Susi Catat Ekspor Perikanan Bitung Naik Sejak Larangan Transhipment

Dari sisi nilai, produksi pengolahan ikan di Bitung meningkat 25,45 persen dari US$ 72,799 juta pada 2015 jadi US$ 91,325 juta.
Image title
9 Mei 2017, 12:59
Nelayan Bitung
Donang Wahyu|KATADATA
Pasokan tuna Indonesia itu berasal dari Bitung.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan ekspor hasil perikanan dari Pelabuhan Bitung menunjukan tren kenaikan. Hal itu diklaimnya terjadi sejak adanya larangan alih muatan kapal (transshipment).  

“Khusus Kota Bitung kenaikan ekspor hasil perikanan dari 18.952 ton pada 2015 jadi 19.294 ton pada 2016 atau naik 1,8 persen,” katanya dalam Diskusi Publik Merawat Surga Perikanan Bitung yang diselenggarakan oleh Katadata, KBR, dan Jaring di Ayana MidPlaza Jakarta, Selasa (9/5).

Susi melarang alih muatan kapal melalui Peraturan Menteri KKP Nomor 56 dan 57 tahun 2014. Selain transshipment, peraturan tersebut juga menetapkan moratorium untuk kapal asing dan eks-asing menangkap ikan di seluruh perairan Indonesia.

(Baca juga:  Pemerintah Incar Pendapatan dari Kapal yang Berlabuh di Kepri)

Menurut Susi, dengan larangan transshipment, tangkapan nelayan harus dibawa ke tempat pelelangan ikan dulu sebelum dikirim ke luar negeri. Dengan begitu, pencatatan ekspor menjadi lebih transparan.

Toh regulasi ini sempat menuai protes pengusaha karena utilisasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang masih rendah. Menurut Susi, rendahnya utilisasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Bitung boleh jadi disebabkan oleh faktor yang besifat manajerial seperti persoalan pembayaran yang tidak lancar.

Namun, ia memastikan bahwa dari sisi nilai, produksi pengolahan ikan di Bitung meningkat 25,45 persen dari US$ 72,799 juta pada 2015 jadi US$ 91,325 juta.

(Baca juga:  Menteri Susi Anggap Cantrang Pemicu Konflik Horizontal)

Melimpahnya biomassa laut Bitung itu pun menarik para pencuri asing. Setelah penggunaan kapal asing dan eks-asing dilarang, para pencuri ikan pun menggunakan kapal buatan dan berbendera Indonesia dengan Anak Buah kapal (ABK) asing yang beridentitas palsu.

Sebaliknya, Ketua Asosiasi Unit Pengolahan Ikan (AUPI), Bitung, Provinsi Sulawesi Utara Basmi Said mengatakan bahwa kebijakan Susi belum maksimal mendorong industri di Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Bitung.

Ia menyebut, utilisasi produksi 53 Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Bitung hanya 696 ton per hari, atau 49,2 persen dari total kapasitas terpasang (1.414 ton per hari) pada 2016. Angka tersebut anjlok dari utilisasi tahun sebelumnya yang mencapai 57,3 persen.

(Baca juga:  Malaysia Tangkap Kapal Pencuri Harta Karun Buruan Menteri Susi)

Penurunan tersebut berlanjut pada 2015. Total produksi hanya mencapai 251 ton per hari, atau 17,7 persen dari total kapasitas terpasang. Tahun lalu, utilisasi bahkan di level 6,4 persen (90 ton per hari). “Ini titik terendahnya,” kata Basmi. 

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait