Umur 21 Tahun, Natanael Sukses Kembangkan 36 Cabang Bananugget

Menjadi tren di media sosial, satu cabang waralaba Bananugget kini bernilai Rp 60 juta.
Desy Setyowati
9 Juni 2018, 07:00
Bananugget
Instagram/@bananugget_jkt
Bananugget

Olahan pisang goreng dibalut tepung panir layaknya nugget dan diberi topping aneka rasa, kini tengah menjadi tren kuliner di media sosial. Salah satu pelopornya adalah Bananugget. Namun, siapa sangka pemilik waralaba dengan 36 cabang ini baru berumur 21 tahun?

Natanael Winata mendirikan Bananugget sejak Juli 2017, saat dirinya masih kuliah semester 3 di Universitas Kristen Duta Wacana. Kini, Bananugget sudah memiliki 36 cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), DI Yogyakarta, Semarang, dan Cirebon.

"Ada 20 lebih franchise, sisanya cabang sendiri," ujar dia saat acara Lokakarya STalks di Jakarta, Selasa (5/6) sore.

Ia pun berbagi tips berbisnis dengan model franchise. Di awal usaha, ia memberi harga murah kepada franchise. Lalu ia fokus berkampanye di Instagram melalui akun @bananugget-jkt, agar produknya ini menjadi tren. Untuk memperluas jangkauan ke konsumen, Bananugget juga menjadi mitra jasa pesan antar makanan milik Go-Jek yakni Go-Food dan GrabFood besutan Grab.

Advertisement

Setelah bisnisnya berkembang dan banyak dilirik pemodal, tarifnya ia naikkan. Kini, ia membanderol tarif Rp 60 juta per franchise

(Baca juga: Berkah Go-Food bagi Pisang Goreng Bu Nanik)

Berkaca dari bisnis-bisnis lainnya, ia tak ingin usahanya mati karena jarak cabang ataupun franchise yang terlalu berdekatan. Ia pun menerapkan kebijakan, jarak antar franchise atau cabang Bananugget minimal 6 kilometer. Ia kini tak lagi menerima franchise di Jabodetabek, karena jumlahnya sudah terlalu banyak.

Sejalan dengan tren yang makin berkembang, ia mengakui persaingan bisnis nugget pisang pun makin ketat. Bahkan, ada yang terang-terangan menjual produk dengan gambar Bananugget tanpa izin.

Agar tak ditinggal pelanggan, Natanael pun gencar berinovasi dengan menambah varian topping. Saat ini, ia menyediakan topping berupa tiramisu, matcha, coklat, biskuit marie, milo, nutella, keju, crunch, chocomaltine, dan lainnya.

Selain itu, ia juga menjamin bahan baku pisang yang digunakannya. Ia datang langsung ke beberapa daerah untuk memastikan cabang atau waralaba Bananugget di wilayah tersebut mendapat pasokan pisang dengan mutu seragam.

Ia percaya, menjaga kualitas pisang akan membuat konsumen setia. "Kompetitor boleh tiru tampilan kami. Tapi rasa pasti beda," kata Natanael.

(Baca juga: Lewat Internet, Eatlah Populerkan Aneka Menu Bersaus Telur Asin)

Urusan pisang memang menjadi salah satu tantangan utama bisnis Bananugget. Sebab, buah pisang yang baik pun mudah busuk. Untuk menyiasatinya, Natanael aktif memantau pesanan harian di tiap gerai untuk menyesuaikan dengan banyaknya pisang yang dipasok. Saat pesanan sepi, kiriman pisang pun dikurangi.

Selain itu, ia juga menghadapi persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan bahan baku yang sama, tukang masak yang kurang ahli akan membuat produk yang tak sesuai standar.

Karena itu, ia rajin betul memantau komentar pelanggan yang disampaikan langsung, atau melalui media sosial. Dari situ, ia bisa mengetahui cabang mana yang kualitasnya menurun. Lalu, ia akan memberi arahan kepada pegawai agar kualitas produknya diperbaiki. Memulai bisnis hanya dengan 5 pegawai, kini Bananugget telah memiliki 60 pegawai, di luar mereka yang bekerja di bawah jaringan waralabanya.

Natanael memang terbiasa bekerja dari usia muda. Sebelum membuka Bananugget, ia pernah bekerja di sebuah gerai martabak. Terinspirasi oleh bosnya yang kala itu juga masih berstatus mahasiswa, Natanael pun nekat membuka usaha sendiri.

(Baca juga: Chillibags Siap Perkenalkan Cita Rasa Sambal Nusantara ke Dunia)

Usaha pisang goreng dengan tampilan kekinian Bananugget dirintisnya dengan dua rekannya, yakni Khendy Zhou dan Natasha Suharto. Gerai pertama mereka buka di Taman Palem, Cengkareng. "Saat itu modalnya Rp 20 juta. Kami patungan," ujarnya.

Saat baru berdiri, omzet harian bananugget bisa mencapai Rp 5- 8 juta per cabang. Namun, karena bermunculan usaha sejenis seperti BanaBite dan BanaCreamy, omsetnya kini turun menjadi Rp 1- 3 juta per hari per cabang.

Ke depan, Natanael berencana membuka satu toko besar seperti kafe Bananugget. Di kafe itu, ia ingin menyediakan lebih banyak produk mulai dari minuman, makanan ringan, hingga berat. "Kami sedang cari investor, karena itu butuh dana besar sekali," ujar Natanael.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait