Tinjau PLTU Mangkrak di Maluku, Jokowi: Harusnya Pakai Panas Bumi

Jokowi berniat untuk mengecek status hukum PLTU tersebut sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Ameidyo Daud Nasution
9 Februari 2017, 20:47
Jokowi
ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Presiden Joko Widodo meninjau sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah Pulau Waai , Tulehu, Maluku Tengah. Pembangunan PLTU berkapasitas 2x15 megawatt itu mangkrak sejak tahun 2014.

Usai meninjau lokasi, Jokowi menilai konsep bahan bakar batu bara yang dipergunakan sudah tidak benar. Ia meminta penggunaan panas bumi sebagai bahan bakar utamanya.

(Baca juga: PLN Targetkan Seluruh Daerah Teraliri Listrik pada 2024)

“Potensi Tulehu itu panas bumi, kalau pakai batu bara sudah tidak benar,” kata Jokowi dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, Kamis (9/2) malam.

Jokowi berniat mengecek status hukum PLTU tersebut sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Apalagi, keberadaan pembangkit listrik ini merupakan permintaan warga Kota Ambon serta Provinsi Maluku yang masih sering mengalami pemadaman. “Sampai tadi pun kita sempat merasakan mati listrik beberapa jam,” kata Jokowi.

Grafik: Kapasitas Pembangkit Terpasang Menurut Jenisnya 2015

Adapaun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan PLTU tersebut seharusnya berdiri sebagai pembangit listrik independen. Mengingat apabila mengandalkan jaringan nasional maka biayanya akan menjadi mahal.

Hal ini, menurutnya memang sesuai dengan karakteristik negara kepulauan. “Tetapi memang sudah mangkrak sejak 2014,” katanya.

(Baca juga: Adaro Targetkan PLTU Tabalong Senilai Rp 7,2 Triliun Beroperasi 2019)

Jonan menjanjikan dirinya akan langsung menanyakan PT PLN (Persero) mengenai kesanggupan untuk melanjutkan proyek ini, “Mengingat setiap pulau harus punya pembangkit sendiri-sendiri,” katanya.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait