Jokowi Minta Bandara Kulonprogo Beroperasi April 2019

Yogyakarta yang minim sumber daya alam harus dapat memaksimalkan industri jasa, termasuk pariwisata. Maka, pemerintah harus memberi kemudahan akses ke obyek-obyek wisata.
Ameidyo Daud Nasution
21 April 2017, 09:50
Pembangunan JJLS Yogjakarta
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Pekerja mengoperasikan alat berat menggarap proyek pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) tahap kedua di Desa Parangtritis, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (16/3). Untuk mempercepat pembangunan JJLS sepanjang 122,3 kilometer yang menghubungkan

Presiden Joko Widodo meminta Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kementerian Perhubungan segera menyelesaikan pembangunan Bandara Kulonprogo. Hal ini agar target pengoperasian bandara tersebut pada April 2019 dapat tercapai.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan penyelesaian bandara ini penting untuk mengembangkan kawasan wisata seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, hingga Karimun Jawa. Nantinya, dengan keberadaan bandara serta jalan tol baru, maka kawasan tersebut dapat terkoneksi dengan baik.

"Jadi Presiden memberi penugasan agar bisa digunakan April 2019," kata Pramono usai rapat terbatas di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (20/4).

(Baca juga: Operasional Tol Cipali Tekan Laba Bisnis Infrastruktur Astra)

Advertisement

Presiden Jokowi dalam rapat juga mengatakan Yogyakarta sebagai provinsi minim sumber daya alam harus dapat memacu sektor jasa serta industri kreatifnya. Salah satu sektor yang dapat diandalkan saat ini adalah pariwisata.

Makanya Jokowi meminta Yogyakarta segera berinvestasi serta menyiapkan sumber daya manusia mumpuni untuk menunjang sektor ini. Apalagi sektor jasa dan industri kreatif dianggap lebih mengandalkan inovasi teknologi. "Selain itu juga harus berinvestasi pada aksesibilitas serta investasi budaya," katanya.

Sedangkan Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan bahwa konektivitas Bandara Kulonprogo menuju Borobudur memiliki beberapa pilihan akses yakni jalur timur, tengah, serta barat. Masalahnya, di kawasan tersebut kontur tanahnya berbukit, sehingga tak mudah untuk membangun jalan raya baru dengan cepat.

(Baca juga: Indonesia Naik Status Jadi Negara Dengan Pembangunan Manusia Tinggi)

"Tapi menurut saya lebih bagus kalau jalur tengah saja yang digunakan karena Borobudurnya berada di (sejajar) tengah," kata Sultan.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait