Grup Modern Garap Bisnis Kesehatan Setelah Menutup 7-Eleven

Perusahaan masih mempunyai bisnis unit medical imaging yang memasok peralatan radiologi ke berbagai rumah sakit dan klinik ternama.
Miftah Ardhian
14 Juli 2017, 14:30
Gerai Sevel
Arief Kamaludin|KATADATA
Gerai Sevel tutup di kawasan Gandaria, Jakarta, (23/06)

Setelah menutup gerai 7-Eleven (Sevel) per 30 Juni 2017 lalu, PT Modern Internasional (Persero) Tbk kini fokus mengembangkan  lini usahanya yang lain. Salah satu sektor yang kini jadi prioritas adalah bisnis jasa kesehatan.

Direktur Independen Modern Internasional Julius Williady optimistis sektor kesehatan masyarakat terus akan meningkat. Punya akar bisnis di bidang optic dan fotografi, Modern Internasional kini juga memasok peralatan radiologi di klinik dan rumah sakit terkemuka.

"Ada Siloam dan Prodia salah satu loyal customer kami, Pramita juga," kata Julius dalam public expose di kantornya, Matraman, Jakarta, Jumat (14/7). Selain itu, pihak Modern juga mengejar rumah sakit besar lain seperti Mitra Kemayoran.

Saat ini, perusahaan masih mempunyai bisnis unit Medical Imaging yang memegang hak distribusi tunggal medical imaging equipment dengan merk Shimadzu dan Dental Imaging Equipment dengan merk Sirona.

(Baca juga: Batal Diakuisisi Charoen, Semua Gerai 7-Eleven Tutup Akhir Bulan Ini)

MDRN juga masih memiliki anak usaha lainnya yakni PT Modern Data Solusi yang memegang hak distribusi tunggal untuk mesin fotocopy RICOH.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Grup Modern akan menyuntik modal kerja dan menghidupkan kembali unit-unit bisnis yang masih berjalan dan memiliki potensi besar di pasar.

“Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat menunjang kinerja operasional perusahaan pascaberhentinya operasional gerai 7-Eleven.”

Grafik: Penjualan per Segmen PT Modern Internasional Tbk (2015-2016)
Penjualan per Segmen PT Modern Internasional Tbk (2015-2016)

Hanya, langkah pertama perseroan adalah melokalisir masalah yang ada di entitas anak PT Modern Sevel Indonesia dengan menyelesaikan kewajiban sesuai regulasi yang berlaku. Kewajiban itu terutama terhadap karyawan, pemerintah, kreditor, dan para pemasok.

(Baca juga:  Berjaya 6 Tahun, Kinerja Perusahaan 7-Eleven Meredup Sejak 2015)

Sebelum memutuskan menutup seluruh gerai 7-eleven, manajemen Modern sejak 2015 menjalankan strategi restrukturisasi dan konsolidasi perusahaan, termasuk mencari investor baru untuk mengembangkan bisnis 7-Eleven. Salah satu transaksi yang diupayakan berupa pengalihan aset kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia, namun gagal karena tak tercapainya kesepakatan.

Kondisi ini ditunjang pula oleh kurangnya dukungan dan kerjasama dari Master Franchisor Seven Eleven Inc. (SEI) yang menetapkan syarat yang memberatkan. Salah satunya adalah dengan hanya memberikan waktu masa berlaku franchise selama 1 tahun bagi investor untuk menyelesaikan segala masalah yang ada. Syarat ini membuat mundur para investor potensial.

Selain itu, Grup Modern juga mengakui terjadi inefisiensi dalam melakukan bisnis 7-Eleven ini. Ekspansi gerai 7-Eleven dinilai dilakukan terlalu cepat di awal, padahal sebagian besar kebutuhan ekspansi tersebut dibiayai oleh pinjaman. Akibatnya kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman mengganggu modal kerja yang dapat digunakan untuk operasi bisnis 7-Eleven.

Kondisi ini diperparah dengan daya beli masyarakat yang melemah sejak tahun 2015 dan terus berkelanjutan di tahun 2016 dan awal 2017.  Gerak 7-eleven makin sempit ketika pemerintah melarang penjualan minuman beralkohol di gerai-gerai minimarket  sejak April 2015.  Aturan ini berdampak pada penjualan snacksehingga penurunan penjualan sangat besar.

Ditambah persaingan bisnis retail khususnya di segmen convenience store semakin lama semakin tinggi dan ketat dengan banyaknya pemain baru. (Baca juga: Nasib Merana Pegawai Hingga Tukang Parkir 7-Eleven Jelang Kebangkrutan)

Reporter: Miftah Ardhian, Michael Reily
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait