Darmin: Konflik Qatar - Arab Tak Berpengaruh ke Ekonomi Indonesia

Darmin juga enggan berspekulasi apakah konflik yang melibatkan negara-negara petrodollar tersebut akan berdampak terhadap harga minyak dunia.
Ameidyo Daud Nasution
6 Juni 2017, 18:54
Qatar Stocks Market
ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer
Pedagang saham memperhatikan layar yang menampilkan informasi saham di Bursa Saham Qatar di Doha, Qatar, Senin (5/6).

Menteri Koordiantor Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini perseteruan Arab Saudi dengan Qatar tak akan berdampak besar pada ekonomi Indonesia. Sebab, dari sisi perekonomian, Indonesia tidak banyak tergantung kepada negara-negara Timur Tengah tersebut.

Indonesia, dikatakan Darmin, lebih tergantung dengan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Eropa, Asia Selatan, hingga Amerika Serikat. "Jadi memang hubungan ekonominya tidak besar," kata Darmin di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/6).

Darmin juga masih enggan berspekulasi apakah konflik antara negara-negara petrodollar ini akan berpengaruh kepada harga minyak serta asumsi terkait yang ada di dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2017 mendatang.

(Baca juga:  Timur Tengah Pecah, Garuda Tampung Penumpang Umrah Qatar Airways)

Darmin menjelaskan perlu juga melihat dinamika dari negara lain seperti Iran. "Jangan terlalu cepat disimpulkan karena perkembangannya," kata Darmin.

Suhu politik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Pemutusan hubungan yang sudah terjalin selama 36 tahun itu karena Qatar dianggap memberi dukungan kepada teroris.

Keputusan tersebut terkait dengan pandangan Qatar yang lebih condong ke Iran. Padahal, Arab Saudi dan Iran bertentangan dalam sejumlah isu regional, termasuk program senjata nuklir. Kedua negara juga berselisih karena Iran menanamkan pengaruhnya di Suriah, Lebanon, serta Yaman.

(Baca juga:  Imbas Kebijakan Trump, Harga Minyak Indonesia Mei Turun 5%)

Pemutusan hubungan diplomatik tersebut juga dilakukan dua pekan setelah Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir mencekal sejumlah kantor berita Qatar karena komentar yang dilontarkan pemimpin atau Emir Qatar, Syekh Tamim Al Hamad Al Thani. Al Thani diberitakan menyebut Iran sebagai “kekuatan Islam”. Ia juga mengkritik kebijakan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.

Pernyataan Emir Qatar itu dilansir oleh kantor berita nasionalnya. Namun, Qatar mengklaim kantor berita tersebut diretas, dan berita itu dibuat oleh para pelaku peretasan.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait