Indonesia Gaet Kenya untuk Kembangkan Industri Pesawat

Sementara dengan Mauritius, Indonesia ingin bekerja sama di bidang maritim.
Image title
7 Maret 2017, 11:33
Dirgantara Indonesia (PT DI)
Katadata | Arief Kamaludin

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendorong kerja sama dengan negara-negara strategis di Afrika. Di antaranya kerja sama dalam bidang industri pesawat dengan Kenya dan dengan Mauritius dalam bidang maritim.

Dalam pertemuan bilateral dengan Cabinet Secretary for Foreign Affairs and International Trade dari Republik Kenya, Amina C. Mohamed, Retno menyampaikan keinginan Indonesia meningkatkan kerja sama bilateral di bidang industri stategis pesawat terbang.

Ia menyebut, selama ini produk dan layanan industri pesawat terbang Indonesia mendapatkan respons positif di beberapa negara Sub Sahara, terutama Kenya. “Produk dan servis industri strategis Indonesia, seperti pesawat CN235 mendapat apresiasi yang baik,” kata Retno di sela KTT IORA di Jakarta, Senin (6/3) malam.

(Baca juga: Indonesia Tawarkan Investasi di Lima Sektor Industri ke IORA)

Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan kedua negara. Indonesia dan Kenya sepakat untuk membentuk Sidang Komisi Bersama. Sidang Komisi Bersama akan menjadi forum bisnis untuk membahas kerjasama perdagangan antara kedua negara.

Sekedar informasi, total perdagangan bilateral Indonesia dan Kenya pada 2016 mencapai US$ 210,80 juta dan menempatkan Kenya sebagai mitra dagang Indonesia terbesar ke-6 di Afrika Sub-Sahara.

Grafik: Produksi Perikanan Tangkap, Samudera Hindia Sebelah Selatan Jawa Hingga Sebelah Selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu dan Laut Timor Bagian Barat (WPP 573) 2009 - 2013
Produksi Perikanan Tangkap, Samudera Hindia Sebelah Selatan Jawa Hingga Sebelah Selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu dan Laut Timor Bagian Barat (WPP 573) 2009 - 2013

Adapun dengan Mauritius kerja sama yang didorong yakni dalam penerapan teknologi canggih penginderaan jarak jauh industri perikanan. Selain itu, kedua Negara juga membahas rencana kerja sama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara melalui laut.

Sebagai sesama negara Maritim, Mauritius dianggap memiliki kepentingan yang sama untuk memajukan sektor maritim di Samudera Hindia. “Selama ini Mauritius merupakan investor asal Afrika terbesar di Indonesia,” kata Retno usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mauritius Seetanah Lutchmeenaraidoo.

(Baca juga: Jokowi Ingin Perkuat Poros Maritim di Samudera Hindia

Retno mengatakan Mauritius merupakan mitra terpenting di Afrika. Angka investasi Mauritius di Indonesia tahuun 2016 sebesar US$ 576,5 juta pada 250 proyek. Nilai ini meningkat 12 kali lipat dari angka tahun 2015 sebesar US$ 30,67.

Ia mendorong Mauritius untuk melakukan diversifikasi investasi di Indonesia. Selain maritim, sektor lain yang ditawarkan yakni infrastruktur, energi, dan pertanian.

Indonesia juga mendorong kerjasama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara, termasuk illegal unreported and unregulated fishing (IUUF) atau penangkapan ikan secara ilegal. Retno mengatakan kejahatan di laut termasuk IUUF sangat erat kaitannya dengan kejahatan lintas negara, seperti perbudakan, narkoba, dan penyelundupan senjata.

(Baca juga:  Tak Hanya Ekonomi, IORA Juga Bahas Terorisme di Samudera Hindia)

Kejahatan tersebut dapat mengganggu keamanan dan stabilitas nasional dan kawasan. “Kita harus bekerjasama, termasuk dalam konteks IORA, untuk memberantas semua bentuk gangguan tersebut,” katanya.

Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait