Impor Pangan Jalan Pintas Tekan Harga

Pemerintah juga menjamin kesejahteraan petani.
Image title
Oleh Widyanita
7 Juni 2016, 18:20

Untuk menjamin pasokan bahan pangan dan mengendalikan harganya, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara menetapkan kebijakan impor. Komoditas yang harganya masih tinggi di pasar menjadi prioritas kebijakan ini.

(Baca: Antisipasi Lebaran, Pemerintah Impor Gula dan Daging Sapi)

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan secara historis selama bulan Puasa hingga Lebaran harga bahan pangan melonjak karena pasokannya tak mencukupi. Untuk itu pada tahun ini pemerintah akan mengimpor 27.400 ton daging sapi beku dari berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebanyak 1.800 ton daging sapi beku impor telah masuk dan akan terus bertambah secara bertahap sehingga harganya menurun pada pekan pertama bulan suci Ramadhan.

(Baca: Harga Pangan Naik Jelang Puasa, Inflasi Mei 0,24 Persen)

Impor daging beku menjadi solusi cepat penurunan harga daging sapi menjadi Rp 80.000 per kg sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Sementara untuk menurunkan harga daging sapi segar di pasar juga dilakukan dengan impor dengan syarat pembatasan berat sapi masuk maksimal 350 kg, masa penggemukan 120 hari dan pengenaan bea masuk 5 persen.

(Baca: Harga Daging Tinggi, Jokowi: Tak Mungkin Turun dalam 1-3 Hari

Selain daging sapi, pemerintah juga akan mengimpor bahan pangan lain seperti gula dan bawang merah.  Untuk menurunkan harga gula yang kini mencapai Rp 18.000 per kg, pemerintah menugaskan PTPN X dan PT Rajawali Nusantara Indonesia.

Bukan hanya menjaga harga di tingkat konsumen, pemerintah juga menjamin kesejahteraan  petani. Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan bahwa petani tidak perlu khawatir dengan penerapan impor ini karena pemerintah menetapkan harga minimum pembelian dari petani. Untuk itu dengan penerapan impor dan penetapan Harga Pokok Penjualan (HPP), konsumen akan mendapat barang yang memadai dan petani memperoleh pendapatan yang cukup.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.