Stok di Pasar Cipinang Berlebih, Harga Beras Turun Sumbang Deflasi

Hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan izin impor bahan pangan.
Pingit Aria
Oleh Pingit Aria
19 Juni 2017, 09:51
Beras
Agung Samosir|KATADATA

Hingga delapan hari (H-8) menjelang Lebaran, stok beras di PT Food Station Tjipinang Jaya, Pasar Induk Beras Cipinang mencapai 39.767 ton. Jumlah ini berada di level aman stok beras, yaitu di atas 30 ribu ton.

Hal itu terungkap dari kunjungan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Sabtu (17/6) lalu.

“Stok beras di DKI Jakarta dan seluruh Indonesia dipastikan aman. Ini hasil kerja sama yang luar biasa dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," kata Enggar melalui siaran persnya.

(Baca juga:  Harga Pangan yang Tak Lagi Meroket Menjelang Lebaran)

Tak hanya stoknya yang melimpah, harga beras pun dipastikan stabil. Menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga beras medium Nasional di kisaran Rp 11.050 – 11.300 per kilogram. Sementara Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan menyebut harga rata-rata beras medium Nasional sekitar Rp 10.600 per kilogram.

"Beras medium saat ini deflasi 0,06 persen,” ujar Enggar.

Selain beras, stok gula pasir dan minyak goreng juga tercatat dalam jumlah aman, masing-masing yaitu 432 ton dan 442 ribu liter.

Grafik: Perubahan Harga Bahan Pokok 16 Mei-16 Juni 2017
Perubahan Harga Bahan Pokok 16 Mei-16 Juni 2017

Enggar juga menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan izin impor bahan pangan. "Kementerian Perdagangan tidak mengeluarkan izin impor hingga saat ini, sebaliknya terus mendorong penyerapan produksi dalam negeri," ujar.

Dengan demikian, kata Enggar, diharapkan tidak akan ada gejolak dalam beberapa hari terakhir. Hasil pantauan menunjukkan cadangan beras saat ini di atas rata-rata. Sementara itu harga bawang putih dan gula pasir tercatat mengalami penurunan.

(Baca juga:  Tekan Inflasi, BI dan Pemerintah Rilis Aplikasi Pemantau Harga Pangan)

Dengan pola kerja sama yang sinergis antara Kementerian bersama Pemerintah Daerah dan BUMN, maka jika ada laporan gejolak harga, Bulog akan mengisi kekurangan stok dan begitu pula sebaliknya akan menyerap stok apabila berlebih.

Pemerintah juga menurunkan Tim Pemantau Harga dan Pasokan 2017. Tim khusus yang terdiri dari jajaran Kementerian Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Satgas Pangan.

“Mereka diturunkan di 70 kabupaten/kota yang memiliki sejarah volatilitas komoditas pangan yang rawan. Tim ini akan memastikan ketersediaan stok di masing-masing tempat," kata Enggar.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait