Dukung Pemulihan Bencana, Didiet Maulana Pamerkan Tenun Donggala

Michael Reily
13 Maret 2019, 16:45
Pembuat Kain Tenun
Dini Hariyanti|Katadata
Seorang perempuan sedang mendemonstrasikan proses membuat kain tenun. Aktivtas ini berlangsung bersamaan dengan Wallacea Week 2018, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Perancang busana, Didiet Maulana, bakal mempersembahkan karya berbahan tenun Donggala, Sulawesi Tengah dalam Pameran Adiwastra Nusantara 2019. Langkah ini diambilnya untuk mendukung pemulihan bencana di Donggala yang tahun lalu dilanda gempa.

"Kebetulan, Didiet Maulana sudah merencanakan pagelaran tenun di sana, sebelum adanya bencana," kata Ketua Panitia Adiwastra Nusantara 2019, Yantie Airlangga di Jakarta, Rabu (13/3).

Dia menjelaskan, dengan pemasaran produknya, Didiet yang juga pemilik Ikat Indonesia itu ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat Donggala untuk pulih dari bencana. Sehingga, warisan nusantara tenun asal Donggala bisa berkembang.

Apalagi, tenun Donggala merupakan salah satu produk yang memiliki nilai jual tinggi. "Kami ingin hasil karya Donggala juga bisa diangkat kembali," ujar Yantie.

(Baca: Pameran Batik dan Tenun Adat Adiwastra Bidik Transaksi Rp 50 Miliar)

Selain rancangan busana Didiet, Adiwastra Nusantara bakal memamerkan karya perancang busana lainnya. Wignyo Rahadi bakal mengangkat kain songket Sambas, Novita Yunus dari Batik Chick dengan batik kreasi baru, serta Miss Mysa dari Roemah Kebaya Vielga.

Kemudian, ada juga peragaan busana karya Dharma Pertiwi, Esmod Jakarta yang menampilkan rancangan desain milenial, dan juga Riana Kusuma yang memberikan warna batik dan kebaya modern. Terakhir, Pelangi Wastra Indonesia akan memaparkan busana olahan tenun Badui, sutera Garut, kain Sumba, serta Batik dan Lurik.

Sementara itu, Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka, Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka, Ratna Utarianingrum menjelaskan potensi warisan nusantara sangat besar untuk ekonomi. Sehingga, pemerintah juga mendorong kolaborasi antara pengrajin kecil dan perancang busana.

(Baca: Delapan Merek Fesyen Tenun NTT Perluas Pasar di Ibu Kota)

Ratna menyebutkan, Kementerian Perindustrian memberikan insentif restrukturisasi mesin dan peralatan berupa potongan harga. Jika mesin dan peralatan dari impor, potongannya sebesar 25%. Namun, potongannya bisa mencapai 30% kalau mesin dan peralatan dari dalam negeri. "Kami ingin mendorong produktivitas melalui peningkatan kompetensi dan penguasaan teknologi," katanya.

Tahun lalu, Didiet berencana untuk memamerkan karya Ikat Indonesia beserta tenun Donggala pada 9 Oktober 2018. Namun, gempa dan tsunami besar yang menerjang Palu dan Donggala pada akhir September membuat jadwal pameran itu kandas.

Advertisement
Reporter: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait