Dari 23 Proyek Strategis, Hanya Satu Rute Kereta Rampung Tahun Ini

Rute kereta Prabumulih - Kertapati akan digunakan sebagai pengangkut batu bara dan penumpang.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
4 September 2017, 20:41
Rel kereta api
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan satu Proyek Strategis Nasional di bidang perkeretaapian yang rampung pada tahun ini. Sementara, hingga 2019, ada 11 dari total 23 Proyek Strategis Nasional yang direncanakan beroperasi.

Direktur Prasarana Direktorat Jenderal Perkerataapian Zulfikri mengatakan proyek yang ditargetkan rampung tahun ini adalah rute kereta api Prabumulih - Kertapati sepanjang 85 kilometer.

Zulfikri mengatakan, sebenarnya sejak tahun lalu rute ini telah dioperasikan secara parsial. Setelah 30 kilometer rel tambahan dibangun, rute ini akan dilewati kereta batubara dan penumpang. "Jadi beroperasi full tahun ini," katanya saat pemaparan di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (4/9).

(Baca juga:  Skema Pendanaan LRT Jabodebek Ditargetkan Rampung Akhir 2017)

Sedangkan untuk tahun depan, Kemenhub menargetkan sekurangnya 6 PSN di bidang kereta api selesai pembangunannya. Beberapa proyek tersebut adalah Makassar - Pare-pare, Bandar Tinggi - Kuala Tanjung, kereta Bandara Soekarno Hatta, Kereta Api Akses Bandara Adi Soemarmo (Solo), Light Rail Transit (LRT) Kelapa Gading Velodrome, serta LRT Sumatera Selatan.

Adapun hingga tahun 2019 ada 11 proyek strategis kereta api yang ditargetkan rampung. Di antaranya, jalur Ganda Lintas Selatan Jawa, jalur kereta Rantauprapat - Kota Pinang, Mass Rapid Transit (MRT) North South Tahap I, serta proyek LRT Jakarta Bogor Depok Bekasi.

Sementara jumlah proyek strategis nasional di bidang kereta api ini sebenarnya mencapai 23 proyek. "Tapi memang tidak ada urgensi waktu selesainya," kata Zulfikri.

(Baca juga: Pemerintah Siapkan 2 Rute Kereta Cepat Jakarta-Surabaya)

Meski demikian tidak semua proyek yang ditargetkan selesai tersebut dapat beroperasi dengan penuh. Zulfikri menjelaskan salah satu contohnya adalah rel kereta Makassar - Pare-pare. "Karena topografi jelang Pare-pare terjal, perlu 6 kilometer pembangunan terowongan," katanya.

Sedangkan Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Popik Montanasyah menyatakan, dalam rencana strategis 2015 hinga 2019 harus ada 3.258 kilometer rel terbangun. Namun adanya kesenjangan pembiayaan membuat hal ini sulit untuk dicapai.

"Karena 27 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), 73 persen didanai pihak lain," ujarnya.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait