Pemerintah Bawa 21 Perusahaan Berpromosi ke Afrika

Di Konferensi Tingkat Tinggi G20, Presiden Jokowi mendukung kemitraan sejajar dengan Afrika.
Pingit Aria
19 Juli 2017, 17:43
Presiden Jokowi bertemu Presiden Afrika Selatan
ANTARA FOTO/Setpres/Krishadiyanto
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma (kedua kiri) berjalan di depan pasukan kehormatan saat Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/3).

Pemerintah membawa 21 perusahaan Indonesia dalam Misi Dagang Afrika oleh Kementerian Perdagangan yang dilaksanakan pada 20 Juli—26 Juli 2017. Dua negara yang akan dikunjungi adalah Afrika Selatan daan Nigeria.

Perusahaan-perusahaan yang diboyong untuk berpromosi itu bergerak di sektor agrikultur, otomotif, konstruksi, makanan dan minuman, furnitur, produk minyak sawit, kertas, sepatu, tekstil, serta keuangan. Mereka akan menjajaki pasar Afrika lewat forum bisnis, studi banding, serta kunjungan pasar.

“Para pelaku usaha perlu datang dan melihat langsung bagaimana prospek bisnis di Afrika,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Enggar mengatakan, pemerintah tengah mendorong kerja sama bilateral yang seimbang dengan negara-negara Afrika. Hal itu sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo yang dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 mendukung kemitraan sejajar dengan Afrika.

(Baca juga: Neraca Dagang Semester I Surplus US$ 7,6 Miliar, Tertinggi Sejak 2012)

“Bapak Presiden menekankan bahwa untuk membangun bersama Afrika harus dilakukan tanpa merusak Afrika,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, akan memanfaatkan skema imbal dagang (counter trade) bagi produk-produk tertentu yang pengelolaannya masih melibatkan pemerintah. Ia mencontohkan, produk energi (minyak dan gas) dari Afrika yang dapat dibarter dengan produk alutsista, transportasi, dan kelapa sawit Indonesia.

Seperti diketahui, populasi penduduk mencapai lebih dari 60 juta, pasar Afrika dinilai banyak pihak menjanjikan. Selain itu, baik Afrika Selatan maupun Nigeria adalah pintu gerbang untuk mengakses pasar Afrika secara keseluruhan.

Afrika Selatan merupakan negara tujuan ekspor Indonesia ke-32, dan menjadi negara tujuan ekspor pertama di negara Afrika. Total perdagangan kedua negara mencapai lebih dari US$ 1 miliar di tahun 2016 dengan surplus senilai US$ 437 juta bagi Indonesia.

(Baca juga:  Indonesia – Malaysia Akan Bawa Resolusi Sawit Uni Eropa ke WTO)

“Pasar Afrika Selatan merupakan salah satu target dan tujuan utama ekspor Indonesia yang diharapkan meningkat ke depannya,” kata Enggar.

Produk ekspor Indonesia ke Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, otomotif produk, bahan kimia, sepatu, dan kakao. Sementara produk impor Indonesia dari Afrika Selatan adalah bubuk kayu, alumunium, buah-buahan, dan tembaga.

Sementara, Indonesia merupakan negara pemasok ke-18 ke Nigeria atau urutan ke-2 dari ASEAN, setelah Malaysia. Pada 2016, total perdagangan antara kedua negara mencapai US$ 1,6 miliar, dengan nilai ekspor mencapai US$ 310,8 juta dan nilai impor US$ 1,28 miliar.

(Baca juga:  100 Ribu Buruh Terancam PHK, 98 Perusahaan Tawar Upah Minimum)

Defisit bagi Indonesia sebagian besar berasal dari impor minyak dan gas. Meskipun demikian, Indonesia mengalami surplus US$ 302,72 juta pada perdagangan nonmigas.

Produk ekspor nonmigas Indonesia ke Nigeria antara lain kertas, kelapa sawit, dan turunannya seperti halnya ekspor utama negara-negara Asia Tenggara ke Afrika yaitu antara lain obat-obatan dan bumbu-bumbu.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait