap Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam Forum Outlook Perekonomian Indonesia bertajuk “Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi 2021” yang berlangsung di Jakarta, Selasa (22/12).

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan grand strategy energi nasional dikembangkan dari rencana pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi nasional yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 mengenai kebijakan energi nasional. Saat ini, skor Indonesia masih 6,57 atau status ‘Tahan’.

“Ini menjadi tantangan bagi kami meningkatkan lagi posisinya menjadi Sangat Tahan. Inilah yang mendasari pemerintah untuk menyusun grand strategy energy nasional,”ungkapnya.

Sinergi Pertamina untuk Perekonomian Indonesia
Sinergi Pertamina untuk Perekonomian Indonesia (Katadata)

 

Lebih lanjut Nicke menguraikan, dengan visi untuk mewujudkan ketahanan energi nasional, maka tantangannya meningkatkan produksi migas, menurunkan impor minyak maupun LPG, serta membangun infrastruktur baik untuk migas maupun kelistrikan. Dari ketiga hal tersebut, Pemerintah menyusun 11 program yang sebagian besar bertujuan menurunkan impor dan memaksimalkan dengan mengolah sumber daya alam yang banyak dimiliki oleh Indonesia.

Sebagai BUMN di sektor energi, Pertamina mendapat tanggung jawab menjalankan program tersebut dengan berupaya meningkatkan produksi minyak 1 juta barel per hari (bopd) dan mengakuisisi lapangan minyak di luar negeri untuk kebutuhan kilang. Amanah ini harus dijalankan, saat ini kontribusi Pertamina sebesar 40 persen, tahun depan akan mencapai 60 persen, sehingga ini akan sangat dominan.

Dengan peran sebagai BUMN untuk mendorong pertumbuhan energi nasional, maka investasi Pertamina tentu akan disesuaikan dengan grand strategy energi pemerintah ke depan. “Kalau bicara tentang hulu energi, 60 persen investasi akan dilakukan di hulu energi,” kata Nicke

Nicke menambahkan, Pertamina juga meningkatkan kapasitas kilang, dalam rangka optimalisasi produk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan memperbaiki kualitas BBM dan Naptha. Untuk mengantisipasi penurunan permintaan terhadap BBM, Pertamina mengintegrasikan kilang petrokimia, mengingat saat ini 70 persen produk tersebut masih diimpor.

Lalu, dalam rangka menjawab era transisi energi, Pertamina akan mempercepat pemanfaatan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) yang didominasi oleh Pembangkit Listril Tenaga Surya (PLTS) dan meningkatkan produksi Bahan Bakar Nabati (BBN)  seperti biodiesel atau biohidrokarbon.

Menurut dia, transformasi energi ke depan ke arah new and renewable energy. Sesuai arahan Pemerintah, biodiesel merupakan salah satu yang akan terus dikembangkan ke depan sehingga Pertamina bisa mengoptimalkan sawit yang berlimpah di Tanah Air.  Selain harus melakukan eksplorasi dari sisi migas, Pertamina juga akan meningkatkan kontribusi dari bioenergi.

“Setelah Biodiesel (B30) dan tahun depan akan masuk ke B40, Pertamina juga akan masuk ke biogasoline yang kebutuhannya cukup tinggi,” katanya.

Dari sisi gas, ujar Nicke, Pertamina juga akan mengembangkan gasifikasi dari energi batu bara yang melimpah menjadi dimethyl Ether (DME) sehingga dapat mengkonversi LPG. Selain itu, Pertamina terus membangun dan menambah jaringan gas rumah tangga hingga mencapai tiga juta pelanggan sehingga masyarakat punya pilihan LPG, DME, Jargas, atau kompor listrik. “Ini yang nantinya akan membuat perekonomian lebih berputar.”

Nicke menegaskan, secara garis besar Pertamina akan masuk ke pengembangan bisnis dan produk-produk baru untuk mengisi gap tadi sehingga bisa menurunkan impor migas yang selama ini terjadi. Selain itu, Pertamina juga menjalankan program mandatori BBM subsidi seperti BBM satu harga di 243 titik wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan untuk pemerataan akses produk nonsubsidi, Pertamina telah menyiapkan Pertashop di 2.192 titik.

Program mini outlet ini melibatkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Koperasi dan UMKM dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

“Kami berharap menjadi driver perekonomian daerah. Satu komitmen kami, meskipun dalam kondisi pandemi, semua aktivitas usaha, semua aset Pertamina tetap dioperasikan,” kata Nicke.

Jumlah tenaga kerja yang masuk ekosistem pertamina tersebut mencapai 1,2 juta orang. “Sangat besar,” ujarnya seraya menyebutkan motor penggerak tersebut tidak boleh terhenti karena di dalamnya ada misi Pertamina untuk menjaga motor perekonomian tetap berjalan sekaligus menyerap tenaga kerja dan tetap mendorong industri nasional terus bergerak.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait