Pemerintah Sebar Benih Ikan Senilai Rp 2,65 Miliar di Sukabumi

Minapadi adalah pengembangan budidaya padi dan ikan dalam satu lahan. Indonesia memiliki potensi lahan minapadi sebesar 4,9 juta hektare.
Michael Reily
11 September 2017, 11:52
Peternak Lele
ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Warga memanen ikan lele di Surabaya, Minggu (22/1). Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan bibit dan peralatan ternak lele untuk pondok-pondok pesantren.

Pemerintah mengembangkan proyek minapadi sekaligus budidaya lele sistem bioflok di Sukabumi, Jawa Barat. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penyebaran benih ikan nila dan ikan lele Senilai Rp 2,65 miliar di sana.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyatakan penyebaran benih ikan minapadi di Desa Cikurutug, Sukabumi adalah salah satu cara usaha pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan.

Minapadi adalah pengembangan budidaya padi dan ikan dalam satu lahan sehingga memberikan manfaat ganda untuk petani. "Diharapkan dengan percontohan ini masyarakat dapat mengetahui berbagai keuntungan dan dapat mengembangkannya di lahan sawah masing-masing," kata Slamet dalam keterangan resminya dari Sukabumi, Senin (11/9).

(Baca juga: Pemerintah akan Bangun dan Benahi Kampung Nelayan)

Penyerahan bantuan percontohan minapadi dilakukan di lahan seluas 50 hektare dengan nilai Rp 1,65 miliar. Selain itu, pemerintah juga menyerahkan lima paket budidaya sistem lele bioflok senilai Rp 1 miliar.

Menurut data KKP, Indonesia memiliki potensi lahan minapadi sebesar 4,9 juta hektare. Namun, pemanfaatannya baru mencapai 128 ribu hektare atau 2,6% dari total lahan.

Tercatat, sentra minapadi sudah tersebar 8.770 hektare di Sumatera Utara, 14.575 hektare di Sumatera Selatan, 31.753 hektare di Jawa Barat, 6.176 hektare di Jawa Tengah, 25.654 hektare di Jawa Timur, 12.962 hektare di Sulawesi Selatan, dan 5.038 hektare di Sulawesi Tenggara.

Grafik: Produksi Budidaya Ikan, Udang dan Kekerangan 2011-2015
Produksi Budidaya Ikan, Udang dan Kekerangan 2011-2015

Slamet mengungkapkan, optimalisasi lahan minapadi dapat meningkatkan produksi padi sebanyak 68 juta ton dan ikan sebesar 9,8 juta ton per tahun. Sehingga pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat dapat terdongkrak signifikan.

Program minapadi dan lele bioflok dilakukan KKP dengan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. "Diharapkan dalam satu lahan tidak hanya dikembangkan satu jenis komoditas saja tetapi multikomoditas sehingga produktivitas lahan meningkat," kata Slamet.

Kepala Staf Presiden Teten Masduki juga ikut hadir dalam kegiatan di Sukabumi. Menurut dia, Presiden Jokowi selalu mengingatkan pentingnya budidaya ikan. Alasannya, Norwegia mendapatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari ikan salmon sebesar 60%.

(Baca juga:  Kejar Target Ekspor Ikan, KKP Lobi Jepang Bebaskan Bea Masuk)

"Berkaca dari Norwegia, Presiden Jokowi yakin bahwa Indonesia pun mampu melakukan hal serupa karena memiliki potensi besar baik untuk budidaya laut maupun air tawar," ujar Teten.

Budidaya minapadi memiliki beberapa keuntungan besar. Pertama, meningkatkan produksi padi dari 5-6 ton menjadi 8-10 ton per hektare. Penggunaan 20% lahan untuk budidaya ikan dapat memicu produktivitas padi karena kotoran ikan dapat digunakan sebagai pupuk.

Kedua, petani mampu mendapatkan tambahan pendapatan sebesar 50-60 juta hektare, ikan nila sebesar Rp 15-17 juta per hektare, dan ikan lele Rp 10-20 juta per hektare.

Selain itu, padi dapat terhindar dari hama tikus karena genangan air dapat menghambat jalan masuk mereka. Yang juga penting, padi hasil program minapadi memiliki kandungan glukosa lebih rendah sehingga lebih baik untuk dikonsumsi.

Reporter: Michael Reily
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait