Pengembang Perumahan Modifikasi Skema Pembayaran bagi Milenial

Uang muka masih menjadi salah satu alasan milenial enggan memiliki rumah.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
14 November 2018, 18:03
Pameran Properti
Agung Samosir|KATADATA

Besarnya populasi dan penghasilan generasi milenial menarik pengembang perumahan untuk memasarkan produknya. Pengembang pun mulai berinovasi dengan menyediakan sistem pembayaran properti yang sesuai dengan minat para pekerja baru ini.

Caranya bermacam-macam, seperti uang muka (down payment/DP) nol persen atau tidak membebankan biaya Kredit Pemilikan Rumah atau Apartemen (KPR/KPA) kepada konsumen. "Banyak sekali developer yang mempermudah konsumen sesuai kemampuan," ujar General Manager Sales Rumah123.com Maria Herawati Manik di Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (14/11).

Menurutnya, uang muka menjadi salah satu alasan milenial enggan memiliki rumah. Kajian Rumah123.com menunjukan, 43% dari 1.922 responden berpenghasilan Rp 10 juta ke bawah, kesulitan memenuhi DP. Lalu, sebanyak 43,6% dari responden berpenghasilan Rp 10 juta ke atas tak mampu membayar DP. 

(Baca juga: Pemerintah Kaji Penghapusan PPnBM dan PPh 22 Rumah Mewah)

Untuk itu, persoalan inilah yang coba diatasi oleh pengembang. "Banyak sekali (yang tertarik) kalau DP nol persen, karena mereka tidak harus mengeluarkan dana besar. Itu (milenial) ambil kesempatan," kata Maria.

Apalagi, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan 23,95% dari total penduduk Indonesia 265 juta berusia 20-34 tahun atau disebut milenial pada 2018. Tahun depan, penduduk milenial diproyeksi mencapai 23,77% dari total 268 juta. "Milenial banyak disasar karena mereka banyak membeli properti untuk pertama kali. Kalau investor kan biasanya hanya 2-3 rumah," ujarnya.

Sementara, riset internal Rumah123.con menunjukkan, kriteria milenial untuk membeli properti ada dua yakni berdasarkan lokasi dan harga. Mayoritas milenial menginginkan rumah tinggal dekat tempat kerjanya. "Sementara harganya mahal kan. Itu juga jadi (salah satu) alasan mereka belum memiliki hunian," kata dia.

(Baca juga: Pengembangan Perumahan Tumbuh Pesat di Jakarta dan 34 Kota Satelit)

Ia mencatat, pertumbuhan penjualan rumah tapak rata-rata 10-15 per tahun. Namun, belakangan pertumbuhan penjualan rumah menurun. Yang menarik, penjualan apartemen justru meningkat menjadi 3% per tahun. "Sebelumnya tidak sampai segitu. Rerata pembelinya (apartemen) berusia 25-35 tahun," kata dia.

Dari sisi harga, rumah kisaran Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar adalah yang paling banyak dibeli. Sejalan dengan hal itu, Rumah123.com menggelar festival properti Indonesia dengan menghadirkan properti seharga Rp 180 juta hingga Rp 4 miliar di Mall Kota Kasablanka, Jakarta pada 14-18 November 2018. Setidaknya ada 13 pengembang dengan lebih dari 1.000 hunian yang tersedia.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait