PLN Tak Batasi Teknologi dalam Lelang Konversi PLTD ke PLTS

Keleluasaan dari PLN untuk menggunakan beragam teknologi pada PLTS dan baterai dapat mendorong pengembang untuk membawa teknologi-teknologi baru.
Image title
Oleh Dini Hariyanti - Tim Publikasi Katadata
18 Februari 2022, 09:02
Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Surya milik PT PLN (Persero).
PLN

PT PLN (Persero) memberi keleluasaan bagi pengembang yang mengikuti lelang konversi PLTD ke PLTS dan baterai untuk menggunakan beragam teknologi. Hal ini ditujukan untuk menyukseskan program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Wiluyo Kusdwiharto mengatakan, PLN sedang memproses pengadaan atau lelang program konversi PLTD di sejumlah wilayah. Di dalam proses ini, perusahaan mendorong kompetisi dan inovasi dalam proses pengadaan pembangkit EBT agar infrastruktur yang dimiliki berkualitas.

“PLN tidak akan membatasi teknologi yang digunakan, silahkan berkompetisi dengan baik,” kata Wiluyo dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan pembahasan Program Dedieselisasi yang direncanakan PLN, Selasa (15/2/2022).

Menurut Wiluyo, dengan dibukanya kesempatan penggunaan teknologi pada PLTS dan baterai akan memberikan ruang bagi pengembang untuk membawa teknologi-teknologi baru, sehingga tidak terbatas pada teknologi battery VLRA ataupun lithium. Alternatif teknologi baru seperti vanadium redox flow battery diharapkan dapat berkembang pula sebagai alternatif baterai skala besar.

PLN pun berkomitmen memenuhi ketentuan TKDN dalam pengembangan EBT khususnya dalam konversi PLTD ke PLTS tersebut. Hal ini ditempuh dengan memberikan kesempatan barang jasa dalam negeri digunakan pada proyek itu sehingga industri nasional tidak hanya menjadi penonton.

Pada kesempatan yang sama, Wiluyo meminta Kadin agar menjembatani komunikasi dengan Kementerian Perindustrian sehingga ada fleksibilitas tingkat komponen dalam negeri (TKDN), khususnya dalam konteks program konversi PLTD ke EBT tersebut.

“Ketentuan TKDN yang ada saat ini tidak perlu dihilangkan, kita dukung industri nasional, tetapi PLN berharap Kadin dapat menjembatani diskusi dengan Kementrian Perindustrian sehingga ada fleksibilitas TKDN terutama dalam konteks program dedieselisasi ini,” ujar Wiluyo.

PLN akan melakukan konversi 499 Megawatt (MW) PLTD menjadi pembangkit yang ramah lingkungan melalui mekanisme hybrid dengan PLTD eksisting. Program konversi PLTD ke EBT ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, PLN akan mengkonversi sampai dengan 250 MW PLTD yang tersebar di beberapa titik di Indonesia. PLTS tersebut menjadi baseload, sehingga ada tambahan baterai agar pembangkit bisa nyala 24 jam.

Dengan konversi ke PLTS dan baterai, maka kapasitas terpasang di tahap pertama ini bisa mencapai sekitar 350 Mega Watt Peak (MWp). Sehingga bisa mendongkrak bauran energi terbarukan dan penambahan kapasitas terpasang pembangkit secara nasional.

Dalam tahap dua, PLN akan mengkonversi PLTD sisanya sekitar 249 MW dengan pembangkit EBT lainnya, sesuai dengan sumber daya alam yang menjadi unggulan di daerah tersebut dan keekonomian yang terbaik.

“Adanya program konversi ini diharapkan dapat menurunkan pemakaian BBM, menurunkan emisi CO2 serta meningkatkan bauran energi baru terbarukan di PLN,” ujar Wiluyo.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait