Kualitas Udara Jabodetabek pada 2021 Belum Membaik

Masih buruknya kualitas udara di Jabodetabek bukan hanya disebabkan oleh kendaraan bermotor, tetapi juga oleh aktivitas rumah tangga dan industri
Image title
Oleh Shabrina Paramacitra - Tim Riset dan Publikasi
2 Maret 2022, 14:05
Nafas-Bicara udara
Katadata

Kualitas udara di area hijau yang banyak tumbuh pepohonan ternyata tidak selalu bersih atau bebas dari polusi udara, khususnya yang disebabkan oleh polutan berukuran sangat kecil (PM2.5).

Kesimpulan tersebut terungkap dalam hasil riset Nafas, startup penyedia aplikasi pengukur kualitas udara, sepanjang Januari-Desember 2021.

Nafas memasang  ratusan sensor pengukur kualitas udara di sejumlah kota, seperti Jakarta (Jabodetabek), Bandung dan Surabaya. Tiga sensor di antaranya dipasang di tiga lokasi, yakni Bumi Serpong Damai (BSD), Cibinong dan Sentul City.

Ketiga daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang (Jabodetabek) tersebut merupakan area yang dikelilingi oleh daerah hijau.  Namun data Nafas menunjukkan, indeks kualitas udara (AQI) di ketiga wilayah tersebut cukup tinggi di atas 100. Angka AQI di atas 100 menunjukkan kualitas udara relatif tidak sehat bagi kelompok usia tertentu.

“Itu menunjukkan ketiga daerah tersebut tidak bebas dari polusi,” kata Co-founder & Chief Growth Officer Nafas, Piotr Jakubowski dalam Media Briefing bertajuk “Nafas Air Quality Report 2021” yang diselenggarakan Nafas, Bicara Udara dan Katadata Insight Center, (Rabu, 2/03/22).

Menurut Piotr, banyaknya pepohonan sebenarnya kurang berdampak membuat udara menjadi bersih dan segar. Sebab pada dasarnya daun-daun di pohon tak bisa menyerap debu.

Daun hanya mampu menyerap gas, sehingga tak bisa secara signifikan membersihkan debu PM2,5 yang ada di udara. “Jadi, pepohonan tidak bisa memfilter polusi PM 2.5,” ujar dia.

Piotr merujuk studi David J. Nowak et.al (2013). Hasil studi Nowak, kata dia, menunjukkan, penanaman pohon di 10 kota Amerika Serikat dengan tingkat PM 2.5 yang tinggi tidak signifikan mengurangi polusi PM2.5, yakni hanya sebesar 0,05-0,24 persen setahun.

Berdasarkan data Nafas tersebut, kata Piotr, tidak tepat apabila kebijakan pemerintah-pemerintah daerah di Indonesia memperbaiki kualitas udara hanya dengan cara menanam banyak pepohonan atau menambah ruang terbuka hijau.

Penanaman pohon hampir tidak ada dampaknya dalam mengurangi PM 2.5. “Dengan kata lain, pepohonan tidak berdampak signifikan untuk menyegarkan kualitas udara,” kata dia.

Di masyarakat Jabodetabek terjadi mispersepsi bahwa udara pagi lebih baik dibanding waktu lain. Mungkin karena dianggap udara masih terasa sejuk, kondisi lalu lintas masih sepi, dan minim polusi udara.

Tak mengherankan bila animo masyarakat berolah raga besar pada pagi hari (sekitar jam 04.00-09.00 WIB), termasuk saat pandemi Covid-19.

Padahal berdasarkan hasil riset Nafas sepanjang 2021 menunjukkan, AQI Jabodetabek pada pagi hari antara jam 04.00-09.00 WIB masih cukup tingg, yaknii sekitar 100-160, yang menunjukkan kualitas udara relatif tidak baik.

Ini artinya, pagi hari bukan waktu terbaik untuk berolahraga. Justru saat itu masyarakat di Jabotabek disarankan tidak melakukan aktivitas di luar rumah.

Menurut Prabu Setyaji, Data Scientist dari Nafas, bagi seseorang yang berumur antara 35-45 tahun yang berolahraga pada pagi hari saat kadar PM2.5 > 26 µ/m3  justru berbahaya karena berisiko menimbulkan penyakit jantung.  Sebagai catatan, ambang batas aman menurut WHO (2021) adalah PM2.5 = 5 µ/m3.

“Bisa meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 33 persen untuk mereka yang berusia 30-45 tahun,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa kualitas udara paling baik di Jabodetabek terjadi pada jam 14.00 WIB.

Dia menambahkan, kualitas udara semakin membaik ketika terjadi hujan besar, terlebih jika disertai angin kencang.

Sementara Community Manager Bicara Udara Novita Natalia mengatakan, hasil riset Nafas yang menunjukkan bahwa masih banyak salah kaprah dari masyarakat terkait kualitas udara beserta mitos-mitos yang selama ini sering didengar. Hal ini menunjukkan makin kebutuhan edukasi mengenai isu kualitas udara. 

Sebab, literasi kualitas udara yang rendah dapat memengaruhi cara orang beraktivitas. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat memengaruhi kesehatan tubuh.

“Tentunya kita tidak ingin di masa depan mengalami masalah pada paru-paru, atau masalah kesehatan yang lainnya,” kata Novita seyara menambahkan riset tersebut sekaligus menjadi indikasi betapa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat agar upaya bersama untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik bisa terwujud.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait