Dua Pekan HET Berlaku, Harga Beras Masih Terus Naik

Sementara Kementerian Perdagangan justru menunda evaluasi kebijakan tersebut.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
14 September 2017, 13:44
Kejar Target Produksi Gabah
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Buruh tani membawa gabah usai panen di salah satu kawasan lumbung padi di Desa Paron, Ngawi, Jawa Timur, Jumat (10/3).

Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras (HET) telah berjalan selama dua pekan sejak 1 September 2017. Kenyataannya, harga di pasaran masih cenderung meningkat. Sementara Kementerian Perdagangan justru menunda evaluasi kebijakan tersebut.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan, harga beras medium di Jawa Timur, Jawa Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah  harganya naik dibandingkan pekan lalu.

Sementara di wilayah lain seperti Yogyakarta, Banten, Sumatera Selatan, hingga Papua, meski harga terpantau stabil, namun tetap di atas HET yang berlaku. Hal ini diakui oleh Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso.

Mantan Direktur Utama Perum Bulog ini menyatakan bahwa harga beras sedang tinggi. Sebab, rata-rata harga gabah di tingkat petani sudah lebih dari Rp 5 ribu per kilogram. “Ada kekeringan dan hama wereng yang membuat harga naik,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (14/9).

Ia menyebut, harga beras medium di pasaran akan mencapai harga yang diharapkan oleh pemerintah, jika harga gabah di tingkat petani masih Rp 4.600 per kilogram. "Memang untuk yang medium masih bermasalah karena harganya tidak masuk," ujarnya.

Sutarto berharap pemerintah segera menentukan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah beras. Menurutnya, dua alternatif yang dapat diambil adalah dengan mempercepat panen atau penetapan ulang HET.

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi. Menurutnya, tren kenaikan harga beras di Jakarta sudah tampak sejak akhir bulan lalu, dan tidak menunjukkan pelambatan setelah HET berlaku.

Dia mencontohkan, beras medium kualitas rendah jenis IR64-3 naik dari Rp 8.300 per kilogram menjadi Rp 9.075 per kilogram. Sementara beras medium dengan kualitas yang lebih baik seperti IR64-2 dan IR64-1 sudah mencapai Rp 10.495 dan Rp 11.333 per kilogram. "Harga beras naik hingga 10% dibandingkan bulan lalu," ujar Arief.

Melihat tren harga beras yang terus merangkak naik, Arief pun mengusulkan operasi pasar. Sebagai Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), permohonan itu telah disampaikannya melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk diteruskan kepada Menteri Perdagangan agar dibuat operasi pasar.  

Dia menjelaskan, stok beras di PIBC tetap berada di atas 46 ribu ton. Sementara, operasi pasar di Jakarta, menurutnya membutuhkan 75 ribu ton cadangan beras pemerintah dan beras komersial Bulog.

Sementara, kementerian Perdagangan justru menunda evaluasi kebijakan HET yang semula direncanakan pada pekan ini. "Minggu depan akan kami cek," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Rabu (13/9) kemarin.

Grafik: 10 Provinsi dengan Harga Beras Medium II Tertinggi per 31 Agt 2017
10 Provinsi dengan Harga Beras Medium II Tertinggi per 31 Agt 2017

Sebelumnya, pemerintah telah menggolongkan beras dalam tiga kategori yakni beras medium, beras premium dan beras khusus. Sementara HET beras medium dan premium diatur, harga beras khusus dibebaskan sesuai mekanisme pasar.

HET beras medium dan beras premium pun dibedakan sesuai wilayah. Di Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, HET beras medium dan premium ditetapkan sebesar Rp 9.450 dan Rp 12.800. Untuk harga eceran per kilogram di wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera sebesar Rp 9.950 dan Rp 13.300 sedangkan Papua dan Maluku sebesar Rp 10.250 dan Rp 13.600.

Reporter: Michael Reily, Pingit Aria
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait