Pemerintah Dorong Penerapan Paten Bahan Baku Farmasi

Pemanfaatan paten dalam industri farmasi dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekspor ke India.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
11 Oktober 2017, 14:18
Farmasi KATADATA | Agung Samosir
Farmasi KATADATA | Agung Samosir
Farmasi KATADATA | Agung Samosir

Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani Madrid Protocol. Perjanjian ini bakal memberikan akses bagi bahan baku lokal untuk menjadi hak paten nasional. Pemanfaatannya akan digunakan pemerintah untuk mendorong ekspor produk farmasi ke India.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyatakan Indonesia telah berencana untuk menjalin kerja sama di bidang farmasi, namun butuh penguatan dalam sektor bahan baku. "Penandatanganan Madrid Protocol implikasinya kepada bahan baku obat, misalnya kunyit adalah milik Indonesia,” kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/10).

Bahan baku milik Indonesia bakal diakui di dunia internasional sehingga bisa berpartisipasi dalam pengembangan dan penelitian kerja sama internasional. Hak paten akan memicu pengembangan ekonomi dengan dasar properti intelektual.

Namun, Airlangga mengakui kerja sama dengan India dalam bidang industri farmasi saat ini masih belum kuat, penetrasi produk farmasi kedua negara juga belum tinggi. Oleh karena itu, dia mengaku akan menggunakan jumlah penduduk Indonesia sebagai daya jual. "Dari volume, kita kan punya kemampuan asuransi kesehatan yang luas," ujarnya.

Selain dari sisi produksi, Indonesia juga memerlukan bahan baku obat yang selama ini mayoritas dipasok dari Tiongkok dan India. Dengan peningkatan kerja sama di sektor ini, Indonesia berharap dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor.

Akhir tahun lalu, Presiden Jokowi bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, India. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang farmasi, teknologi informasi, dan otomotif.

Kedua pihak memiliki visi yang sama untuk membangun industri yang berdaya saing di pasar global. "Hubungan diplomatik Indonesia dan India telah terjalin lebih dari 60 tahun. Kemitraan bilateral ini akan diperkuat melalui kerja sama di bidang investasi dan perdagangan," kata Airlangga.

Pada kesempatan tersebut, beberapa poin yang disampaikan Airlangga terkait kerja sama industri farmasi. Di antaranya, pemerintah India diharapkan dapat mengirimkan kelompok kerja untuk membantu memetakan kebutuhan industri farmasi di Indonesia. “Kami juga mendorong adanya pertukaran expert dan penguatan pelatihan vokasi antara Indonesia dengan India khususnya di industri farmasi,” tuturnya.

Neraca perdagangan kedua negara mencapai sekitar US$ 13 juta pada 2016. Nilai investasi India di Indonesia berada di kisaran US$ 15 juta, terutama dalam infrastruktur, energi, tekstil, baja, dan produk konsumen. Kerja sama di bidang farmasi bakal meningkatkan potensi nilai investasi mencapai 25%.

Reporter: Michael Reily
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait