JICT Gandeng TPK Koja Operasikan Tanjung Priok Selama Pekerja Mogok

Bea Cukai pun memastikan layanan kepabeanan tetap berjalan.
Pingit Aria
Oleh Pingit Aria
2 Agustus 2017, 10:54
Perluasan Area Terminal Container
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Aktivitas pekerja di area kontainer di Dermaga Utara Terminal I Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (13/3).

Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) akan melakukan mogok kerja pada tanggal 3 -10 Agustus 2017. Namun, pihak manajemen hingga Bea Cukai memastikan operasional di terminal peti kemas ini tetap berjalan.

Direksi JICT dan Manajemen Kerja Sama Operasi (KSO) Terminal Peti Kemas (TPK) Koja telah menandatangani perjanjian untuk menjamin pelayanan bongkar muat  di  JICT, termasuk kegiatan kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Dalam perjanjian yang diteken pada 27 Juli 2017 tersebut, KSO TPK Koja dapat mengoperasikan dermaga utara JICT berikut fasilitas bongkar muatnya sejak 31 Juli 2017 lalu.

“Kerjasama antara JICT dan KSO TPK Koja ini perlu dilakukan mengingat telah terjadi ketidakpastian produktivitas di terminal JICT dalam rentang waktu yang cukup lama,” kata Direktur Utama JICT Gunta Prabawa di Jakarta, Rabu (2/8).

(Baca juga:  Luhut Heran Pekerja JICT Mogok Padahal Gaji Tertinggi Kedua Dunia)

Gunta menambahkan, sebagai terminal peti kemas terbesar yang juga berstatus obyek vital nasional, JICT terus berusaha mendorong agar kelancaran bongkar muat dan arus barang tetap terjaga.

Hal ini sangat penting mengingat arus petikemas melalui pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada saat ini menunjukkan tren peningkatan paska lebaran. “Sebagai salah satu gerbang utama perekonomian nasional, produktivitas Pelabuhan Tanjung Priok harus terjaga untuk mendukung program ekonomi pemerintah Indonesia,” ujarnya.

General Manajer KSO TPK Koja, Ade Hartono menjelaskan, pihaknya siap untuk mendukung kelancaran kegiatan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, dalam hal ini di terminal JICT. Melalui kerjasama ini, KSO TPK Koja juga memastikan bahwa layanan kepada setiap pengguna jasa /pelanggan akan dilakukan sesuai dengan standar layanan yang berlaku.

“Kami juga siap untuk menjamin kelancaran arus barang dan petikemas serta pelayanan bagi pengguna jasa di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok agar kegiatan ekonomi dapat berjalan normal,” ujarnya.

(Baca: KPK Gandeng BPK dan PPATK Usut Kerugian Kontrak JICT Rp 4 Triliun)

Begitu juga Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi memastikan pelayanan kepabeanan dan cukai di Pelabuhan Tanjung Priok tetap dapat berjalan. "Rapat koordinasi sudah dilakukan, intinya pemerintah dalam hal ini Bea dan Cukai tentunya mengutamakan pelayanan," katanya.

Antisipasi yang akan dilakukan Bea dan Cukai adalah dengan menyesuaikan arus barang masuk di Pelabuhan Tanjung Priok saat nantinya aksi mogok kerja dilakukan.  " Kami beroperasi 24 jam,” ujarnya.

Sebelumnya dinyatakan, aksi mogok kerja ini merupakan buntut dari perpanjangan kerja sama pengelolaan dan pengoperasian pelabuhan PT JICT antara PT Pelindo II dengan Hutchison Port Holding. Pekerja menilai kerja sama ini terindikasi merugikan keuangan negara sebesar US$ 360 juta atau sekitar Rp 4,08 triliun.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait