Setelah Raja Salman, Jokowi Akan Terima Kunjungan Presiden Prancis

"Sudah lebih dari 30 tahun Presiden Prancis tidak berkunjung ke Indonesia. Tadi Presiden Joko Widodo menyambut baik rencana kunjungan tersebut."
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
1 Maret 2017, 12:08
jokowi
Arief Kamaludin|KATADATA

Presiden Joko Widodo akan menyambut kehadiran Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi di Jakarta, siang nanti. Setelah kunjungan Sembilan hari itu, pemimpin Negara lain seolah mengantre untuk berkunjung ke Indonesia.

Giliran berikutnya adalah Presiden Prancis Francois Hollande. Holande akan menemui Jokowi pada akhir Maret 2017 mendatang. Menteri Luar Negeri dan Pembangunan Internasional Prancis Jean-Marc Ayrault telah menyampaikan rencana kunjungan itu secara langsung pada Presiden di Istana Merdeka.

"Sudah lebih dari 30 tahun Presiden Prancis tidak berkunjung ke Indonesia. Tadi Presiden Joko Widodo menyambut baik rencana kunjungan tersebut," ujar Retno dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, Selasa (28/2) malam kemarin.

(Baca juga: Hari Pertama, Ada Empat Agenda Raja Salman di Istana Bogor

Dalam pertemuan tersebut Ayrault juga menyampaikan rencana Prancis untuk memperkuat kemitraan dengan Indonesia dalam berbagai hal, utamanya dalam bidang ekonomi, kemaritiman, dan ekonomi kreatif.

Retno menceritakan Indonesia merupakan negara pertama yang dapat lisensi Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) atau Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Bidang Kehutanan dari Uni Eropa. Dengan demikian, hasil industri kayu RI mendapat lampu hijau untuk memasuki pasar Uni Eropa.

"Nantinya kita akan membicarakan hal yang sama namun untuk produk kelapa sawit," kata Retno.

Terkait hal lainnya, Retno menjelaskan peran Indonesia sebagai negara berpenduduk agama Islam terbesar di dunia namun dapat mempertahankan toleransi serta demokrasi juga akan dibahas.

(Baca juga: Investor Arab Saudi Incar Tiga Kawasan Wisata)

Dia menambahkan baik Ayrault maupun Jokowi bersepakat kombinasi soft power dan hard power merupakan langkah paling mujarab dalam menghadapi terorisme. "Kombinasi ini yang disepakati dua pihak," ujar Retno.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait