Di Depan Nelayan, Jokowi Puji Susi dan Bela Aturan Larangan Cantrang

Jokowi juga memuji ketegasan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam menenggelamkan Kapal asing pencuri ikan.
Ameidyo Daud Nasution
8 Mei 2018, 20:11
Jokowi Susi
Sekretariat Kabinet

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa larangan penggunaan cantrang bukan untuk menyulitkan nelayan. Menurut Presiden, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dilakukan justru untuk keberlangsungan hidup nelayan.

Pernyataan ini dikatakan Jokowi saat menerima perwakilan nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5).

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut meminta para nelayan hanya satu atau dua tahun ke depan saja menggunakan cantrang. "Para nelayan harus membaca arah ke depan bahwa ini untuk nelayan sendiri," kata Jokowi dalam keterangan Sekretariat Presiden, Selasa (8/5).

(Baca juga: Kompromi Susi, Pemerintah Kembali Tunda Larangan Cantrang)

Advertisement

Jokowi menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Pangandaran beberapa waktu lalu. Di sana, beberapa nelayan menyatakan bahwa beberapa jenis ikan, seperti kakap putih sudah sulit ditemui. "Ini yang harus dikembalikan, agar ikan-ikan itu kembali," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia juga memperkenalkan metode penangkapan ikan paling anyar yakni Kerampa Jaring Apung (KJA). Teknologi ini disebutnya lebih mahal, namun relatif modern dan dapat memproduksi ikan 816 ton setiap tahun. "Memang mahal, tapi kalau nelayan bergabung dan membentuk koperasi besar mengapa tidak," kata Jokowi.

Selain itu Jokowi sempat memuji Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang membuat takut kapal pencuri ikan masuk ke perairan Indonesia. Jokowi bahkan sempat menyebut dalam 3,5 tahun, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menenggelamkan 363 kapal asing. "Sudah tidak berani masuk, ada satu, dua, tiga masuk tapi ditangkap Ibu Susi, ditenggelamkan," ujar Jokowi.

(Baca juga: BPK Nilai Larangan Kapal Cantrang Tidak Efektif)

Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait