Menperin Klaim Penurunan Industri Kecil Akibat Ekonomi Global

Ekonom menilai pemerintah seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk mendorong pertumbuhan industri.
Michael Reily
3 Agustus 2017, 15:14
Menteri Perindustriann Airlangga Hartarto
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan melambatnya pertumbuhan industri manufaktur berskala kecil pada triwulan kedua 2017 sebagai sebuah tren global.

"Hampir semua industri di negara berkembang pada kuarter kedua ini turun karena global headwind (angin haluan global)," kata Airlangga usai acara US-Asean Business Council di Jakarta, Kamis (3/8).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur kecil pada triwulan kedua hanya 2,5%. Angka itu menurun dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 6,6%.

(Baca juga: Kuartal II-2017, Pertumbuhan Industri Kecil Anjlok)

Advertisement

Dia menyebutkan, pada kuartal kedua 2017 lalu, pertumbuhan ekonomi di negara industri seperti Tiongkok dan Brazil menurun. Hal itu disebutnya mempengaruhi permintaan impor alat-alat komponen otomotif dan barang galian bukan logam yang dihasilkan oleh industri kecil di Tanah Air.

Dia berharap ekonomi global, terutama industri di Tiongkok, bisa pulih sehingga bisa kembali meningkatkan pertumbuhan industri kecil. "Produk kita sebagian diekspor atau mendukung industri di Tiongkok, ini tentu yang perlu kita perhatikan," jelas Airlangga.

Grafik: Penurunan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulan II 2017 (YoY)
Penurunan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulan II 2017 (YoY)

Dia juga ingin terjadi diversifikasi dalam ekspor sehingga tidak lagi bergantung kepada satu atau dua negara besar. Sehingga, pengaruh ekonomi global tidak terlalu besar kepada Indonesia. Selain itu, menurut Airlangga, pemerintah juga mencoba mendorong daya beli masyarakat supaya bisa meningkat.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengakui, gejala penurunan ekonomi secara global memang terjadi sejak 2014. Namun, dia menyayangkan sikap pemerintah yang selalu menyalahkan tren global.

(Baca: Penjualan Produsen Indomie Turun Akibat Kompetisi Ketat dan Daya Beli)

Bhima menjelaskan banyak kebijakan yang belum efektif sehingga daya saing Indonesia dengan negara lain masih kalah. "Ada peralihan impor dari negara pemasok industri Indonesia ke negara lain," katanya.

Dia menyebutkan India bisa bertahan dari penurunan ekonomi global dan mampu bersaing dari Tiongkok. Oleh karena itu, dia berharap kebijakan pemerintah seperti Paket Kebijakan Ekonomi XV bisa lebih tepat sasaran.

Reporter: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait