Harga Gabah Merosot, Solusi Pemerintah Dinilai Rugikan Bulog

Memaksa Bulog membeli gabah basah dinilai akan merugikan perusahaan pelat merah itu. Beras yang dihasilkannya bakal rapuh.
Pingit Aria
13 Maret 2017, 17:00
Kejar Target Produksi Gabah
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Buruh tani membawa gabah usai panen di salah satu kawasan lumbung padi di Desa Paron, Ngawi, Jawa Timur, Jumat (10/3). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berupaya mengejar produksi gabah nasional pada tahun 2017 yang ditargetkan mencapai 78 juta ton

 

Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa menilai merosotnya harga gabah di berbagai daerah adalah akibat kebijakan pemerintah sendiri. Di mana, Kementerian Pertanian menggencarkan penanaman padi secara terus-menerus dengan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari unsur Bintara Pembina Desa (Babinsa).

“Sepanjang tahun lalu kita lihat di berbagai daerah padi ditanam terus menerus tanpa jeda, ini akibatnya,” katanya saat dihubungi, Senin (13/3).

Menurut Dwi, penanaman padi seharusnya memperhitungkan musim. Sehingga, panennya dapat diupayakan saat kemarau di mana petani mudah mengeringkan gabah. “Jika puncak panen terjadi saat musim hujan seperti saat ini, petani dan Bulog akan sama-sama menelan pil pahit,” katanya.

Ia menjelaskan, petani harus segera menjual hasil panennya karena gabah basah yang dibiarkan dalam dua sampai tiga hari akan berkecambah. Sementara, melimpahnya hasil panen akan membuat harga gabah jatuh di mata tengkulak.

(Baca juga: Harga Jatuh, Bulog Diminta Serap Gabah Basah)

Memaksa Bulog memborong gabah basah dengan harga tinggi juga dinilai bukan solusi. Sebab, fasilitas pengering perusahaan pelat merah itu belum memadai. Belum lagi, gudang Bulog dirancang untuk menyimpan beras, bukan gabah.

Sementara menggiling gabah yang belum kering akan membuat beras yang dihasilkannya rapuh. “Pasti patah-patah, ini kurang baik untuk beras Bulog nantinya,” kata Dwi.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Soetarto Alimoeso. Menurutnya, turunnya harga gabah yang terjadi saat ini bisa diantisipasi.

“Tahun lalu ada La nina, tapi September sampai Oktober sudah tanam ya panennya jatuh Februari, waktu musim hujan,” katanya.

Soetarto yang juga mantan Direktur Utama Bulog menilai bahwa membeli gabah basah sama dengan menyimpan beras kualitas rendah. “Risikonya tinggi, seolah mengorbankan Bulog,” katanya.

(Baca juga: Bulog Siapkan Rp 30 Triliun untuk Serap Gabah Petani)

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pekan lalu bekeliling Jawa untuk memastikan gabah petani dapat diserap Bulog dengan harga yang sesuai.

Menurut Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2015, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dengan kadar air 25 persen sebesar Rp 3.700 per kilogram, namun panen raya membuat harga jatuh di berbagai daerah. Belum lagi, curah hujan yang tinggi membuat petani sulit mengeringkan hasil panennya hingga sesuai kualitas yang dipersyaratkan.

Amran pun mengakalinya dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 3 tahun 2017. Dalam peraturan itu batas kadar air gabah yang dapat diserap Bulog dinaikkan dari 25 persen menjadi 30 persen.

Ia melakukan safari untuk memastikan kebijakannya ini berjalan. "Kita banjiri gudang Bulog, target tiga bulan, gudang Bulog sudah penuh terisi dengan harga yang tidak merugikan petani, " ujar Amran dalam siaran pers tertulis, akhir pekan (11/3) lalu.

(Baca juga:  Turunnya Harga Gabah Hambat Laju Inflasi Februari 2017)

Namun di Purworejo, Jawa Tengah dan Cilacap, Jawa Barat, ia masih menemukan harga gabah di tingkat petani dijual pada kisaran Rp 3.000 – 3.200 per kilogram.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait