Cegah Penimbunan, Distributor Wajib Daftarkan Stok Barang di Gudang

Regulasi itu akan diterbitkan dalam bentuk peraturan menteri perdagangan.
Image title
22 Maret 2017, 17:29
Pasar Tradisional
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Perdagangan dalam waktu dekat akan mewajibkan distributor barang kebutuhan pokok untuk mendaftarkan gudang dan jumlah stok barang yang disimpannya. Ketentuan ini akan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan.

Regulasi ini bertujuan agar tidak ada lagi praktik penimbunan barang untuk menaikan harga jual. Kementerian Perdagangan akan menindak tegas para distributor yang kedapatan berlaku curang.

 “Saya mau izin dulu minta melaporkan dulu kepada Pak Menko bahwa kami akan mengeluarkan itu. Sudah saya sampaikan dan kami akan koordinasi, itu isinya adalah agar para distributor mendaftar,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantornya, Rabu (22/3).

(Baca juga:  Jelang Lebaran, Mendag Intensifkan Pantauan Harga Bahan Pokok)

Enggar mengatakan peraturan baru tersebut akan menciptakan transparansi dalam perdagangan. Sehingga, baik pemerintah maupun masyarakat bisa mengetahui dan memantau perkembangan stok barang tersebut. Dengan demikian pemerintah dapat mengeluarkan izin impor atau menutupnya dengan tepat. Ujung-ujungnya, pasokan dan harga barang di masyarakat dapat dijaga stabil.

Di pihak lain, pengusaha diimbau tidak perlu khawatir aturan baru tersebut akan menghambat bisnis mereka. Sebab, Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk menggratiskan dan memudahkan mekanisme pendaftaran stok dan gudang tersebut.

Upaya lain untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok adalah dengan mengoptimalkan peran Bulog. Selain beras, perusahaan pelat merah itu diminta untuk turut mengelola pasokan daging dan gula.

(Baca juga:  Harga Gabah Merosot, Solusi Pemerintah Dinilai Rugikan Bulog)

Semua upaya ini diharapkan dapat menekan kontribusi kenaikan harga bahan pangan terhadap inflasi hingga di bawah 5 persen. Dengan demikian, inflasi 2017 dapat sesuai target yakni 4 sampai 5 persen.

Sementara dalam lima tahun terakhir, inflasi selalu mencapai titik tertinggi saat momen Ramadan, Lebaran, tahun ajaran baru, Natal, dan Tahun Baru. “Kementerian Perdagangan berupaya optimal menjaga tingkat inflasi di bawah 5 persen,” katanya.

Reporter: Muhammad Firman
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait