Bekraf Kirim 5 Merek Fesyen ke Pameran 'Jalanan' di AS

Produsen fesyen Jepang dan Korea Selatan telah lebih dulu menggarap segmen streetwear di Amerika Serikat.
Desy Setyowati
22 Juni 2018, 17:31
Indonesian Fashion Week 2014
Donang Wahyu | KATADATA

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengirim lima brand ke pameran streetwear Agenda Show, di Long Beach, California, Amerika Serikat (AS). Kelimanya adalah Elhaus, Paradise Youth Club, OldblueCo, Monstor, dan Potmeetspop.

Kelima merek ini bakal bersaing dengan merek busana dari banyak negara, untuk memperkenalkan produknya di pasar AS. "Belajar dari tahun lalu, Jepang dan Korea Selatan adalah pesaing berat Indonesia," ujar salah seorang kurator Bekraf Khairiyyah Sari saat konferensi pers di Hard Rock Cafe, Jakarta, Jumat (22/6).

Menurutnya, kedua negara tersebut fokus menghadirkan produk berkualitas tinggi dan sangat memperhatikan detail. Oleh sebab itu, Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak mendorong kelima brand Indonesia yang dikirim untuk belajar banyak dari produsen asal kedua negara tersebut.

Menurutnya, fragment shop dari Jepang dan Korea Selatan memang sangat baik. Namun, bukan berarti Indonesia tidak punya kesempatan. Hal yang akan diusung oleh Indonesia adalah cerita dibalik brand ataupun produk yang dipasarkan. Sebab, pasar AS memang sangat menyukai produk yang memiliki cerita unik di dalamnya.

(Baca juga: Incredibles 2 Raih Rekor Baru Film Animasi Rp 2,5 Trilun)

Namun, cerita saja belum cukup untuk bisa menyaingi Jepang dan Korea Selatan. "Hal-hal lain harus kami tingkatkan yaitu fragmentship, ukuran, standar dan yang lainnya. Jadi konsisten kualitas," kata Joshua.

AS merupakan negara tujuan ekspor produk busana terbesar Indonesia. Nilai ekspornya mencapai US$ 4,72 miliar, tahun lalu. Setelah itu, Jepang dengan nilai ekspor US$ 943,6 juta dan Jerman senilai US$ 701 juta. "Maka kehadiran Indonesia di pameran itu sangat penting untuk merebut pasar AS," ujar Joshua.

Ia menambahkan, untuk mengambangkan ekspor, Indonesia juga harus memiliki spesialisasi produk. "Bukan lagi produk mainstream (yang diekspor), tetapi yang artisian."

Apalagi data Outlook Ekonomi Kreatif 2017 Bekraf menunjukkan, pendapatan terbesar di sektor ini berasal dari subsektor fashion yaitu senilai Rp 166 triliun pada 2016. Kontribusinya mencapai 18,01% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di industri ekonomi kreatif (ekraf).

Pada 2015, nilai ekspor produk fashion Indonesia mencapai US$ 10,90 miliar atau meningkat 1,84% dibanding tahun sebelumnya. Kontribusinya sebesar 54,54% terhadap total ekspor sektor ekraf.

(Baca juga: Ekonomi Kreatif Hadapi Masalah Produksi hingga Ekspor Tak Merata)

Untuk merambah pasar internasional, kata dia, perlu modal yang besar. Joshua menyampaikan, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank akan membantu brand-brand fesyen Indonesia yang berorientasi ekspor. Pada kesempatan itu, Bekraf juga akan memfasilitas kelima brand untuk bertemu dengan investor, partner, distributor, hingga konsumen.

Adapun pameran streetwear Agenda Show akan berlangsung selama 28 -30 Juni 2018. Agenda Show merupakan pameran fesyen khusus kategori streetwear, action sport, denim, footwear, surfing dan skate. Sejak digelar pada 2003 lalu, pameran ini sudah dihadiri oleh lebih dari 10 ribu pengunjung dari berbagai negara di antaranya buyers, media, distributor dan influencers.

Graphic Designer and Photographer Oldblue Co Aryo Wicaksono mengatakan, perusahannya akan memperkenalkan produk anyar yaitu sepatu dan tas melalui ajang pameran tersebut. Dengan begitu, pangsa pasarnya akan lebih luas.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
Video Pilihan

Artikel Terkait