Ekspor Nonmigas Cetak Pertumbuhan Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir

India, Amerika Serikat, Filipina, Belanda, dan Pakistan adalah mitra dagang penyumbang surplus terbesar perdagangan Indonesia.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
20 Juni 2017, 13:12
Pelabuhan ekspor
Arief Kamaludin | Katadata
Aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Kinerja ekspor dan impor Indonesia kembali mengalami peningkatan hingga Mei 2017. Tercatat, ekspor Januari-Mei 2017 mencapai US$ 68,3 miliar, meningkat sebesar 19,9 persen dibanding tahun lalu pada periode yang sama.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa peningkatan ekspor yang relatif signifikan menunjukkan mulai membaiknya permintaan produk eskpor Indonesia di pasar dunia.

Kenaikan nilai ekspor pada lima bulan pertama tahun ini didukung oleh bertambahnya ekspor nonmigas sebesar 20,1 persen dan ekspor migas mencapai 18,3 persen. Hasil ini adalah pertumbuhan ekspor Januari-Mei terbaik selama lima tahun terakhir.

"Kinerja ekspor nonmigas di periode Januari-Mei 2017 ini jauh lebih baik dari kinerja ekspor nonmigas lima tahun terakhir (2012-2016) yang selalu tumbuh negatif," kata Enggar seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (20/6).

(Baca juga: Impor Naik, Surplus Neraca Dagang Mei Terendah dalam Setahun)

Pada Januari-Mei 2017, menurut Enggar, ekspor ke beberapa negara mitra dagang menunjukkan kinerja positif. Ekspor nonmigas ke India, Tiongkok, dan Belanda naik signifikan dengan masing-masing pertumbuhan sebesar 61,0 persen, 59,5 persen, dan 39,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lalu, produk yang nilai eskpornya naik tinggi adalah besi dan baja (86,0 persen), karet dan barang dari karet (65,4 persen), batubara (56,5 persen), minyak sawit (49,7 persen), serta kopi, teh, dan rempah-rempah (38,6 persen).

"Peningkatan ekspor yang relatif signifikan tersebut didukung membaiknya kondisi perekonomian dunia dan menguatnya harga komoditas di pasar dunia," kata Enggar.

(Baca juga: Kebutuhan Dolar Kuartal II Melonjak, Rupiah Cenderung Menguat)

Menurut Bank Dunia, perekonomian dunia pada triwulan pertama 2017 semakin membaik sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (2,0 persen), Tiongkok (6,9 persen), Jepang (1,3 persen), dan Uni Eropa (1,9 persen). Sementara itu, rata-rata indeks harga nonenergi internasional periode Januari-Mei 2017 naik 8,9 persen dibanding periode  yang sama tahun lalu.

Selain itu, pada sisi impor tercatat pada Mei 2017 nilainya mencapai US$ 13,8 miliar. Angka tersebut naik secara bulanan sebesar 15,6 persen dibandingkan April 2017 dan tumbuh 24,03 persen dibandingkan dengan periode Januari-Mei 2016.

Peningkatan impor bahan baku penolong dan barang modal di bulan-bulan pertama tahun ini menunjukkan sinyal positif terjadinya pertumbuhan industri domestik dan meningkatnya daya beli konsumen saat Lebaran. "Peningkatan impor barang konsumsi merupakan antisipasi terhadap lonjakan permintaan selama bulan puasa hingga Lebaran," kata Enggar.

(Baca juga:  Gubernur BI Isyaratkan Ekonomi Kuartal II Tumbuh Tak Sesuai Harapan)

Tercatat, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,9 miliar pada Januari-Mei 2017. "Hampir dua kali lipat dibandingkan surplus Januari-Mei 2016," kata Enggar lagi.

India, Amerika Serikat, Filipina, Belanda, dan Pakistan adalah mitra dagang penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar hingga Mei 2017 yang nilainya mencapai US$ 12,6 miliar.

Di sisi lain, Tiongkok, Thailand, Australia, Korea Selatan, dan Argentina merupakan mitra dagang penyebab defisit terbesar yang nilainya sebesar US$ 9,7 miliar.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait